Filosofi Mendoan di Taman Bacaan, Jangan Pintar Menghakimi Orang Lain Tapi Bodoh Menilai Diri Sendiri – Analisa

[ad_1]

Siapa yang tidak kenal tempe mendoan? Ada yang doyan banget. Mungkin ada pula yang tidak doyan. Mendoan, panganan khas dari Purwokerto dan sekitarnya. Terbuat dari tempe dan paling pas untuk menemani kopi atau teh. Apalagi ditambah obrolan ringan tentang taman bacaan. Nikmatnya boleh dibilang tiada tara. Makin ciamik saat tempe mendoan dikunyah bareng sambal kecap atau cabe rawit.

 

Dari prosesnya, mendoan berarti tempe yang dimasak dengan tepung dalam keadaan setengah matang. Apalagi baru digoreng, makannya pun terasa panas-panas sedap. Kenapa setengah matang? Sederhananya, dapat diartikan “selalu berjiwa muda”. Setengah matang kan berarti “siap untuk matang”. Sebagai sinyal, akan pentingnya selalu bersemangat dalam melakukan apapun. Selalu bergairah dan penuh energi dalam melakukan pekerjaan. Sehingga nantinya, dapat memberikan manfaat untuk orang lain. Karya yang dapat dinikmati untuk diri sendiri maupun orang lain.

 

Dari struktur kata ‘mendho,’ adalah ungkapan yang berarti “di antara kata mendhak (ke bawah) dan mendhuwur (ke atas)”. Jadi bermakna “tanggung” yaitu tidak ke bawah tidak ke atas. Mendhoan memang harus tanggung. Karena kalau sampai kering, namanya jadi keripik tempe. Tapi bila terlalu basah namanya jadi oncom. Secara filosofis bermakna, manusia harus berani menata diri dan hati-hati. Jangan sampai terlalu ke atas dan jangan terlalu ke bawah; yang pas-pas saja. Agar tidak terjatuh, tidak terlena dalam kehidupan duniawi.

 

Ada hikmah kehidupan yang bisa dipetik dari “tempe mendoan”. Agar tiap manusia tidak usah terbuai dalam kenikmatan dunia semata. Ada hal lain yang harus berani dilakukan, yaitu berjalan ‘mendhuwur’’ alias ke atas. Selalau ada perjalanan ke atas yang lebih bermanfaat. Bukan pula harus ke bawah (mendhak) hingga terlena dan terjatuh. Saat di atas harus tetap eling atau ingat. Saat di bawah harus tetap berjuang dan ikhtiar lan sabar.

 

Filosofi mendoan inilah yang bisa menginspirasi pegiat literasi atau relawan di taman bacaan. Bahwa hidup bukanhanya sebatas dunia. Tapi harus mampu menebar manfaat untuk orang lain sebagai bekal ke akhirat. Hidup pun bukan pintar menilai dan menghakimi orang lain, lalu tetap bodoh menilai diri sendiri. Harus hati-hati, harus di tengah-tengah saja seperti mendoan.

 

Taman bacan sebagai ikhtiar menegakkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Tent harus dijalankan dengan penuh hati-hati. Agar membaca jadi kegiatan yang menyenangkan bukan membosankan. Bila perlu taman bacaan pun jadi pusat pemberdayaan masyarakat. Untuk segala aktivitas kebaikan dan kemanfaatan.

 

Tentu, mengelola taman bacaan tidak mudah. Tapi seperti filosofi mendoan. Taman bacaan pun harus berjiwa “setengah matang”. Selalu siap untuk menerima tantangan dan cobaan dari mana pun. Agar semangat menebar kebaikan dan kemanfaatan tetap terpelihara dan menjadi tujuan utama. Karena di taman bacaan, siapa pun yang ada di dalamnya harus senang. Harus sepenuh hati dalam mengajak anak-anak membaca untuk masa depannya.

 

Spirit tempe mendoan itulah yang dipraktikkan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sejak didirikan tahun 2017 lalu hanya melayani 14 anak pembaca. Tapi kini, TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Lentera Pustaka telah melayani 160 anak pembaca aktif usia sekolah yang berasal dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya) dengan jam baca 3 kali seminggu. Ada pula program lain seperti 1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf, 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah) yang diikuti 25 anak usia PAUD, 3) YABI (YAtim BInaan) dengan 16 anak yatim, 4) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo, 5) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 6) KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu sebagai koperasi simpan pinjam untuk mengatasi soal rentenir dan utang berbunga tingg, 7) DonBuk (Donasi Buku) untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan, 8) RABU (RAjin menaBUng) semua anak punya celengan, 9) LITDIG (LITerasi DIGital) seminggu sekali setiap anak, dan 10) LITFIN (LITerasi FINansial) setiap bulan sekali. Semua itu dilakukan sebagai ikhtiar menjadikan TBM Lentera Pustaka sebagai sentra pemberdayaan masyarakat. Alhasil, Pendiri TBM Lentera Pustka pun terpilih sebagai “31 Wonderful People tahun 2021” dari Guardian Indonesia dan terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia yang menggelar program “kampung Literasi” tahun 2021 dari Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM.

 

Spirit tempe mendoan pun bisa jadi inspirasi taman bacaan. Untuk mengajarkan alangkah mulia apabila amanat dalam menjalankan kehidupan, manusia tetap menerapkan rasa tanggung jawab tanpa melakukan tindakan endho ataupun menghindar dari realitas. Semuanya harus dihadapi dengan penuh tanggung jawab, termasuk aktivitas sosial di taman bacaan. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #PegiatLiterasi #KampungLiterasiSukaluyu



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »