[ad_1] Pada Bagian 5 ini akan dibahas tentang: 2.1.3 Implikasi Apatisme Intelektual; a. Senyapnya kritikan rasionalistik; b. Tidak berubahnya predikat bangsa; c. Lemahnya pondasi dan strategi pembangunan bangsa. Sedangkan berikutnya: d. Lemahnya performa kelembagaan, dibahas pada Bagian 6; e. Kadar diskursus kehidupan bangsa lebih dominan pada aspek teknikal daripada isu fundamental bangsa dan f. Apatisme lingkungan/lingkaran terdekat penulis, akan dibahas pada Bagian 7, 8 dan 9. 2.1.3 Implikasi Apatisme Intelektual Tentu penjelasan definisi apatisme dan peran kesejarahan tersebut belum sepenuhnya memberikan jawaban memuaskan perihal adanya fenomena apatisme tersebut. Sebagai tambahan penjelasannya, penulis mencatat setidaknya ada 6 indikasi implikasi fenomena tersebut. Jika dibaca kembali uraian peran kodrati peradaban kelompok intelektual tersebut di atas, maka 5 dari 6 indikasi implikasi fenomena tersebut adalah konsekuensi dari apatisme itu. Terkait dengan sektor-sektor yang beririsan dengan 5 wilayah tipe peran kecerdasan yang menjadi kompetensinya kelompok intelektual. Sedangkan yang satunya adalah sikap reaktif kebijakan NKK. Berikut adalah…
Memburu Para Koruptor Ibarat Mencari Jarum di Tengah Tumpukan Jerami – Analisa
[ad_1] Koran Tempo kembali melangsir hasil investigasinya bertajuk Satu Aziz Tiga Hal, pada 6 September lalu. Sebelumnya juga Majalah Tempo, 4 September, telah menggeber berita bertajuk Paraf Suami Di Nota Dinas Bupati. Dua nukilan berita yang menghiasi jagad maya seolah membuktikan prilaku korup para elit politik semakin mangkrak di negeri ini. Bahkan boleh jadi masih berderet praktik korup kalangan elit politik yang belum terendus KPK. Penulis mengibaratkan praktik korupsi negeri ini sebagai kisah panjang tak berujung yang bahkan menggerogoti semua level. Gerombolan para elit politik, dulunya berkonspirasi melemahkan Komisi Anti Rasuah melalui revisi Undang-Undang KPK seolah membuktikan masih bercokolnya geng penilep uang rakyat serta mafia kasus sekaligus makelar jabatan. Publik negara ini dibuat semakin bungkam seribu bahasa dengan berbagai perkabaran yang tak usai-usai juga, bertajuk para penilep uang haram dari kalangan geng elit politik. Komisi Anti Rasuah dibikin semakin tidak berdaya menghadapi para penggarong uang haram. Bisa dikatakan menciduk para koruptor…
