[ad_1] Penulis Indonesiana Bergabung Sejak: 4 Agustus 2020 3 jam lalu Sastra Topik Utama Sa’adatud Darain (16) tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya tatkala membawa koper berisi bekalnya menuju Jakarta. Adah, panggilan akrabnya, adalah satu dari tiga santri Kampung Quran Melempo, Desa Obel-Obel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang dinyatakan lolos seleksi beasiswa di Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang. Dibaca : 19 kali Sa’adatud Darain (16) tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya tatkala membawa koper berisi bekalnya menuju Jakarta. Adah, panggilan akrabnya, adalah satu dari tiga santri Kampung Qur’an Melempo, Desa Obel-Obel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang dinyatakan lolos seleksi beasiswa di Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang. Tak lupa, Adah meminta doa restu kepada kedua orang tuanya, Imran dan Usniati. Keduanya juga ikut mengantarkan Adah ke Bandar Udara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid. Sepanjang perjalanan, Adah membayangkan teduhnya Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang. Kehangatan bersama teman-teman seperjuangan. Meski belum…
Humaniora
Meraih Berkah Rezeki di Kala Pandemi – Humaniora
[ad_1] “Semangat itu seperti tim yang berkumpul dalam serikat pekerja. Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih” (Hadits diriwayatkan oleh: Muslim) Imam An-Nawawi -Rahimahullah- dalam khotbahnya ia menulis, “Roh-roh itu saling mengenal karena sesuatu yang Tuhan ciptakan untuk mereka. Karena isi dunia ini hanyalah iman atau kekufuran; mereka yang taat kepada Tuhan Subhanahu Wa Ta’ala akan mudah dihubungkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dari yang memberontak”. Setiap orang akan cinta pada orang yang semisal dengan sifatnya. Kalau generasi millenial sih bilangnya “sefrekuensi”. Ada orang yang baru kenal dan berjumpa beberapa detik yang lalu, tapi mereka seolah-olah pernah bertemu sebelumnya, bahkan seolah sudah berinteraksi sejak lama. Maka hal ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin adanya, bahkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyampaikan hal ini 14 abad yang lalu, dalam haditsnya yang mulia. Seketika…
Jangan Tutupi Bumi yang Luas dengan Daun yang Kecil, Jadilah Manusia Literat – Humaniora
[ad_1] Jangan tutupi bumi yang luas dengan daun yang kecil. Seperti kasus korupsi yang menjerat Bupati Probolinggo dan suaminya. Ada lagi Bupati Banjarnegara, Mantan Mensos yang korupsi bansos, dan baru-baru ini Pak Alex Noerdin saat dinyatakan sebagai tersangka kemarin. Sebelumnya, entah sudah berapa banyak pejabat atau politisi yang dibekuk OTT KPK. Kenapa mereka korupsi, apa mereka tidak punya cukup uang? Itulah yang disebut “daun yang kecil menutupi bumi yang luas”. Kurang bersyukur atas nikmat karunia dan anugerah yang Allah SWT berikan. Terlalu nafsu atas kekuasaan. Terjebak pada gaya hidup dan nafsu kesenangan sesaat di dunia. Salah menggunakan amanah rakyat. Bukan menyejahterakan malah menyesatkan. Manusia yang lupa bersyukur dan lupa arti hidup di duia untuk ke akhirat. Bumi yang luas ditutup daun yang kecil. Manusia sering lupa. Bahwa bumi itu luas, daun itu kecil. Anugerah Allah itu tidak terbatas. Rezeki Allah pasti ada untuk setiap hamba-Nya. Setiap makhluk sudah punya jatah masing-masing….
Suami Wafat, Ustadzah Lil Berharap Bisa Wujudkan Cita-cita Anaknya – Humaniora
[ad_1] Cita-cita mulia lahir dari Rumah Tahfidz Amanah, Kraksaan Probolinggo, yakni Ustadzah Irham Fidrotur Rahmah dan Ustadz Su’udi. Pasangan suami istri itu telah mengajar di Rumah Tahfidz tersebut selama 6 tahun. Impian mereka adalah mendidik anak-anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an. Namun, pada Juli lalu, Ustadz Su’udi wafat karena terdampak Covid-19. Hal tersebut membuat Ustadzah Iil sapaan akrab Ustadzah Irham Fidrotur Rahmah harus membesarkan ketiga anak-anaknya yang masih kecil seorang diri. Duka yang menyelimuti Ustadzah Iil mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Sementara ini Ustadzah Iil tinggal bersama orang tuanya di Desa Karang Duwe, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo. Rumah sederhana yang masih beralaskan tanah dan dinding kayu itu sempat membuat anaknya tidak betah dan ingin kembali ke Rumah Tahfidz. “Sementara saya tinggal bersama orang tua karena masih masa iddah, insyaAllah setelah lahiran mau mengajar lagi di Rumah Tahfidz,” tutur Ustadzah Iil tersenyum. Sejak kecil anak-anak Ustadzah Iil sudah diajarkan Al-Quran. Fardan (12) kelas…
Saat Gaya Hidup Jadi Pilihan Banyak Orang, Taman Bacaan Justru Jadi Jalan Hidup – Humaniora
[ad_1] Faktanya hari ini, banyak orang berlomba dalam gaya hidup. Tapi di saat yang lama, mereka merupakan jalan hidup. Memilih gaya hidup lalu melupakan jaan hidup. Bergaya dalam hidup bukan berjalan untuk hidup. Mungkin banyak yang lupa. Gaya hidup itu pola seseorang dalam mengekspresikan hidup sehari-hari. Bisa berupa aktivitas, minat, dan opininya. Semua gaya hidup itu tentang soal mengelola waktu dan uang. Hingga berujung pada perilaku dan pola konsumsi seseorang. Siapa pun yang memburu dunia semata, di situlah ada gaya hidup. Waktu dari pagi-pagi buta hingga larut malam hanya untuk mengejar uang. Bahkan mengejar pangkat jabatan, popularitas, status, dan kesenangan. Berkobar deras untuk diri sendiri. Berbeda dengan jalan hidup. Karena jalan hidup soal menentukan sikap dalam kehidupan. Soal keberpihakan terhadap jalan kehidupan. Mau jalan yang benar atau yang salah, Jalan hidup kebaikan atau keburukan. Menjadikan hidup yang bermanfaat atau tidak bermanfaat. Waktu dan uang yang dipakai untuk apa? Maslahat atau mudarat….
Senja di Taman Baca, Geliat Energi Anak-anak yang Membaca – Humaniora
[ad_1] Banyak orang melewati senja tanpa makna. Saling melihat tapi tak saling terikat. Saling menatap namun tak saling menetap. Senja yang sebatas senja. Senja yang berlalu melepas siang. Lalu memasuki gelapnya malam. Senja orang-orang biasa. Tapi senja jadi begitu berbeda. Saat anak-anak berlarian dari rumah menuju taman bacaan. Senja yang menemani mereka untuk membaca buku. Sekalipun di bawah sengatan matahari. Senja yang sudi berbagi cerita. Tentang anak-anak kampung di kaki Gunung Salak. Selalu membaca ditemani senja. Senja di taman baca. Senja di taman baca. Senja yang dilalui namun selalu membawa anak-anak kembali ke dunianya. Bermain sambil membaca buku. Bercerita tentang isi bacaan. Senja yang menemani para ibu mengantar dan menunggui anak-anaknya di taman baca. Senja dan taman baca, seperti tidak lagi berjarak. Energi giat membaca ada di senja hari. Di taman bacaan masyarakat Lentera Pustaka. Semangat membaca yang tidak pernah pudar. Tiap Rabu, Jumat dan Minggu, 150-an anak-anak berlalu-lalang di sekitar…
Tip Mengelola Stres saat PPKM yang Terus Diperpanjang – Humaniora
[ad_1] Sejak awal pandemi Covid-19, banyak pemerintah di berbagai negara melakukan lockdown atau pembatasan kegiatan luar ruangan. Di Indonesia, kita mengenalnya dengan istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Berawal pada 11 Januari 2021 di wilayah DKI Jakarta, kini PPKM diberlakukan di banyak wilayah. Terbaru, pemerintah memperpanjang PPKM Jawa Bali hingga 30 Agustus dan Luar Jawa Bali diperpanjang hingga 6 September. Kondisi ini tentu tak mudah bagi masyarakat, karena harus beradaptasi dengan kebiasaan baru dan lebih banyak melakukan kegiatan di rumah. Belum lagi interaksi langsung dengan orang lain sangat berkurang. Sudah bukan rahasia lagi, kalau manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi antar sesamanya. Bukan hanya sebagai kebutuhan saja, berinteraksi dengan orang lain juga dapat mengurangi risiko depresi. Namun, apa jadinya jika kegiatan itu dibatasi karena pandemi? Bagi sebagian orang, berkomunikasi dalam jaringan (daring) bisa menjadi solusi. Tapi, tak semua orang bisa menerima cara berkomunikasi demikian. Dampak buruk dari kondisi ini adalah…
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
