Petaka di Desa Wonopati – Part 1: Pembunuhan – Fiksi

[ad_1]

Revolusi tidak pernah tebang pilih dalam memilih korban untuk ditumpahkan darahnya. Membalas kematian dengan kematian adalah suatu hal yang wajib. Pembunuhan para petinggi militer oleh Kelompok Merah di Jakarta, ternyata membawa dampak pembalasan yang meluas di seluruh pelosok negeri, tidak terkecuali di Desa Wonopati.

Setiap orang yang dianggap simpatisan atau anggota Kelompok Merah akan diburu, disiksa, lalu dibunuh. Banyak warga yang diwajibkan untuk menjadi sukarelawan dengan dalih bagian dari tugas negara dan agama. Walhasil, kekacauan terjadi di mana-mana dan tidak dapat dihindarkan. Pembantaian membabi-buta di seluruh pelosok negeri.

Orang yang sudah dicap sebagai simpatisan atau anggota dari Kelompok Merah, maka sudah tamat riwayatnya. Mereka semua akan dibantai, tanpa diperiksa kebenarannya terlebih dulu. Apabila ada orang yang berusaha membela mereka yang diduga simpatisan atau anggota dari Kelompok Merah, maka itu sama saja dengan menggali liang kuburnya sendiri, sehingga banyak orang yang memilih untuk bungkam.

Korban terus berjatuhan tiap malamnya. Mayat-mayat dikubur di suatu tempat yang tersembunyi secara massal dan ada juga yang dibuang ke sungai atau jurang. Korbannya sangatlah beragam. Ada yang petani biasa, seorang tentara, penjual toko, hingga seorang ahli spiritual. Tidak terkecuali seorang dukun yang bernama Aki Cokro Ismoyono.

****

Aki Cokro Ismoyono adalah seorang dukun yang berusia 75 tahun dan salah satu sesepuh di Desa Wonopati. Beliau membuka praktek untuk mengobati warga, baik itu penderita penyakit medis atau gaib. Ditambah dengan karakter beliau yang ramah, bijaksana, dan rendah hati telah membuatnya disegani oleh banyak warga. Tidak jarang ada orang yang datang dari luar desa untuk berobat kepadanya.

Beliau tinggal di sebuah rumah yang sederhana – terletak di tepi hutan lebat yang berada di kaki gunung – bersama cucu perempuannya yang masih berusia 14 tahun bernama Santi. Perawakan Santi yang cantik dan manis membuatnya dijuluki kembang desa oleh warga setempat. Lebih-lebih dengan karakternya yang ramah dan suka menolong, membuat banyak pemuda desa yang jatuh hati kepadanya.

Kehidupan Aki Cokro bersama cucunya terlihat seperti kehidupan keluarga yang sempurna, sehingga membuat banyak warga yang bercita-cita ingin memiliki kehidupan seperti mereka. Namun semua lenyap seketika, saat peristiwa kelam datang.

****

Pada satu malam, rumah Aki Cokro diserang oleh sekelompok pemuda – berjumlah tujuh orang – yang merupakan Pemuda Sukarelawan Pembasmi Kelompok Merah. Mereka mendapati Aki Cokro sedang duduk di ruang prakteknya. Lantas mereka langsung menyerang dan menyeretnya ke pekarangan rumah.

“A… ada apa ini?” tanya Aki Cokro.

Kemudian si pemimpin kelompok tersebut yang bernama Herman langsung menginterogasi Aki Cokro.

“Kamu anggota Kelompok Merah?” tanyanya.

“Kelompok Merah? Itu apa?” balas Aki Cokro kebingungan.

Lalu Herman melayangkan pukulan ke wajah Aki Cokro.

“Jangan bohong! Ayo jawab! Kamu anggota Kelompok Merah?”

“Aku benar-benar tidak tahu, Nak.” jawab Aki Cokro sambil merintih kesakitan.

“Kalau begitu, kamu bisa baca syahadat?”

Seketika Aki Cokro mematung. Dia tidak memiliki agama sehingga tidak paham dan tidak bisa baca syahadat. Herman yang melihat itu jadi geram, sehingga dia kembali melayangkan pukulan ke wajahnya. Lalu dia menyuruh kedua temannya – bernama Broto dan Wahyu – untuk mengikat kedua tangan Aki Cokro yang tidak berdaya itu.

Tidak lama kemudian, kedua anggota lainnya – bernama Panji dan Maruf – keluar dari dalam rumah sembari menyeret Santi dengan kasar dan melemparnya ke hadapan Aki Cokro. Dia yang melihat cucunya diperlakukan demikian lantas jadi histeris dan memohon agar mereka tidak menyakitinya, dengan wajah yang berlinang air mata.

“Aku tanya sekali lagi! Kamu bisa baca syahadat?” tanya Herman dengan nada tinggi.

“A… aku bukan seorang muslim, nak. Ta… tapi…” jawabnya terputus akibat mendapat pukulan dari Herman.

“Dasar kafir!” teriak Herman.

Arkian, kedua anggota lainnya – bernama Suparji dan Usman – keluar dari dalam rumah dan menghadap Herman sembari membawa sebuah barang bukti berupa benda-benda bersimbol Kelompok Merah, termasuk buku-buku alirannya, dan langsung membuangnya ke hadapan Aki Cokro. Mereka bersaksi telah menemukannya di ruang praktek.

Aki Cokro yang melihat benda-benda itu langsung terkejut dan menyangkal bahwa itu bukan miliknya. Bahkan Aki Cokro sampai bersumpah bahwa dia tidak pernah mengetahuinya. Namun dia hanya direspon dengan sebuah tinju dari Herman. Santi yang melihat itu langsung menjerit histeris – memohon pada mereka untuk berhenti menyakiti kakeknya – tapi dibalas dengan sebuah tamparan di wajahnya.

“Su… sungguh anak muda. Aku sungguh tidak tahu,” ujar Aki Cokro sambil menahan sakit.

“Bangsat! Mengaku sajalah kalau kau itu anggota Kelompok Merah!” ujar Herman, lalu diikuti anggota lainnya yang mulai menghina dan menganiaya Aki Cokro dengan bengis.

Alhasil, wajah Aki Cokro menjadi lebam; tulang hidungnya terluka, beberapa giginya patah, hingga darah mengalir keluar dari mulut dan hidungnya. Bahkan penganiayaan itu telah membuat tubuh Aki Cokro menggigil menahan sakit dengan kondisi terlentang tidak berdaya di atas tanah.

“Berhenti! Jangan sakiti dia! Dasar biadab kalian!” teriak Santi sambil menangis, sehingga berhasil menghentikan aktivitas mereka semua.

Lalu Herman segera mendekati Santi dan bertanya, “Kamu simpatisan Kelompok Merah?”

“Tidak! Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan!” jawab Santi.

Lantas Herman langsung menamparnya dan sontak Santi memekik;

“Astaghfirullah!”

Seketika semua pemuda itu terdiam kaget setelah mendengar kalimat tersebut.

“Kok kamu bisa sebut ‘astaghfirullah’?” tanya Herman kebingungan.

“Sa… saya seorang muslim, mas,” jawab Santi menahan takut.

“Bohong! Kamu pasti sedang berusaha mengecoh kami!” teriak Usman.

“Dasar Merah! Tidak usah sebut-sebut ‘astagfirullah’ kalau tidak beragama! Kami tidak akan tertipu!” timpal Suparji.

Usman dan Suparji terus memakinya dengan kalimat-kalimat yang menghina sambil menunjuk barang-barang yang mereka temukan di depan Santi.

Kemudian Herman kembali bertanya, “Kalau kamu bukan simpatisan atau anggota Kelompok Merah, dari mana benda haram ini datang?”

“Aku tidak tahu! Sungguh!”

Akibat jawaban itu, Santi kembali mendapat sebuah tamparan di wajahnya yang diikuti oleh kata-kata kutukan. Santi hanya bisa menangis dan ber-istighfar.

Seketika bisikan setan mulai menguasai isi hati dan pikiran para pemuda itu. Lantas mereka langsung melucuti pakaian Santi dan menggagahinya secara bergilir, kemudian menyiksanya secara sadis, lalu membunuhnya, terus memutilasi tubuhnya. Mereka melakukannya di depan mata Aki Cokro, memaksanya untuk menyaksikan cucunya diperlakukan secara keji dan tidak manusiawi. Walhasil, Aki Cokro sudah tidak dapat menahan murkanya, serta menatap semua pemuda itu dengan tajam dan penuh teror mengutuk.

“Kalian… kalian akan membayar semua perbuatan kalian!” ujar Aki Cokro dengan nada mengancam.

Kini suaranya terdengar lebih menakutkan daripada sebelumnya. Walhasil, mereka semua terdiam dan bergidik ngeri.

“Kalian tidak akan pernah bisa lari dari perbuatan kalian!” ujar Aki Cokro penuh amarah, “Ingat itu! Kalian semua akan membayarnya!”

Lantas para pemuda itu segera memukuli dan menendangnya sambil berteriak,

“Diam orang-orang kafir!”

“Sontoloyo! Urusi saja hidupmu!”

“Kutukan merah!”

“Membusuklah di neraka!”

Walakin, Aki Cokro membalasnya dengan tawa lepas yang merindingkan, sehingga merosotkan nyali mereka semua.

“Lihatlah nanti! Kalian akan mati satu persatu dengan cara yang sama seperti kalian memperlakukanku dan cucuku!” ujarnya dengan suara lantang.

Sontak Herman langsung menghunus goloknya dan segera mengayunkan ke leher Aki Cokro sembari berteriak, “Mampus kau bangsat!”

Akhirnya kepala Aki Cokro terpotong dan menggelinding di atas tanah dengan darah yang bersibaran, bagaikan selang bocor sembari mengeluarkan ekspresi murka terkutuk. Semua pemuda yang menyaksikan itu hanya terdiam seribu bahasa, sekaligus mematung sambil melihat kepala Aki Cokro dengan penuh kengerian.

****

Selang beberapa waktu kemudian, para pemuda itu segera mengangkut mayat mereka berdua dan menaruhnya di dek kargo sebuah truk yang menjadi transportasi mereka selama berburu simpatisan dan anggota Kelompok Merah. Sebelum mereka pergi meninggalkan rumah Aki Cokro, para pemuda itu segera mengambil api dari beberapa obor penerang halaman rumah,; lalu membakar rumahnya bersama simbol dan buku-buku aliran Kelompok Merah. Arkian, mereka segera melaju ke arah jurang yang terletak di tenggara desa.

Setibanya di sana – dalam keadaan yang sepi dan gelap – mereka langsung bergegas menurunkan kedua mayat tersebut dan membuangnya ke dalam jurang, selayaknya membuang sampah. Lantas kedua mayat itu menghilang di dalam kegelapan dan meninggalkan sebuah ancaman tak terlihat yang sedang menanti mereka semua.

****



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »