Saat Gaya Hidup Jadi Pilihan Banyak Orang, Taman Bacaan Justru Jadi Jalan Hidup – Humaniora

[ad_1]

Faktanya hari ini, banyak orang berlomba dalam gaya hidup. Tapi di saat yang lama, mereka merupakan jalan hidup. Memilih gaya hidup lalu melupakan jaan hidup. Bergaya dalam hidup bukan berjalan untuk hidup.

Mungkin banyak yang lupa. Gaya hidup itu pola seseorang dalam mengekspresikan hidup sehari-hari. Bisa berupa aktivitas, minat, dan opininya. Semua gaya hidup itu tentang soal mengelola waktu dan uang. Hingga berujung pada perilaku dan pola konsumsi seseorang. Siapa pun yang memburu dunia semata, di situlah ada gaya hidup. Waktu dari pagi-pagi buta hingga larut malam hanya untuk mengejar uang. Bahkan mengejar pangkat jabatan, popularitas, status, dan kesenangan. Berkobar deras untuk diri sendiri.

Berbeda dengan jalan hidup. Karena jalan hidup soal menentukan sikap dalam kehidupan. Soal keberpihakan terhadap jalan kehidupan. Mau jalan yang benar atau yang salah, Jalan hidup kebaikan atau keburukan. Menjadikan hidup yang bermanfaat atau tidak bermanfaat. Waktu dan uang yang dipakai untuk apa? Maslahat atau mudarat. Jalan hidup itu alur yang diambil dan ditentukan oleh individu. Keputusan untuk meraih kehidupan yang baik. Sesuai dengan tujuannya di muka bumi.  Maka jalan hidup dipilih sendiri setiap orang. Apapun kondisinya.

Bila hari ini, ada di antara kita yang gemar bergaya dalam hidup. Lalu tidak pernah selesai dalam menentukan jalan hidup. Bahkan belum kelar menemukan jati dirinya. Bisa jadi itulang orang-orang yang merugi. Karena masih berharap berharap jalan hidupnya di-seting seperti orang lain. Terlalu membandingkan dirinya denan hidup orang lain. Lalu lupa berbuat kebaikan, menebar manfaat bahkan lupa bersyukur. Memilih gaya hidup jadi merugi, sementara jalan hidup jadi ambigu.

Siapakah orang-orang yang merugi dalam hidup?

Yang telah disebutkan, orang-orang yang paling merugi adalah orang-orang yang sia-sia amalannya dalam kehidupan dunia, padahal mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya (Al-Kahfi: 103-104). Bahkan dalam Surat Al Ashr disebutkan bahwa hanya tiga orang yang tidak rugi, yaitu 1) orang yang beriman, 2) orang yang mengerjakan kebajikan, dan 3) orang yang menasehati dalam kebaikan. Jadi di luar itu, termasuk yang kalah. Jadi kamu mau pilih yang mana? Gaya hidup atau way of life.

Jalan hidup, pasti ada hambatan. Karena setiap orang pasti menemui rintangan dalam hidup. Hanya saja hambatan dan rintangan yang dihadapi tidak akan sama setiap orang. Seperti orang berjalan. Ada yang hanya berjalan di batu kerikil, ada yang tersandung batu besar. Ada pula yang berjuang menyeberangi derasnya arus sungai. Maka jalani dan hadapi setiap penggalan hidup. Dan sama sekali tidak perlu membandingkannya dengan orang lain. Semakin banyak gaya hidup pasti semakin bermasalah.

Jadi mau pilih mana, gaya hidup atau jalan hidup?

Tentu, terserah masing-masing. Karena setiap orang bebas memilih. Siapa pun boleh menentukan pilihan. Asal bukan sebatas omongan atau celotehan. Semuanya harus tercermin pada tindakan, pada perbuatan. Berpegang pada gaya hidup atau bersikap untuk jalan hidup.

Seperti banyak orang yang bisa memilih jalan hidupnya. Jadi saya memilih taman baca sebagai gaya hidup. Jalan menuju akhirat sebagai bekal untuk kembali nanti. Sambil menyebarkan kebaikan dan mengukir manfaat bagi orang lain. Sebagai warisan, sebagai warisan bagi rakyat.

Taman bacaan sebagai jalan hidup. Tentu, tidak banyak dipilih orang. Karena “rugi” secara waktu, uang bahkan popularitas. Tapi di taman bacaan, saat mampu menyediakan akses bacaan pasti punya manfaat yang tidak terhitung jumlahnya.  Membangun perilaku giat membaca anak, menekan angka putus sekolah, mencegah pernikahan dini, memberantas buta huruf, memberdayakan ekonomi warga, dan menyanyuni anak-anak yatim serta kaum jompo. Semua bisa dilakukan di taman bacaan. Sebuah ikhtiar baik sebagai praktik baik jalan hidup.

Seperti TBM Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu di kaki Gunung Salak Bogor. Berdiri tahun 2017, awalnya hanya punya 14 anak dengan 600 buku. Tapi kini di September 2021, TBM Lentera Pustaka memiliki lebih dari 16o anak pembaca aktif yang membaca buku seminggu 3 kali dan berasal dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya). Bahkan kini, menjalankan program lainnya seperti: 1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA), 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah), 3) YABI (YAtim BInaan), 4) JOMBI (JOMpo BInaan), 5) TBM Ramah Difabel, 6) KOPERASI LENTERA, 7) DonBuk (Donasi Buku), 8) RABU (RAjin menaBUng), 9) LITDIG (LITerasi DIGital), dan 10) LITFIN (LITerasi FINansial). Semua berjalan apa adanya sebagai jalan hidup. Bukan gaya hidup yang gemerlap di dunia.

Taman bacaan sebagai jalan hidup. Maka jangan ragu untuk menjalaninya. Karena jalan hidup sederhana. Asal mau berbuat dan bermanfaat untuk orang lain dengan sepenuh hati. Bukan sepenuh hati dalam gaya hidup. Salam literasi. #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi #KampungLiterasiSukaluyu



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »