Ibu Suningsih, muslimah berusia 42 tahun, ibu dari 3 putri yang rela meninggalkan pekerjaan kantor yang nyaman di ibukota Jakarta agar bisa maksimal mendidik anak-anaknya. Hobinya dalam berbisnis sejak usia remaja menjadi alternatif untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi keluarga di kehidupan rumah tangganya sekarang, beliau selalu mencari ide variatif dalam usaha kulinernya. Disamping itu, beliau juga berperan dalam dakwah, terdengar sederhana namun sungguh berarti, yaitu amar makruf nahi mungkar. Memiliki pekerjaan tetap, bagian marketing properti apartemen di Kemang Village sejak tahun 2016, selama 3 tahun. Kala itu, sehari-hari beliau meninggalkan 2 anaknya yang masih kecil diasuh orang tuanya. Ketika hamil anak ketiga, beliau resmi memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor, ia ingin fokus pada urusan rumah tangganya, namun ia tak kehabisan ide untuk kembali berusaha dan bermimpi menjadi pengusaha sukses. Pada akhir tahun 2018 ia mulai merintis usaha bawang goreng, berawal dari saran teman yang suaminya memiliki usaha kupas bawang. Beliau…
Mahasiswa Unej Dorong Semangat Pelaku Usaha Tempe agar Tetap Berjaya di Masa Pandemi – Peristiwa
[ad_1] Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang merupakan desa yang tentram. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar sebagai petani sayur dan usaha rumahan. Peserta KKN Kembali ke Desa 3 Universitas Jember 2021, Tanjung Pramitasari dengan DPL Bekti Palupi, S.T., M.Eng., memilih Desa Kebonagung sebagai sasaran KKN untuk mengabdi kepada penduduk sekitar. Sasaran yang dipilih adalah pelaku usaha tempe murni yang telah dikenal penduduk sekitar, yaitu Tempe Murni Barokah milik Bapak Kabul. Mengapa tempe beliau ini sangat digemari masyarakat? Karena rasa tempenya enak dan gurih dan sangat alami tanpa campuran apapun. Karena pembuatannya pun hanya dua bahan saja, yaitu kedelai Grade A dan ragi, pengelolaannya pun sangat-sangat bersih menjadikan tempe murni Barokah banyak disukai oleh masyarakat sekitar khususnya masayarakat Desa Kebonagung itu sendiri. Selain masyarakat mereka menggiling atau bahasa kerennya pengusaha keliling kampung selalu tengkulak tempenya Bapak Kabul. Harga umum hanya diberi dengan harga dua ribu rupiah saja. Kalau untuk mereka menggiling diberi…
