Ini adalah cerita tentang teman saya. Setiap Sabtu-Minggu akhir pekan selalu bingung. Mau ngapain? Lalu dia bercerita, jadi orang yang mudah bosan. Utamanya saat hari libur. Apalagi di masa pendemi Covid-19. Kebanyakan WFH, kebanyakan virtual. Giliran hari Sabtu dan Minggu, selalu bingung mau lakukan apa? Seperti Sabtu dan Minggu lalu. Kerja di hari kerja sudah. Kuliah sudah. Lebih banyak terkurung di dalam rumah. Pengen dagang online tidak bisa. Ingin bikin sesuatu, nggak kreatif. Pengen bertanam, takut mati pohonnya. Pengen buka taman bacaan, tidak tahu harus mulai dari mana? Begitulah yang terjadi di sebagian orang. Tiap hari Sabtu-Minggu, tiap akhir pekan. Bingung, mau ngapain? Tiap akhir pekan, tidak tahu mau berbuat apa? Mau ke rumah kawan, lagi musim Covid-19. Mau ke luar kota, ribet harus PCR atau antigen. Mau ke mal, tidak punya uang cukup. Mau buka Instagram, malah jadi bete lihat aktivitas orang lain. Buka facebook, bingung mau menguntit siapa? Mau…
Humaniora
Bro, Kenapa Harus Membaca Buku? Inilah 6 Manfaatnya – Humaniora
[ad_1] Kenapa kamu harus baca? Itu pertanyaan sederhana. Tapi sulit untuk menjawabnya. Mau dijawab sudah baca, tapi nyatanya belum. Bila dijawab belum baca, jadi nggak enak dan malu. Urusan membaca buku dan membaca realitas hidup, memang tidak nggak sesederhana yang diucapkan atau yang dipikirkan. Membaca buku sangat penting. Semua pasti sepakat dan tidak ada yang membantah. Karena membacaadalah sumber informasi apapun. Bertambah wawasan dan pengetahuan karena membaca. Bahkan kata orang bijak, membaca buku tdapat mengubah masa depan dan menambah kecerdasan. Cara berpikir pun bisa berubah karena membaca. Setuju dong. Makanya membaca buku sering disebut membuka jendela dunia. Entah, karena jendela itu tertutp jadi terbuka. Atau karena jendela itu jadi sebab bisa melihat dunia. Ya begitulah. Intinya, membaca buku.Jangan sampai diabaikan. Membaca buku sudah tersingkirkan. Entah di sengaja atau nggak sengaja? Buktinya, banyak orang malah ramai main gawai. Bukan membaca buku. Hebatnya, membaca buku pun tidak kenal usia. Lanjut usia, dewasa, remaja…
Aplikasi Pencari Kitab Ulama Nusantara – Humaniora
[ad_1] Para ulama dan kiai di nusantara selalu banyak menyumbang khazanah kitab-kitab Arab. Meski bukan penutur asli bahasa Arab, karya-karya ulama Indonesia tak kalah mengagumkan dari para ulama Timur Tengah dan sekitarnya. Sebut saja KH Hasyim Asy’ari yang telah menulis sekitar 19 buku dalam hidupnya. Karya KH Hasyim telah diakui banyak orang terutama di Nusantara sendiri. Buku pertamanya, Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim dipakai dan dipelajari di mayoritas pesantren di Indonesia. Selain itu, ada Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama Banten yang pernah belajar di Timur Tengah, dan menjadi Imam Masjid Al-Haram. Syekh Nawawi juga banyak menulis karya. Semua itu terjadi berkat ketekunan mereka dalam mencari ilmu. Di antara pewaris ilmu-ilmu mereka, santri adalah orang yang paling dekat dengan kitab ulama Nusantara. Oleh karena itu, santri secara tidak langsung mengemban amanah agung untuk melestarikan ilmu dalam kitab-kitab mereka. Berbicara tentang karya-karya ulama Nusantara, Ada dua aplikasi yang memuat kitab-kitab ulama kita cukup lengkap. Kedua…
Praktik Baik yang Literat, Itulah Bedanya Pegiat Literasi dan Bupati Kolaka Timur – Humaniora
[ad_1] Kaget nggak sih kamu, tahu-tahu Plt. Bupati Kolaka Timur kena OTT KPK. Dia dicokok akibat transaksi haram berkaitan dengan dana bantuan dari BNPB. Kok bisa, pejabat daerah malah korupsi dan bertindak memperkaya diri? Terus, bagaimana bisa menyejahterakan rakyatnya? Aneh pejabat zaman now. Pejabat yang tidak literat kok jadi makin banyak ya. Entah kenapa? Hari ini, banyak orang pengen hidup bahagia, pengen nyaman. Tapi ikhtiar yang dilakukan tidak baik. Praktik dan perbuatannya buruk sehari-hari. Sehingga berujung nestapa. Bahkan mungkin doa-nya pun kurang baik. Dikasih amanah, bukannya ikhtiar yang baik. Agar bisa jadi ladang amal dan kebaikan. Ehh, justru terbalik. Malah menebar praktik buruk atas nama niat memperkaya diri sendiri. Kongkalikong dengan sejawat untuk hal-hal yang tidak baik. Praktik baik pun sirna. Praktik baik itu penting untuk semua orang. Ikhtiar baik harus diingatkan untuk siapa pun. Mau pejabat. Politis, professional maupun rakyat jelata. Karena perbuatan baik, di mana pun, pasti berujung kebaikan…
Usaha Ibu Suningsih Tak Mengenal Rugi – Humaniora
Ibu Suningsih, muslimah berusia 42 tahun, ibu dari 3 putri yang rela meninggalkan pekerjaan kantor yang nyaman di ibukota Jakarta agar bisa maksimal mendidik anak-anaknya. Hobinya dalam berbisnis sejak usia remaja menjadi alternatif untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi keluarga di kehidupan rumah tangganya sekarang, beliau selalu mencari ide variatif dalam usaha kulinernya. Disamping itu, beliau juga berperan dalam dakwah, terdengar sederhana namun sungguh berarti, yaitu amar makruf nahi mungkar. Memiliki pekerjaan tetap, bagian marketing properti apartemen di Kemang Village sejak tahun 2016, selama 3 tahun. Kala itu, sehari-hari beliau meninggalkan 2 anaknya yang masih kecil diasuh orang tuanya. Ketika hamil anak ketiga, beliau resmi memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor, ia ingin fokus pada urusan rumah tangganya, namun ia tak kehabisan ide untuk kembali berusaha dan bermimpi menjadi pengusaha sukses. Pada akhir tahun 2018 ia mulai merintis usaha bawang goreng, berawal dari saran teman yang suaminya memiliki usaha kupas bawang. Beliau…
Panggilan Hati, Kasim Mangabdikan Diri untuk Petani – Humaniora
[ad_1] Usia semakin senja, tenaga terus berkurang, kulit mulai keriput tapi semangat dan harapan tak pernah surut. Adalah Mohamad Kasim Arifin, seorang pria kelahiran tahun 1938 asal Langsa, Aceh Timur. Usia boleh tak lagi muda, tapi semangat terus membara tak pernah reda termakan masa. Kasim menghibahkan hidupnya untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) selama 15 tahun. Pengembaraan Kasim dimulai 1964, Kasim mendapat penugasan Pengerahan Tenaga Mahasiswa, cikal bakal program yang saat ini lebih dikenal dengan istilah KKN. Kasim dikirim ke Waimital, sebuah desa di Pulau Seram, Maluku, guna mengemban tugas memperkenalkan program Panca Usaha Tani. Larut dalam pengabdian, KKN yang seharusnya hanya dijalani beberapa bulan, Kasim ‘tenggelam’ dalam pengabdian selama 15 tahun di Waimital. Hati nurani Kasim pada akhirnya terketuk untuk mencurahkan semua pengetahuan dan ilmu yang ia dapat selama menimba ilmu di IPB untuk masyarakat setempat. Terlebih setelah dirinya berjumpa dengan sebuah keluarga petani miskin….
Jejak Lumpur Sawah dari Kaki Anak Muda Bernama Beri Tohari – Humaniora
[ad_1] Wajah laki-laki muda berkulit putih itu tertunduk lesu. Suaranya terdengar sedikit sendu dan melemah. “Papah meninggal dunia sewaktu saya masih sekolah. Karena papa sudah meninggal, saya memutuskan cukup lulus SMK saja dan bekerja membantu mama,” ujar Beri Tohari, Jumat siang. Keputusan Beri untuk bekerja ternyata di luar dugaan. Termasuk mama serta saudara-saudaranya. Beri memilih menjadi petani di kampung halamannya, Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Karawang, Jawa Barat. Bukan keputusan yang mudah bagi Beri menentukan pilihan pekerjaan menjadi petani. Apalagi untuk anak muda seusianya. Beri baru berusia 33 tahun. “Jadi petani tidaklah gampang. Apalagi untuk anak-anak muda. Banyak yang memandang remeh, sampai disepelekan. Jadi petani bagi anak muda itu bukanlah pekerjaan yang diinginkan,” ucap Beri. Ikhtiar Beri menjadi petani adalah garis perjalanan berliku. Ia harus siap menjauh dari dunia ‘gaulnya’ anak muda. Berganti baju yang kotor dan kaki berlumur lumpur sawah. Nelangsanya, Beri justru kerap diledek rekan-rekan anak muda di kampungnya. Ada…
Mari Bertanya, Dari Mana Uang Sekolah dan Jajan Anak-anak Yatim Itu? – Humaniora
[ad_1] Jangan lupa anak yatim, apalagi yatim piatu. Anak-anak yang telah ditinggal pergi sosok ayahnya. Bukan hanya kehilangan figur sentral. Tapi anak-anak yatim pun sulit bertahan hidup akibat ketidak-adaan ekonomi. Untuk makan sehari-hari, untuk membeli buku, atau untuk jajan di sekolah. Dari mana uang anak-anak yatim? Anak-anak yatim ada di dekat kita. Bahkan anak-anak yatim pun terus bertambah akibat pandemi Covid-19. Saat sang ayah meninggal dunia terpapar virus yang mematikan. Anak-anak yang tidak pernah berpikir “ditinggal” sang ayah. Kini, termenung sendiri di pojok rumah. Menenteskan air mata di atas meja makan. Atau memeluk sang ibu, meratapi hidup di hari-hari esok. Maka jangan lupa anak yatim. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan….” (Q.S.2:220). Selain menjalankan aktivitas taman bacaan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM)…
Direktorat PMPK Kemdikbud RI Dukung Taman Bacaan Berantas Buta Aksara via Kampung Literasi – Humaniora
[ad_1] Tidak ada satupun manusia yang ingin terlahir dalam keadaan buta aksara. Tidak bisa membaca dan menulis. Maka tekad memberantas buta aksara tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi kontribusi masyarakat pun diperlukan. Agar kaum buta aksara yang masih tersisa, sebesar 1,78% dari jumlah penduduk Indonesia dapat dituntaskan. Atas dasar itu, program Kampung Literasi Sukaluyu tahun 2021 yang dijalankan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung salak Bogor bertekad untuk menuntaskan berantas buta aksara di kalangan ibu-ibu. Hal ini ditegaskan Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka saat sosialisasi relawan peningkatan literasi baca-tulis GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) di Bogor (20/09/2021). Melalui program Kampung Literasi Sukaluyu yang diinisiasi Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM ini dicanangkan ketuntasan melek huruf untuk satu tahun ke depan, di samping program pemberdayaan ekonomi di kalangan kaum ibu. Dalam kesempatan ini, TBM Lentera Pustaka pun memperkenalkan tiga relawan baru yang akan mengajar kaum buta aksara. Patut…
Muhammad Baihaqqi, Pemuda Peraih 4 Gelar di Umur 18 Tahun dan Menjadi Seorang Qori – Humaniora
[ad_1] Penulis Indonesiana Bergabung Sejak: 19 jam lalu 2 jam lalu Sastra Topik Utama Dibaca : 39 kali Muhammad Baihaqqi, AWP., WPPEP., CPWA., CPMP adalah seorang pemuda asal Jakarta, ia adalah seorang pengajar agama dan praktisi keuangan di Indonesia. Ia juga aktif dalam kegiatan – kegiatan kemanusiaan. Dalam hidupnya, ia telah mendapatkan prestasi di bidang keagamaan dengan fokus Al-Quran sebagai seorang Qari, dan telah mendapatkan penghargaan Gelar sertifikasi pada bidang keuangan dan korporasi. Baihaqqi juga pernah berkesempatan untuk mengisi acara menjadi Qori di acara Kongres Wilayah XIII Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta, yang dihadiri juga oleh Sekretaris Daerah DKI Jakarta, almarhum Saefullah. Dengan latar belakang yang Islami, ia tidak mengurungkan niatnya untuk menjadi praktisi keuangan, hingga ketika Baihaqqi lulus dari bangku sekolah menengah atas, ia bersegera mengikuti pelatihan-pelatihan dan sertifikasi yang berhubungan dengan keuangan. Baihaqqi memulai pendidikan dari sekolah dasar yang berada tidak jauh dari rumahnya, yaitu Sekolah Dasar Negeri…
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
