[ad_1] Dirinya menilai hak-hak masyarakat adat, antara lain tanah, hutan, dan kearifan lokal kian tergerus. Minat generasi muda juga meredup, untuk belajar adat. Realitas tersebut berpotensi membuat masyarakat tercerabut dari jati dirinya. Selain itu, aktifis sekaligus Dewan Pemuda Adat Nusantara untuk Region Kalimantan ini juga merasa miris ketika melihat para pemuda dayak satu-persatu memilih mengadu nasib ke kota, ketika bergaul mereka enggan menggunakan bahasa ibu Dayak Kanayatn, bahkan terkesan malu menggunakannya. Seolah tak mengenal adat, usai kuliah jarang yang mau pulang kampung dan memilih kerja di luar kecamatan. Pemikiran tersebut membuat Wisa, bertekad untuk terus memajukan pendidikan. Bersama empat orang rekannya, bahu membahu mengelola SAS melalui pola pembelajaran bersatu dengan alam, mulai dari mengajak anak – anak didiknya mengikuti kegiatan adat di alam, seperti turun ke sawah atau mencari bahan untuk menganyam dan memasak. Hingga saat ini, ada kurang lebih 120 anak mengikuti kegiatan belajar mengajar tersebut. Pendanaan pendidikan juga dilakukan…
Perempuan Literat yang Inspiratif dari Jakarta, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni – Humaniora
[ad_1] Mpok Sylvi, begitulan panggilan akrabnya. Lahir di Jakarta, 11 Oktober 1958, putri dari pasangan Kol (Purn) HD. Moerdjani dan Hj. Ni’mah. Wanita pengagum warna orange ini dididik oleh orang tuanya dalam suasana disiplin dan demokratis, bersama Sembilan saudara kandungnya, ia terbiasa menggelar “meja demokrasi” di rumah, dialog bebas dan berpendapat. Saat kecil ia mempunyai cita-cita menjadi guru, lalu beranjak remaja ia ingin menjadi pramugari, profesi yang dianggap keren, bertemu banyak orang, dan bisa keliling dunia. Lalu bergeser saat dewasa, ingin menjadi diplomat. Lalu sekarang cita-citanya kembali ingin mengajar. Bahkan ketika jadi Kepala Dinas Pendidikan di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, seringkali ia masuk ke kelas dan mengajar. Kepada tim Podcast IKA UNJ, Mpok Sylvi menuturkan faktor yang mendorong untuk melanjutkan kuliah ke jenjang tertinggi, yaitu: 1) motivasi dari orang tua dan 2) dorongan dari suami. Hingga suatu kali, Mpok Sylvi bertanya pada suaminya saat diangkat jadi Kepala Biro, “Pah bangga ga…
