Senja di Taman Baca, Geliat Energi Anak-anak yang Membaca – Humaniora

[ad_1]

Banyak orang melewati senja tanpa makna. Saling melihat tapi tak saling terikat. Saling menatap namun tak saling menetap. Senja yang sebatas senja. Senja yang berlalu melepas siang. Lalu memasuki gelapnya malam. Senja orang-orang biasa.

Tapi senja jadi begitu berbeda. Saat anak-anak berlarian dari rumah menuju taman bacaan. Senja yang menemani mereka untuk membaca buku. Sekalipun di bawah sengatan matahari.  Senja yang sudi berbagi cerita. Tentang anak-anak kampung di kaki Gunung Salak. Selalu membaca ditemani senja. Senja di taman baca.

Senja di taman baca. Senja yang dilalui namun selalu membawa anak-anak kembali ke dunianya. Bermain sambil membaca buku. Bercerita tentang isi bacaan. Senja yang menemani para ibu mengantar dan menunggui anak-anaknya di taman baca. Senja dan taman baca, seperti tidak lagi berjarak.

Energi giat membaca ada di senja hari. Di taman bacaan masyarakat Lentera Pustaka. Semangat membaca yang tidak pernah pudar. Tiap Rabu, Jumat dan Minggu, 150-an anak-anak berlalu-lalang di sekitar taman bacaan. Sebagian dari mereka pun butuh waktu sekitar 20-30 menit berjalan kaki menuju taman bacaan. Panas, hujan, apalagi senja. Mereka tetap membaca di taman baca. Anak-anak dari tiga desa (Sukaluyu-Tamansari-Sukajaya) di kaki Gunung Salak Bogor.

Ada anak difabel yang tetap setara dengan anak-anak lainnya. Ada para Ibu yang mengantar anak sambil memegang membaca. Ada pula anak-anak yang tekun membaca dan melahap 5-10 buku per minggu. Sebagai symbol tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Inilah hasil jerih payah perjuangan taman bacaan. Saat tradisi baca dan budaya literasi telah menggeliat di senja hari. Hingga matahari terbenam memanggil maghrib.

Sementara anak-anak di luar sana. Terus menyerbu gawai dan asyik menonton TV di senja hari. Bermain gim online. Tanpa mau lagi berkutat dengan buku bacaan. Tapi di taman baca, anak-anak yang sebelumnya tidak punya akses bacaan. Kini penuh gairah membaca buku, sekalipun ditemani senja. Sepenuh hati dan membudaya. Persis, seperti senja yang selalu menerima langit apa adanya. Anak-anak yang membaca di senja hari. Ada di kaki Gunung Salak Bogor.

Harus diakui, panorama anak yang membaca buku memang kian langka. Kian sulit ditemui di tempat umum. Apalagi di tempat sepi. Akibat terperosok gaya hidup, terjerembab dalam buaian era digital. Anak-anak membuat “perginya” minat baca. Sementara akses bacaan pun terbatas.

Senja di taman baca. Maka melalui program “Kampung Literasi Sukaluyu” yang dinisiasi Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM, Taman Bacaan Lentera Pustaka pun terus menggenjot praktik baik dan proses ber-literasi. Agar terus berkibar sekalipun di senja hari. Senja yang membaca, di mana pun dan hingga kapan pun.

Memang tidak mudah dan langka. Tapi saat tradisi baca dan budaya literasi telah menggeliat. Hanya ikhtiar dan doa baik yang harus terus dilakukan. Sambil tetap istiqomah merawat taman bacaan. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #ForumTBM #DitPMPK #KampungLiterasiSukaluyu



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »