Berangkat Mondok, Rumah Adah Malah Kebakaran – Humaniora

[ad_1]

Penulis Indonesiana

Bergabung Sejak:
4 Agustus 2020


3 jam lalu

  • Sastra
  • Topik Utama
  • Sa’adatud Darain (16) tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya tatkala membawa koper berisi bekalnya menuju Jakarta. Adah, panggilan akrabnya, adalah satu dari tiga santri Kampung Quran Melempo, Desa Obel-Obel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang dinyatakan lolos seleksi beasiswa di Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang.

    Dibaca : 19 kali

    Sa’adatud Darain (16) tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya tatkala membawa koper berisi bekalnya menuju Jakarta. Adah, panggilan akrabnya, adalah satu dari tiga santri Kampung Qur’an Melempo, Desa Obel-Obel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang dinyatakan lolos seleksi beasiswa di Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang.
    Tak lupa, Adah meminta doa restu kepada kedua orang tuanya, Imran dan Usniati. Keduanya juga ikut mengantarkan Adah ke Bandar Udara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid. 
    Sepanjang perjalanan, Adah membayangkan teduhnya Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang. Kehangatan bersama teman-teman seperjuangan. Meski belum pernah berkunjung ke sana, Adah begitu antusias menunggu waktu dimana ia sampai dan berkenalan dengan santri lainnya.
    Betapa tidak, menghafal Al-Qur’an dan menjadi hafidzah adalah impiannya sejak dulu. Keseriusannya dalam menggapai mimpi itu terlihat ketika Adah mulai menyetorkan hafalannya secara online. 
    Sebab rumahnya yang berada di pelosok, ia kerap kesulitan mendapatkan jaringan seluler. Bahkan, Adah harus berjalan 300 meter ke pantai untuk sekedar mencari jaringan. Terkadang Adah juga harus menunggu hingga berjam-jam untuk menyesuaikan dengan jadwal asatidz yang membimbingnya. Namun, itu semua tidak akan menghalangi mimpinya menjadi penghafal A-Qur’an. 
    Tetapi, di tengah lamunan panjangnya mengenai ‘dunia impian’ Adah dikagetkan oleh sebuah kabar buruk. Ketika itu, mereka telah sampai di bandara. Pada saat yang sama, tetangga Adah mengabarkan melalui handphone bahwa rumahnya mengalami kebakaran.
    Adah, kedua orang tua dan seluruh orang yang saat itu ikut mengantarnya pun terkejut. Pasalnya, rumah ditinggalkan dalam keadaan kosong. Mereka khawatir jika tak ada yang memadamkan api dan membuat seisi rumah habis. 
    Beruntung, tak lama kemudian Adah dan orang tuanya mendapatkan kabar bahwa rumah mereka sudah padam dari kobaran si jago merah. Kebakaran dapat segera diatasi oleh tetangga Adah. Kerusakan pun hanya terjadi di bagian dinding dan pintu.
    “Alhamdulillah, dikabarin lagi kalau rumah nggak banyak yang terbakar, lega, tapi masih sedih,” ujar Adah.
    Dalam kesedihannya, kedua orang tua Adah berusaha menguatkan hatinya. Mereka mengatakan bahwa Adah harus semangat menghafal Al-Qur’an dan bersyukur kebakaran tak menghanguskan seluruh isi rumah.
    Meski air mata masih membasahi matanya, Adah mencoba tegar dan melanjutkan perjalanannya. Ia yakin bahwa kepergiannya ke pulau seberang tak lain adalah untuk membahagiakan orang tua. Sebab, ia ingin sekali memberikan mahkota kepada orang tua di akhirat kelak. 
    “Bismillah, semoga Allah mudahkan langkah kami untuk menghafal Al-Qur’an, jadi hafidz dan hafidzah,” pungkas Adah. []



    [ad_2]

    Sumber Berita

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Translate »