Demam Mural Tersebab Rakyat Tak Tahu Harus Bicara Lewat Mana Lagi – Pilihan

[ad_1]

Sejak foto mural ‘404 not found’ viral di media sosial, demam mural dengan cepat meredup, berganti dengan cat berwarna monokrom: hitam, putih, tanpa nada, tanpa bentuk, tanpa aksen. De-mural-isasi berlangsung cepat, sehingga sempat muncul mural berbunyi sederhana: ‘Jangan takut tuan-tuan, ini cuma street art.’ Ini sekedar mengingatkan bahwa mural itu layak ditempatkan pada tempatnya, tidak usah dipandang berlebihan

Sebagian orang barangkali memang lebih sensitif terhadap hal-hal sederhana semacam itu, suara-suara sederhana yang gamblang, tidak njlimet dan rumit, tidak terlampau berimajinasi. Contohnya: ‘Tuhan, saya lapar’ Mural ini hanya berupa tulisan sederhana seperti itu, tapi mungkin bagi sebagian orang itu tidak ubahnya teriakan dengan megaphone yang lantang melengking dan mengganggu ketenangan—bukan hanya mendengungkan telinga.

Demam mural rupanya segera diikuti oleh demam de-muralisasi. Para pelukis mural rupanya telah menyadarkan sebagian orang bahwa tulisan atau gambar di dinding-dinding kosong di basement jembatan atau di gedung yang rusak patut diwaspadai. Itu tidak bisa dianggap sepele atau sederhana, bahkan jika ekspresinya sederhana.

Dinding-dinding dengan lukisan bergaya bebas itu dianggap layak untuk dicermati, padahal pesannya sederhana, bukan seperti corat-coret mahasiswa di poster protes mereka yang terkesan garang. Misalnya: Turunkan harga BBM! Coretan mahasiswa di kertas ini terkesan menuntut, bandingkan misalnya dengan tulisan di mural tadi. Misalnya lagi: ‘Sibuk membangun lupa berkebun.’ Pesannya sederhana dan itu pengingat buat kita semua, sehingga mestinya tak perlu ada yang merasa harus bersikap reaktif.

Apabila mural-mural itu dianggap sebagai kritik sosial yang mengganggu atau menyinggung perasaan, mestinya DPR ikut tersinggung, andaikan mereka peka. Mengapa? Karena mural itu menandakan bahwa rakyat tidak tahu lagi bagaimana dan di mana menyampaikan pikiran, perasaan, pendapat, hingga aspirasi, karena DPR bersikap dan bertingkah laku bagaikan bukan wakil rakyat—seperti nama formalnya. Sayangnya, DPR tidak sensitif dan sadar bahwa mereka semestinya ikut tersinggung, sebab fungsi kritik itu diambil alih oleh mural-mural di dinding itu.

Rakyat memilih caranya sendiri untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan lewat mural: lapar, lupa berkebun, hingga hidup adalah mainan. Muralis-muralis itu curhat di dinding agar sesama rakyat tahu. Rakyat membaca mural-mural itu sambil tersenyum kecut atau tertawa—katakanlah, menertawakan nasib sendiri. Mungkin ada yang lewat, lalu membaca mural ‘Tuhan, aku lapar’, sembari tanpa sadar memegang perut kosongnya yang keroncongan.

Jadi, kalaupun mural-mural itu dianggap kritik, ya tak perlu ditanggapi berlebihan, cukup direspons sembari tersenyum, sebagaimana para pemural juga tersenyum tatkala mural-mural karya mereka berganti dengan cat hitam nan ngeblok. Kalau ada mural bertuliskan ‘Aku bangga rumahku bebas asap rokok’, maka perusahaan produsen rokok tidak perlu merasa tersinggung lalu ikut-ikutan mencat hitam. Toh, yang merokok masih juga banyak, pemilik pabriknya pun bertambah kaya. Begitu pula jika terpampang mural yang berbunyi: ‘Urus saja moralmu, jangan urus muralku,’ tak perlu menanggapinya serius lalu mengerahkan pengecat-pengecat hitam. Anggaplah kaum muralis itu telah mengingatkan kita semua pada kebaikan dan tanggapilah sembari tersenyum. >>



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »