INDONESIAN CHANNEL  

[ad_1] Banyak orang melewati senja tanpa makna. Saling melihat tapi tak saling terikat. Saling menatap namun tak saling menetap. Senja yang sebatas senja. Senja yang berlalu melepas siang. Lalu memasuki gelapnya malam. Senja orang-orang biasa. Tapi senja jadi begitu berbeda. Saat anak-anak berlarian dari rumah menuju taman bacaan. Senja yang menemani mereka untuk membaca buku. Sekalipun di bawah sengatan matahari.  Senja yang sudi berbagi cerita. Tentang anak-anak kampung di kaki Gunung Salak. Selalu membaca ditemani senja. Senja di taman baca. Senja di taman baca. Senja yang dilalui namun selalu membawa anak-anak kembali ke dunianya. Bermain sambil membaca buku. Bercerita tentang isi bacaan. Senja yang menemani para ibu mengantar dan menunggui anak-anaknya di taman baca. Senja dan taman baca, seperti tidak lagi berjarak. Energi giat membaca ada di senja hari. Di taman bacaan masyarakat Lentera Pustaka. Semangat membaca yang tidak pernah pudar. Tiap Rabu, Jumat dan Minggu, 150-an anak-anak berlalu-lalang di sekitar…

Optimisme Kejar Tayang Bauran Energi Baru Terbarukan – Analisa
INDONESIAN CHANNEL  

Optimisme Kejar Tayang Bauran Energi Baru Terbarukan – Analisa

[ad_1] Komitmen Indonesia pada Paris Perjanjian di 2015 dinilai banyak pihak sebagai omong kosong belaka. Sebabnya, pemerintah dinilai tak Segalanya dalam mengupayakan tujuan utama dari komitmen tersebut yaitu penurunan kadar emisi. Turunan aturan dan arah kebijakan energi nasional memang sudah mengarah kepada upaya penurunan emisi. Dalam waktu dekat misalnya, pemerintah menargetkan 23% target bauran energi berasal dari energi terbarukan. Akan tetapi, aktualisasi target tersebut dinilai kejar tayang, sebab pemerintah dirasa baru melakukan ekspansi masif pada bidang energi terbarukan menjelang tenggat waktu target bauran energi pada 2023. Upaya pemerintah dinilai masih abu-abu dan tidak serius menangani pengembangan industri energi terbarukan. Padahal sektor energi merupakan sektor nomor dua terbesar yang ditargetkan cukup tinggi dalam menurunkan emisi, yaitu sebesar 11 persen. Sementara sektor utama berasal dari kehutanan dengan target penurunan emisi sebesar 17,2 persen. Tersisa 2 tahun sebelum target bauran energi jatuh tempo pada tahun 2023. Sementara, terakhir capaian bauran energi masih menyentuh angka…

Ancaman untuk MNC dan Adopsi Kebijakan Energi Baru Terbarukan ala Tiongkok – Analisa
INDONESIAN CHANNEL  

Ancaman untuk MNC dan Adopsi Kebijakan Energi Baru Terbarukan ala Tiongkok – Analisa

[ad_1] Akhir 2021 nanti, proyek pembangunan panel surya luar angkasa milik Tiongkok diperkirakan selesai. Sebelumnya sudah ada stasiun tenaga surya terbesar, yaitu “Tengger Desert Solar Park” berkapasitas 1,54GW. Tak ayal, angka sebesar ini mengundang perhatian negara lain untuk berbondong-bondong menyusul prestasi Tiongkok. Tiongkok mengawali bisnis panel surya dari seorang fisikawan, Zengrong Shi. Ia menjajaki kerja sama dengan Tim Martin, kelompok peneliti dari Universitas New South Wales. Usai mengasah keahlian risetnya bersama Tim Martin, Shi mendirikan sebuah perusahaan SunTech dan berhasil mengembangkan panel surya termurah dengan efisiensi 17%. Dari pencapaian Shi, teknologi panel surya di Tiongkok terbilang berkembang pesat. Perkembangan tersebut sejalan dengan dukungan Pemerintah Tiongkok terhadap Energi Baru Terbarukan (EBT). Negeri Tirai Bambu tersebut kali pertama pertama mengetuk aturan EBT pada 2005. Hingga April 2020, Tiongkok’s National Energy Administration (NEA) merilis Peraturan Energi untuk mengajak komentar publik dan dengan jelas menetapkan pengembangan energi terbarukan akan diprioritaskan. Kerja keras Tiongkok membuahkan hasil. Saat ini,…

INDONESIAN CHANNEL  

Ironis, Meski Krisis Iklim, BNI Kucurkan Trilyunan Rupiah untuk Proyek Energi Kotor Batubara – Peristiwa

[ad_1] Penulis Indonesiana Bergabung Sejak: 29 Juli 2021 3 jam lalu Peristiwa Berita Utama Akan menunggu sampai berapa ribu kejadian bancana ekologi lagi, hingga BNI menghentikan pendanaan untuk energi kotor batubara? Dibaca : 64 kali Kabar kurang sedap itu datang dari BNI. Bagaimana tidak, meskipun dunia berada di ambang bencana ekologi akibat perubahan iklim, seperti ditulis di portal media CNBC Indonesia, bank milik negara itu justru menggelontorkan dana untuk proyek energi kotor batubara sebesar Rp.27 trilyun. Padahal sudah bukan rahasia lagi bila energi kotor batubara menjadi penyumbang GRK yang mencemari atmosfir dan menyebabkan perubahan iklim. Ancaman tenggalamnya Ibukota Jakarta dan 112 kabupaten/kota di Indonesia akibat perubahan iklim, nampaknya tidak menyurutkan BNI untuk terus mendanai energi kotor batubara. Ah, itu kan baru perkiraan, mungkin begitu kata para petinggi BNI, sehingga mereka tetap saja mengucurkan dana untuk proyek energi kotor batubara. Jika demikian halnya, mungkin para petinggi BNI lupa dengan data dari Badan…

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.