Jejak Lumpur Sawah dari Kaki Anak Muda Bernama Beri Tohari – Humaniora

[ad_1]

Wajah laki-laki muda berkulit putih itu tertunduk lesu. Suaranya terdengar sedikit sendu dan melemah. “Papah meninggal dunia sewaktu saya masih sekolah. Karena papa sudah meninggal, saya memutuskan cukup lulus SMK saja dan bekerja membantu mama,” ujar Beri Tohari, Jumat siang.

Keputusan Beri untuk bekerja ternyata di luar dugaan. Termasuk mama serta saudara-saudaranya. Beri memilih menjadi petani di kampung halamannya, Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Karawang, Jawa Barat.

Bukan keputusan yang mudah bagi Beri menentukan pilihan pekerjaan menjadi petani. Apalagi untuk anak muda seusianya. Beri baru berusia 33 tahun.

“Jadi petani tidaklah gampang. Apalagi untuk anak-anak muda. Banyak yang memandang remeh, sampai disepelekan. Jadi petani bagi anak muda itu bukanlah pekerjaan yang diinginkan,” ucap Beri.

Ikhtiar Beri menjadi petani adalah garis perjalanan berliku. Ia harus siap menjauh dari dunia ‘gaulnya’ anak muda. Berganti baju yang kotor dan kaki berlumur lumpur sawah.

Nelangsanya, Beri justru kerap diledek rekan-rekan anak muda di kampungnya. Ada orang-orang yang tidak yakin Beri bakal mampu mengelola sawah pertanian miliknya. Beri dianggap menentukan profesi yang salah sebagai anak muda.

Awal menjadi petani, Beri mengaku sering berjalan menunduk ketika lewat di depan kawan-kawan muda kampungnya. Bahkan, sesekali harus berjalan memutar lebih jauh agar bisa pulang ke rumahnya demi menghindari ‘bisik-bisik tetangga’ yang membicarakannya sebagai petani.

Mental Beri benar-benar diuji. Tak hanya lelah fisik, namun juga nurani maupun pikiran. Kondisi keluarga, keputusan harus bekerja, ejekan, sikap tidak percaya dari lingkungan sekitar, berkelindan dalam kenyataan hidup dialami Beri.

Namun Beri telah mantap memilih karier sebagai petani. Semua itu adalah ujian menuju sukses dalam prinsip Beri. Baginya: kaki berlumpur adalah jejak yang ditinggalkan menuju kesuksesan. Meski terpaksa tidak dapat banyak waktu menikmati gemerlap hidup anak muda.

Beri Tohari bangkit. Ia sadar tidak boleh terus larut dalam fakta sosial terkait pilihan dirinya menjadi petani. Sawah pertanian peninggalan almarhum papanya harus diteruskan dikelola secara baik. Jangan sampai sia-sia dijual, seperti niat awal mamanya.

Beri lantas ikut pelatihan bertani di Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) di Jatinangor, Jawa Barat. Namun perjuangan mencapai sukses bukan perkara mudah. Tantangan masih bergelayut. Lahan sawahnya yang rendah dan susah mengatur saluran air membuat Beri merasa belum tepat mengelola metode tanam yang ia peroleh di pelatihan.

Suatu waktu, usai bertani, Beri memandang sawah milik almarhum papanya. Pikirannya menerobos menggapai ide lain untuk pengelolaan lahan taninya. Tekadnya tetap kuat menjadi petani muda yang sukses.

Beri kemudian berguru sedikit-sedikit kepada petani senior di kampungnya. Sambil dipadukan dengan pengetahuan dimiliki sebab dulu sering diajak almarhum ayahnya ikut bertani.

Matahari tampak amat cerah siang itu di Desa Majalaya, Karawang. Secerah, seterang, hasil komitmen kokoh diyakini Beri menjadi petani. Keputusannya menjadi petani dengan mengelola lahan sawah seluas 4 hektare, berbuah manis.

Beri berhasil meningkatkan hasil panen dari biasanya 4 ton menjadi 7 ton per hektare. Beri bukan lantas berbangga. Justru ia makin banyak belajar kepada petani sukses lainnya. Agar Beri dapat mengikuti nasib yang sama.

Beri berinovasi. Sawahnya yang seluas 4 hektare ditanami beragam jenis komoditi yang cocok dengan jenis tanahnya. Selain itu, Beri juga memanfaatkan lahan yang ada dengan beternak bebek. Hama keong yang mengganggu sawah petani, justru ditampung Beri untuk dijadikan pakan ternak bebeknya.

Kini Beri telah berjalan tegap. Tak lagi menunduk di depan kawan-kawan anak muda kampungnya. Beri sekarang banyak menyapa warga desanya, tidak lagi memilih rute berputar ketika pulang dari sawah. “Dari panen 6 ton dengan luas lahan 1 hektare, biasanya rata-rata saya mendapatkan penghasilan Rp 25 juta. Saya bersyukur bahwa keputusan jadi petani adalah pekerjaan yang tepat,” kata Beri.

Beri menganggap dirinya tetap adalah petani. Bedanya, dulu ia menguras keringat sendirian mengelola lahan sawahnya. Ia ‘bertempur’ dengan berbagai rintangan . Namun Beri berhasil lulus secara baik.

Saat ini Beri telah mempunyai pegawai petani yang mengelola sawah dan ternak bebeknya. Beri kini kerap mengawasi, memberi bimbingan kepada pegawai lahan taninya agar tetap dapat panen produktif. Kendati demikian, Beri tetap ‘mencintai’ cangkul. Ia sesekali juga turun ke sawah. Kakinya tetap tidak ingin bersih dari lumpur sawah sebab itulah yang membuatnya sukses sebagai petani milenial.

Studi Beri pun tidak lagi terganggu. Kini Beri sedang kuliah di Fakultas Pertanian salah satu universitas swasta di Karawang. Bukan tak mungkin Beri lebih berhasil ke depannya sebab telah ditunjang ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi.

Lumpur kotor yang melekat di kaki Beri Tohari tak sia-sia. Janjinya meninggalkan jejak lumpur sawah menuju arah gemilang ditepatinya.



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »