[ad_1] Sang komisaris duduk terpekur di sebuah kursi meja kerja pada ruangan berukuran empat kali enam meter. Rasa galau masih menyaput sanubarinya. Pikirannya kacau, sedang didera misteri yang belum terkuak, tentang siapa sesungguhnya sang penjagal. Otaknya jadi mumet, belum mampu memecahkan teka teki identitas pelaku pembunuhan mutilasi, yang belakangan sudah tiga bulan menjadi incaran anak buahnya. Rasa gerah menyelimuti dada dan punggung komisaris. Suhu AC ruangan dengan temperatur enam belas derajat celcius juga tidak mampu mengusir kegerahan itu. “Tok…tok…tok.” Pintu ruang kerja komisaris diketuk tiga kali. “Silahkan masuk”, sang komisaris memberikan perintah. Seorang pelayan laki-laki berwajah dingin memasuki ruang komisaris. Postur tubuhnya tinggi kurus. Masih muda. Usianya sekitar hampir tiga puluh tahun. Ia membawa secangkir kopi panas kesukaan komisaris. Sudah jelang satu tahun, anak muda itu bekerja sebagai pelayan sekaligus seorang petugas kebersihan yang khusus untuk ruang kerja komisaris. “Taruh saja kopi itu di sudut meja,” perintah komisaris. “Baik, Tuan.” Suara…
Sang
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
