[ad_1] Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami kelainan/penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal baik secara fisik, mental, intelektual, sosial dan emosional. Di masa pandemi ini, anak berkebutuhan khusus menjadi salah satu kelompok yang rentan tertular Covid-19. Sebagai salah satu upaya pencegahan penularan Covid-19 pada anak berkebutuhan khusus, program bina diri dapat dilaksanakan untuk melatih anak merawat diri, mengurus diri, serta menolong diri agar mereka dapat secara mandiri melakukan upaya pencegahan Covid-19. Pelaksanaan program bina diri dilakukan oleh tenaga pendidik dengan kolaborasi bersama keluarga peserta didik untuk membiasakan anak melakukan kegiatan merawat diri dan menolong diri secara mandiri maupun dengan bantuan. Menurut Emil Kurniawan (2012) ruang lingkup program bina diri meliputi komponen merawat diri, mengurus diri menolong diri berkomunikasi, dan adaptasi. Komponen merawat diri meliputi kemampuan makan, minum dan kebersihan. Komponen mengurus diri meliputi kemampuan berpakaian dan berhias. Komponen menolong diri meliputi kemampuan menjaga keselamatan dan mengatasi bahaya. Komponen berkomunikasi meliputi…
Panggilan Hati, Kasim Mangabdikan Diri untuk Petani – Humaniora
[ad_1] Usia semakin senja, tenaga terus berkurang, kulit mulai keriput tapi semangat dan harapan tak pernah surut. Adalah Mohamad Kasim Arifin, seorang pria kelahiran tahun 1938 asal Langsa, Aceh Timur. Usia boleh tak lagi muda, tapi semangat terus membara tak pernah reda termakan masa. Kasim menghibahkan hidupnya untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) selama 15 tahun. Pengembaraan Kasim dimulai 1964, Kasim mendapat penugasan Pengerahan Tenaga Mahasiswa, cikal bakal program yang saat ini lebih dikenal dengan istilah KKN. Kasim dikirim ke Waimital, sebuah desa di Pulau Seram, Maluku, guna mengemban tugas memperkenalkan program Panca Usaha Tani. Larut dalam pengabdian, KKN yang seharusnya hanya dijalani beberapa bulan, Kasim ‘tenggelam’ dalam pengabdian selama 15 tahun di Waimital. Hati nurani Kasim pada akhirnya terketuk untuk mencurahkan semua pengetahuan dan ilmu yang ia dapat selama menimba ilmu di IPB untuk masyarakat setempat. Terlebih setelah dirinya berjumpa dengan sebuah keluarga petani miskin….
