Aroma Persengkongkolan Besar di Balik Agenda Amendemen UUD 1945 – Pilihan
INDONESIAN CHANNEL  

Aroma Persengkongkolan Besar di Balik Agenda Amendemen UUD 1945 – Pilihan

[ad_1] Penolakan banyak unsur masyarakat terhadap rencana amendemen Konstitusi yang diulang-ulang oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo maupun elite politik lain sesungguhnya berakar pada masalah kepercayaan rakyat yang rendah terhadap niat politisi. Misalnya saja, Ketua MPR berulang kali mengatakan bahwa amendemen akan bersifat terbatas, hanya memasukkan pasal mengenai Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN). Rakyat bertanya: siapa yang menjamin bahwa tidak akan muncul pasal-pasal baru  di luar PPHN? Keraguan itu wajar, sebab apabila ada pasal tentang PPHN, pertanyaannya: bagaimana jika Presiden tidak menjalankan PPHN yang disusun oleh MPR? Apa konsekuensi konstitusionalnya? Apakah Presiden akan dicopot? Mestinya tidak bisa, sebab Presiden dipilih oleh rakyat, bukan oleh MPR, sehingga MPR tidak memiliki wewenang untuk menghentikan Presiden seandainya Presiden tidak menjalankan PPHN. Karena mengantisipasi kemungkinan itu, para politisi di MPR berpotensi memunculkan wacana tambahan yang tidak diungkap di publik ataupun dibantah saat ini. Para politisi akan berpikir: kalau begitu, Presiden harus dipilih oleh MPR agar Presiden bisa…

Membaca Praktik Eksklusivisme dalam Bernegara – Pilihan
INDONESIAN CHANNEL  

Membaca Praktik Eksklusivisme dalam Bernegara – Pilihan

[ad_1] Praktik Kewarganegaraan Di Indonesia Judul: Praktik Kewarganegaraan Di Indonesia Penulis: Bambang Purwanto Tahun Publikasi: 2019 Penerbit: Penerbit Gelombang Ketebalan: xii + 108 ISBN: 978-602-258-525-1 Ketika Sukarno – Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamirkan Indonesia sebagai negara merdeka, beliau berdua menyatakan bahwa proklamasi tersebut adalah atas nama bangsa Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan bangsa Indonesia oleh Sang Proklamator tersebut? Apakah mereka semua orang eks kawula Pemerintah Hindia Belanda? Apakah mereka hanya terbatas para bumiputera? Bagaimana dengan kedudukan golongan timur asing (keturunan Arab, India dan Cina) yang sudah ada sejak jaman Hindia Belanda di wilayah yang dinyatakan merdeka tersebut? Mengapa dalam diskusi-diskusi awal muncul istilah “Indonesia asli” dan bukan asli; bumiputera Islam dan bumiputera kolonial/non-Islam; pribumi dan non-pribumi? Sederet pertanyaan tentang bangsa dan praktik kewarganegaraan mengemuka dalam diskusi-diskusi di persiapan kemerdekaan dan selama perjalaman bangsa Indonesia sejak menyatakan merdeka hingga kini. Bahkan topik ini juga mewarnai perjalanan UUD 1945 dari mulai…

Tak Berkategori  

46 Napi Itu Manusia yang Berjiwa, Bukan Angka – Pilihan

[ad_1] Kematian manusia, meskipun hanya satu, bukanlah sekedar angka. Sekalipun ia seorang narapidana, ia tetap berpeluang memperoleh kematian yang layak, sebab masih terbuka jalan baginya untuk menjadi manusia baik di hadapan Penciptanya. Siapapun bisa berubah, yang buruk tak selamanya buruk, sebagaimana sebaliknya. Namun, siapapun yang percaya bahwa setelah gelap akan terbit terang, ia layak menerima kematiannya secara cukup patut. Mereka, para narapidana yang tewas dalam kebakaran di salah satu blok penjara Tangerang, tidak boleh dianggap dan diperlakukan sebagai angka. Padahal, jika diibaratkan sebagai angka, 46 adalah angka yang besar karena melibatkan kematian dalam satu peristiwa. Mereka meninggal dalam kurungan dan dikurung. Tidak menggelitik dan tidak mampu menyelamatkan diri dari amukan api. Ini adalah tragedi kemanusiaan, bukan kematian biasa. Kematian mereka tidak boleh dianggap sebagai statistik belaka. Jikalaupun keluarga napi ini diberi santunan, ini sesuatu yang sudah semestinya, tapi bukan berarti pertanggungjawaban kemanusiaan lantas hilang begitu saja. Dalam bikrokrasi ada jenjang-jenjang wewenang…

Lemparkan Sembako pada Kami, Tuan! – Pilihan
INDONESIAN CHANNEL  

Lemparkan Sembako pada Kami, Tuan! – Pilihan

[ad_1] Di masa pandemi seperti ini, Pak, tidak mudah bagi kami untuk mempertahankan penghasilan agar dapat bertahan hidup. Sebuah pekerjaan yang secara alami tetap tidak tetap. Pekerjaan yang semula tidak pasti semakin tidak menentu. Lulus, bahkan sering kurang. Tapi, dilarang bagi kita untuk mengeluh. Kami terus berjuang semampu kami, karena kami percaya setiap makhluk hidup memiliki rezekinya masing-masing. Jika ada yang bilang ekonomi sudah berjalan, itu memang benar. Lihatlah, Tuan, semakin banyak lapak-lapak di pinggir jalan. Saudara-saudara kami yang biasanya tidak berjualan, kini mereka menggelar lapak: gorengan, baso aci, nasi kuning, ya apa saja yang kira-kira bisa diubah jadi uang. Begitulah cara kami menjalankan roda ekonomi, meskipun sering seret karena kurang pelumas. Lapak di dekat kediaman kami tumbuh tiga kali lipat dibanding sebelum wabah tiba. Ramai warga berjualan, makanan terutama. Kadang-kadang kami berpikir, kalau semakin banyak yang berjualan, lantas siapa yang jadi pembeli? Jika warga sama-sama susah, siapa yang akan membeli?…

Net Zero Emission, Bukan Pepesan Kosong – Pilihan
INDONESIAN CHANNEL  

Net Zero Emission, Bukan Pepesan Kosong – Pilihan

[ad_1] Perubahan iklim menjadi isu hangat dewasa ini. Menyadari hal tersebut, pemerintah Indonesia menargetkan Emisi Nol Bersih di tahun 2060. Target tersebut mencerminkan akan kewajiban mengurangi efek gas rumah kaca sebesar 29% secara kondisional dan bantuan global sebesar 41% atau setara dengan 314 sampai 398 juta ton CO2 sesuai Kontribusi Bertekad Nasional (NDC). Pemerintah segera mengambil strategi. Dalam jangka pendek, menghambat penggunaan B30 dan penembakan bersama pada PLTU. Sementara, optimalisasi EBT secara masif, penggunaan teknologi CCUS pada energi fosil hingga pengalihan kendaraan listrik digunakan sebagai strategi jangka panjang. Aksi mitigasi ini dilakukan sebagai bentuk keseriusan pemerintah terhadap perubahan iklim. Kebijakan lainnya berupa pergantian anggaran subsidi untuk kegiatan produktif, kontribusi energi baru terbarukan sebesar 23% di tahun 2025, serta konversi energi dari limbah. Yup, betul. Program-program pemanfaatan EBT dan efisiensi energi menjadi kontributor utama dalam aksi mitigasi. Di sisi lain, pemanfaatan EBT di Indonesia masih sangat minim bila dibandingkan dengan potensi yang…

Demam Mural Tersebab Rakyat Tak Tahu Harus Bicara Lewat Mana Lagi – Pilihan
INDONESIAN CHANNEL  

Demam Mural Tersebab Rakyat Tak Tahu Harus Bicara Lewat Mana Lagi – Pilihan

[ad_1] Sejak foto mural ‘404 not found’ viral di media sosial, demam mural dengan cepat meredup, berganti dengan cat berwarna monokrom: hitam, putih, tanpa nada, tanpa bentuk, tanpa aksen. De-mural-isasi berlangsung cepat, sehingga sempat muncul mural berbunyi sederhana: ‘Jangan takut tuan-tuan, ini cuma street art.’ Ini sekedar mengingatkan bahwa mural itu layak ditempatkan pada tempatnya, tidak usah dipandang berlebihan Sebagian orang barangkali memang lebih sensitif terhadap hal-hal sederhana semacam itu, suara-suara sederhana yang gamblang, tidak njlimet dan rumit, tidak terlampau berimajinasi. Contohnya: ‘Tuhan, saya lapar’ Mural ini hanya berupa tulisan sederhana seperti itu, tapi mungkin bagi sebagian orang itu tidak ubahnya teriakan dengan megaphone yang lantang melengking dan mengganggu ketenangan—bukan hanya mendengungkan telinga. Demam mural rupanya segera diikuti oleh demam de-muralisasi. Para pelukis mural rupanya telah menyadarkan sebagian orang bahwa tulisan atau gambar di dinding-dinding kosong di basement jembatan atau di gedung yang rusak patut diwaspadai. Itu tidak bisa dianggap sepele…

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.