Sang Penjagal (Bagian Dua-Habis) – Fiksi

[ad_1]

Sang komisaris duduk terpekur di sebuah kursi meja kerja pada ruangan berukuran empat kali enam meter. Rasa galau masih menyaput sanubarinya. Pikirannya kacau, sedang didera misteri yang belum terkuak, tentang siapa sesungguhnya sang penjagal. Otaknya jadi mumet, belum mampu memecahkan teka teki identitas pelaku pembunuhan mutilasi, yang belakangan sudah tiga bulan menjadi incaran anak buahnya. Rasa gerah menyelimuti dada dan punggung komisaris. Suhu AC ruangan dengan temperatur enam belas derajat celcius juga tidak mampu mengusir kegerahan itu.

“Tok…tok…tok.” Pintu ruang kerja komisaris diketuk tiga kali. “Silahkan masuk”, sang komisaris memberikan perintah.

Seorang pelayan laki-laki berwajah dingin memasuki ruang komisaris. Postur tubuhnya tinggi kurus. Masih muda. Usianya sekitar hampir tiga puluh tahun. Ia membawa secangkir kopi panas kesukaan komisaris. Sudah jelang satu tahun, anak muda itu bekerja sebagai pelayan sekaligus seorang petugas kebersihan yang khusus untuk ruang kerja komisaris.

“Taruh saja kopi itu di sudut meja,” perintah komisaris.

“Baik, Tuan.” Suara datar dan serak keluar dari mulut anak muda pelayan berwajah dingin itu, sembari matanya menyorot tajam bak mata elang ke arah komisaris yang sedang serius mempelototi foto-foto dari mayat korban pembunuhan mutilasi. Hanya dalam hitungan beberapa menit, pelayan berwajah dingin itu lalu meninggalkan ruangan komisaris.

Sontak mata komisaris tertuju pada secarik kertas yang terlipat tak beraturan, teronggok di atas meja kerjanya. Dibukanya lipatan kertas tersebut. Ada rasa aneh kembali menyergap hati komisaris. Di atas kertas terdapat sederet tulisan tak beraturan yang bertoreh tinta merah. Berbunyi sebuah ancaman “… Anda yang mati Berikutnya Tuan Komisaris…Dari Kapak Merah…Sang Penjagal”

Setelah membaca kata-kata aneh itu, sang komisaris merongoh handphone dari saku bajunya. Ia menekan nomor handphone dokter Asep. Tak ada jawaban. Diulanginya sekali lagi, tetap tidak ada jawaban. Yang tertulis Di handphone komisaris… terputus…, tiba-tiba ada rasa kengerian menyergap hati komisaris. Bergegas ia keluar dari ruang kerjanya dengan napas memburu, berlalu dengan cepat sambil memanggil anak buahnya.

“Brigadir!!!…kawal saya ke ruang laboratorium forensik…!!!

“Siap komandan…!!! tukas sang brigadir sambil menghormat.

***

Ruang laboratorium tampak senyap dan sedikit gelap. Komisaris dengan sangat hati-hati, penuh waspada memasuki ruang kerja dokter Asep. Batinnya terkejut menyaksikan ruang kerja dokter Asep yang tampak berantakan. Tabung-tabung cairan kimia dan botol-botol berisi alkohol berhamburan sana-sini. Kertas-kertas laporan berserakan di lantai laboratorium.

Tiba-tiba batin komisaris bergidik. Rasa ngeri menyusup sampai ke sum-sum tulang. Mata komisaris tertuju pada sosok raga yang terkulai tak bernyawa di atas meja kerja. Batok kepalanya retak. Ia lebih terkejut lagi… mayat itu adalah raga dokter Asep yang terbujur kaku.

“Komandan…!!!” Teriak brigadir. Tiba-tiba mata brigadir jadi nanar. Sebuah pukulan keras menghujam tengkuknya, sang brigadir langsung jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Komisaris jadi terkejut, ia menoleh. Sosok bertopeng dengan suara mendesis menghampirinya. Kapak merah pembawa maut mengayun di atas kepala komisaris. Untung saja tangan kiri komisaris dengan sigap menangkis. Tapi malang, tangan kiri komisaris tersabet tajamnya kapak.

Darah segar mengucur dari tulang hasta komisaris. Tangan kirinya serasa lumpuh. Beruntung tangan kanan komisaris masih sempat mencabut pistol yang terselip di pinggangnya. Belum sempat pelatuk pistol terkokang, sebuah tendangan telak dari sosok bertopeng berhasil melepaskan pistol dari genggaman komisaris. Tendangan berikutnya menghujam ke dada komisaris. Langsung komisaris tersungkur dengan napas masih tersesak. Namun komisaris masih sempat bangun dan berusaha lari keluar lewat ruang pintu ruang laboratorium, kendati dengan napas tersengal.

Darah segar berceceran di lantai keramik laboratorium. Dengan langkah gontai, sang komisaris berhasil loncat dan berlari tertatih-tatih. Tapi nahas bagi komisaris, laki-laki bertopeng tadi melemparkan kapak mautnya, dan berhasil menyangkut di paha kanan komisaris. Darah segar muncrat, komisaris terjatuh tidak berdaya. Tenaganya terkuras habis. Ia tidak bisa bangkit lagi. Untuk menggerakkan kakinya saja, ia sudah lunglai kehabisan tenaga.

Setindak demi setindak sosok bertopeng tadi menghampiri komisaris yang terkulai lemah tak berdaya. Sontak sosok bertopeng mencabut belati yang terselip di balik jubah hitamnya. Belati mengayun, tinggal satu inci saja menghujam ke batang leher sang komisaris. Tiba-tiba…”dor…dor…dor”, suara pistol menyalak. Tiga butir peluru bersarang di kepala sosok bertopeng yang datangnya dari arah belakang. Langsung saja sosok bertopeng itu tersungkur merenggang nyawa.

“Komandan tidak apa-apa?” Brigadir yang telah siuman dari pingsannya lalu berlari menghampiri sang komisaris yang masih terkulai. Pistol brigadir masih panas, baru saja berhasil memuntahkan peluru maut yang menewaskan sosok bertopeng pembunuh berdarah dingin sang penjagal.

“Terima kasih brigadir, kamu telah menyelamatkan nyawa saya,” kata komisaris lirih. Perlahan ia bangkit dan menjambak topeng sang penjagal. Kedua aparat negara itu sangat terkejut. Tersingkaplah siapa sesungguhnya sang penjagal selama ini. Ternyata itu adalah wajah  pelayan laki-laki yang selama ini kerap menyuguhkan kopi panas buat sang komisaris.

AKHIR



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »