[ad_1] Kemerdekaan pers adalah salah satu bagian dari hak warga negara untuk berekspresi, berpendapat, dan menerima segala informasi. Tidak hanya dilihat sebagai sebuah hak, kemerdekaan pers menjadi sebuah bentuk kebutuhan untuk mewujudkan kepentingan pers dan kepentingan publik. Sudah terjamin dalam Undang-undang No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers bahwa para pekerja pers atau wartawan akan terlindungi dan terjamin haknya oleh UU tersebut. Namun, menurut wartawan senior, Ridlo Eisy, Undang-undang Pers saat ini tidak Lex Spesialis. Dalam video wawancara yang di unggah pada kanal youtube Inspirasi Untuk Bangsa (18/12/20), Ridlo Eisy mengatakan saat ini UU Pers belum sepenuhnya memenuhi harapan dalam memperjuangkan kemerdekaan pers. Apalagi terkait kasus-kasus kriminalitas terhadap pers. Lebih lanjut ia menjelaskan, Ketika wartawan membuat kesalahan atau pelanggaran terhadap Undang-undang hukum yang lain, maka UU tersebutlah yang akan bergerak, dan untuk melindungi kriminalitas terhadap pers, saat ini Dewan Pers telah melakukan kerjasama dengan beberapa instansi. Diantaranya ada dengan pihak kepolisian, jika…
Analisis
Ngaji dan Kaji dalam Kajian Budaya Jawa – Analisis
[ad_1] Oleh: M. Nur Kholis Al Amin Entah mengapa, terlahir sebagai orang Jawa, bagiku begitu mengasikkan. Ya, walaupun tidak seutuhnya mengerti dan paham akan sejuta khazanah kekayaan budaya yang telah ada dan berkembang. Dan bisa dibilang, sebagian banyak khazanah budaya tersebut semakin menghilang karena terkikis arus perkembangan zaman serta antusiasme sebagian masyarakat yang progresif untuk berubah ke arah yang –kata orang– lebih modern dan gaul. Bagaimana tidak, budaya mengatakan Halo dengan Barat, turun dari sepeda ketika dihadapkan dengan orang-orang yang sepuh saat di jalan sempit, budaya “piring terbang” saat acara jamuan (yang di dalamnya penuh dengan makna; sopan santun, pengertian, ngajeni), kini telah hampir punah.Budaya-budaya yang lainnya pun, yang mengajarkan tepo seliro–ya, meski tidak disebutkan dalam kitab suci-belum, tidak terlepas dari nilai-nilai dasar Islam, bahkan Islam, buaangetzzz.Kok bisa? Ya bisa lah, kan Islam itu nilai utamanya di tauhid (monoteisme), keadilan, persamaan dan Moral kan? Bahkan dalam suatu redaksi hadis (kalau gak…
Memimpin Baru Selangkah, Sudah Merasa Pahlawan – Analisis
[ad_1] Di zaman ini, di abad ini, masih nampak banyak pemimpin yang merasa sebagai pahlawan (hero) atas kesuksesan negaranya, instansinya hingga lingkungan terkecil, institusinya, organisasinya, kelompoknya, paguyubannya, grupnya, dan lain sebagainya (baca: badan).Para pemimpin ini, karena asyik masyuk menganggap dirinya sebagai hero, dan tidak pernah memiliki penasihat kompeten dalam setiap langkah kehidupannya, seolah terus di atas angin, memandang bawahan dan orang lain itu bukan siapa-siapa, meski langkahnya baru sejengkal dan keberhasilan yang instan, sudah merasa dan menganggap diri sebagai hero. Bahkan dengan sadar malah menganggap bawahannya dan orang lain cuma sekadar sebagai pecundang dan menasbihkan dirinya sebagai pahlawan kesiangan. Parahnya lagi, pemimpin macam ini, juga tak pernah cerdas, bahwa sikapnya yang terus meninggikan diri dan merendahkan orang lain akan menjadi bumerang dan merusak citra dan harga dirinya sendiri. Pun menjadi bumerang bagi badan yang dipimpinnya serta seluruh yang ada di dalamnya, karena akan terus berada dalam tekanan yang tiada henti. Efek…
Jika Kata Ini Dipisah, Artinya pun Akan Berubah – Analisis
[ad_1] Pernahkah Anda membaca suatu berita, tetapi Anda tidak bisa mendapat poinnya? Atau membaca berita berjudul aneh dan tidak logis? Atau membaca sebuah berita berulang-ulang agar tidak salah paham dengan isi tersebut? Pusing dan bingungnya Anda dalam membaca sebuah berita atau karya jurnalisme bukan karena Anda tidak mampu memahaminya. Hal itu mungkin karena penulis tidak memakai kalimat yang efektif. Memang soal bahasa ini terkesan sepele karena Anda pun sudah mulai belajar hal ini sejak kelas tiga atau mungkin empat SD. Namun, apakah Anda sudah mengimplementasikannya ketika Anda menulis atau membuat sebuah karya jurnalisme? Ada banyak komponen penting dalam kalimat efektif, antara lain penggunaan tanda baca, penulisan kalimat sesuai kaidah, penulisan kalimat yang logis, hemat, dan koheren, serta masih banyak lagi. Tentunya, hal ini tidak bisa dipahami jika Anda hanya mengenalinya saja. Anda harus mempraktikkan dan melatih keterampilan ini. Salah satu dari sekian banyak komponen penting dalam kalimat efektif adalah penggunaan prefiks…
Marah – Analisis – www.indonesiana.id
[ad_1] MARAH Mereka curang Kami diam mereka bohong kami juga diam mereka merampok kami sabar mereka menindas kami tetap sabar Sekarang mereka mau apa lagi…? kami sudah lapar pekerjaan makin sulit penjualan sepi pembeli kebutuhan pokok mahal Tagihan membengkak Mereka bertobat atau kita bangkit melawannya! Hendi Kusuma S Soetomo Jakarta, 15 September 2021 [ad_2] Sumber Berita
Tip Ampuh Konsisten Menulis – Analisis
[ad_1] Kata orang, menulis itu tidak ada teorinya. Sama seperti naik sepeda. Yang dibutuhkan lebih banyak praktik, karena praktik menulislah yang mengasah keterampilan menulis setiap orang. Semakin banyak menulis, semakin terampil. Sebaliknya, semakin sedikit praktik, maka semakin susah untuk terampil. Masalahnya, hal ini membutuhkan konsistensi. Menjadi konsisten itu tidak mudah, terutama untuk mereka yang bukan berprofesi sebagai penulis atau wartawan. Mereka yang berprofesi penulis punya kewajiban untuk melakukannya, karena kalau tidak konsisten mereka tidak digaji. Nah, untuk mereka yang bukan berprofesi sebagai penulis, perlu ada dorongan atau motivasi lain agar konsisten menulis. Berikut ini beberapa tip ampuh agar konsisten menulis dari Direktur Tempo Institute Sekaligus mantan wartawan Tempo, Qaris Tajudin. Tips ini pastinya praktis dan mudah untuk Anda lakukan di mana pun. Membuat proyek menulis Proyek menulis sangat cocok untuk Anda yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan sampingan. Karena menulis menjadi pekerjaan sampingan, dalam menulisnya pun harus ada target yang bisa dimasukkan…
Wartawan Bukan Hanya Penulis Berita – Analisis
[ad_1] Dalam buku Elemen Jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengatakan bahwa jurnalis bukan sekadar mengabarkan. Mereka harus memberikan kebenaran yang diperlukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip ini menjadi salah satu hal fundamental jurnalisme hingga saat ini. Berbeda dengan sekadar memberitakan, mengabarkan kebenaran menuntut kesahihan sebuah kabar. Seorang wartawan tidak bisa memberitakan semua informasi yang dia dapatkan. Mereka terlebih dulu harus mencari kebenaran berita yang didapat, atau melakukan validasi. Validasi berarti pengujian kebenaran atas sesuatu. Jadi, setiap isu yang viral ataupun penting harus divalidasi terlebih dahulu sebelum diberitakan kepada masyarakat. Validasi ini sangat penting, karena validnya informasi yang diberitakan menjadi indikator kepercayaan masyarakat terhadap media massa. Apabila berita yang sudah keluar terbukti adalah hoaks/disinformasi, si pembawa berita itu pun akan dicap sebagai pembohong. Sayangnya, saat ini tingkat validasi berita di media massa belum merata. Hal ini bisa dilihat dari masih adanya berita palsu yang diberitakan oleh media massa. Berita itu pun tersebar…
Pers yang Masih Bebas “Bersyarat” dalam Republik yang Merdeka – Analisis
[ad_1] Indonesia baru saja selesai merayakan HUT ke-76 tahun ini. Walaupun pandemi sedang melanda, rakyat Indonesia berusaha tetap merayakannya dengan berbagai kreativitas. Begitu juga dengan pers yang selalu menjadi pilar keempat demokrasi di Indonesia. Mereka selalu berusaha untuk menjadi pemberi “kabar” yang dibutuhkan masyarakat Indonesia di tengah pandemi ini. Sudah lebih tujuh dekade, Indonesia merayakan kemerdekaannya. Namun, pers di Indonesia masih belum “merdeka” sepenuhnya, seperti yang dijamin dalam UU No. 40 tahun 1999. Data dari AJI memberikan fakta buruk bahwa per Agustus 2021, kekerasan yang terjadi pada wartawan sebanyak 23 kasus kekerasan selama tahun ini. Salah satu kasus kekerasan pada tahun ini adalah kekerasan yang dialami Nurhadi ketika ingin mengonfirmasi sebuah informasi kepada Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji. Dilansir dari Tempo.co, saat mencoba mendatangi narasumber di pesta pernikahan anak narasumber, Nurhadi mendapatkan beberapa penganiayaan dari petugas keamanan di sana. Selain Nurhadi, setiap tahun ada saja kasus…
Peran Penting Wartawan dalam Citizen Journalism – Analisis
[ad_1] Dunia media dan informasi sudah mulai proses digitalisasi. Semua pengguna, seperti praktisi dan pelaku media sudah memakai teknologi informasi yang mutakhir. Begitu juga dalam dunia jurnalisme saat ini. Banyak bidang jurnalisme yang muncul seiring berkembangnya kemajuan. Salah satu yang muncul dan berkembang adalah jurnalisme warga. Menurut Nuruddin (dalam Sukartik, 2016), jurnalisme warga adalah kegiatan terlibatnya masyarakat awam yang memiliki akses ke sebuah media untuk memberitakan suatu hal, seperti peristiwa atau tragedi. Jurnalisme warga ini dapat dilakukan oleh masyarakat di mana pun dan kapan pun. Jurnalisme warga ini juga merupakan salah satu hal yang terlibat juga dalam jurnalisme digital saat ini. Dalam praktiknya, jurnalisme warga sudah sering dilakukan dan dipakai oleh wartawan untuk melihat sebuah kejadian secara aktual dan faktual. Namun, jurnalisme warga ini menjadi salah satu dilema bagi wartawan yang terikat dengan kode etik dan regulasi dalam undang-undang. Jurnalisme warga ini menjadi salah satu alat seperti pisau yang bisa digunakan untuk mendukung…
Sewidhak Rolas; Kearifan Lokal Bersubstansi Universal – Analisis
[ad_1] Oleh: MNK Al Amin Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun, telah terlewati dan tak akan kembali. Hanya bisa dikenang dalam suatu catatan sejarah ataupun Kilas balik kenangan kita untuk refleksi diri. Menghitung amal baik atau buruk yang telah kita jalin dalam hidup ini, meliuk-liuk meliuk bagai keris seperti gambaran kehidupan manusia, selalu dan selalu silih berganti, sedih-bahagia, miskin-kaya, tenang-bingung, dan kondisi berpasangan lainnya. Akhirnya, memiliki harapan perjalanan untuk berakhir lurus seperti ujung belati lurus jalan, bisa menenun syirootol mustaqim. Tidak lagi terbuai oleh warna-warni kekacauan sambat (mengeluh), karena dia sadar menjalankan dirinya untuk selalu sebut (dzikir) asmaNya berjalan pada jalan yang lurus akar syi Al–mustaqim. Sehingga, disinilah seorang pribadi di tempa untuk menjadi diri sendiri, sebagaimana lahirnya konsep-konsep dalam falsafah Jawa, di antaranya: adalah kepala adalah arah (lain orang lain pendapatnya), adalah napas adalah lubang (kehidupan lain dijalani, kematian/ tanggung jawab lain). Hal inilah yang nanti secara lebih khusus…
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
