Patut Disyukuri, Harta Pejabat Tetap Naik Walau Pandemi – Analisa

[ad_1]

Siapa bilang semua orang bertambah miskin karena pandemi berkepanjangan? Nyatanya tidak. Sebagian orang, di antaranya para pejabat tinggi, justru bertambah kaya. Bahkan, ada pejabat tinggi yang kekayaannya naik drastis hingga 11 kali lipat dalam waktu kurang dari dua tahun. Ada pula yang kenaikannya melompat hingga mencapai 67 milyar rupiah dalam waktu singkat. Warrbiasaaa; mungkin benar kata netizen, ini karena mereka rajin menabung—layak dicontoh jika kita masih sanggup menyisihkan penghasilan untuk ditabung.

Begitu pula, menurut berita media massa, harta kekayaan mayoritas anggota DPR juga naik. Dengan mengutip petinggi KPK, media massa mengabarkan bahwa jumlah pejabat negara yang hartanya bertambah mencapai 70,3 persen selama setahun terakhir. Negara setidaknya telah menyantuni para pejabat publik maupun para Dewan dengan baik, sebab tidak ada pemotongan gaji dan tunjangan bagi mereka. Bahkan, menteri dan presiden-wapres maupun para Dewan pun mendapat gaji ke-13 plus tunjangan hari raya. Ini merupakan wujud penghargaan atas pengabdian mereka kepada negara dan bangsa. Keadaan ini patut disyukuri, sebab ternyata tidak semua warga negara mengalami hidup susah di masa wabah.

Sementara itu, menurut Badan Pusat Statitisk, jumlah penduduk miskin bertambah sebanyak 1,12 juta orang dari Maret 2020 ke Maret 2021, sehingga menjadi 27,54 juta orang. Walaupun banyak rakyat kecil usahanya gulung tikar dan kehilangan pekerjaan karena tempat kerjanya tutup, setidaknya masih ada warga yang terselamatkan dari kemungkinan ikut menambah jumlah angka kemiskinan. Dengan gaji dan tunjangan yang sangat memadai, di samping lebih banyak bekerja di rumah, maka kehidupan para Dewan itu relatif lebih terjamin dibanding kebanyakan warga. Patut disyukuri, tentunya!

Rakyat banyak bergembira karena para pejabat tinggi di pusat dan daerah semakin meningkat hartanya, sehingga perhatian mereka dapat fokus pada upaya menangani pandemi dan tidak tergoda oleh hal-hal yang beraroma konflik kepentingan. Kalaupun ada yang tergoda, ya dimaklumi saja, sebab banyak juga pejabat dan anggota parlemen yang juga pebisnis—termasuk membisniskan jabatan untuk anak buah.

Mungkin lumayan susah mengatasi konflik kepentingan manakala mereka memperoleh informasi berharga tertentu atau punya kewenangan tertentu, tapi kita memang perlu menambah kepercayaan bahwa mereka tahu mana yang layak dan tidak layak untuk dilakukan terkait jabatan. Setidaknya mereka tahu, walaupun pengetahuan dan tindakan sering juga jaraknya berjauhan.

Karena kekayaan yang di atas bertambah, sedangkan yang di bawah malah berkurang, mungkin ada yang bertanya-tanya apakah ini menambah lebar kesenjangan sosial-ekonomi warga? Mengapa ini bisa terjadi? Apakah karena yang di atas memiliki akses kepada sumberdaya, sedangkan yang di bawah tidak memilikinya? Apakah karena yang di atas lebih tahan terhadap guncangan pandemi, sementara yang di bawah demikian rentan terguling?

Bisa saja ditafsirkan seperti itu, tetapi para pejabat serta para Dewan memang berada di tengah jaring-jaring pengaman yang kukuh: gaji dan tunjangan tidak berkurang, malah sempat memperoleh gaji ke-13 dan tunjangan hari raya—boleh gak yang dibilang bahwa ini mirip-mirip bansos kelas atas. Terlebih lagi, mereka sudah kaya dari sananya.

Lalu, bagaimana dengan bisnis mereka? Merekalah yang lebih tahu dan sesama kelas atas sudah sama-sama tahu satu sama lain. Barangkali mereka memang ditakdirkan untuk memiliki berbagai sumber pendapatan yang tak putus-putus mengalir. Kita ikut senang dan gembira. Sebagai warga, kita mah harus tetap bersyukur bila masih punya satu sumber yang mengalir, walaupun terkadang mampet, terutama di masa pandemi ini.

Jadi, marilah kita lihat sisi positifnya saja bahwa mayoritas pejabat dan anggota Dewan semakin bertambah harta kekayaannya, bahwa mereka tidak terseret merosot hingga sampai ke garis kemiskinan. Mudah-mudahan saja mereka mau berbagi kepada yang kekurangan; kalau tidak mau, ya tidak apa-apa. Namanya juga berharap. Harapan memang tidak selalu terwujud, sebagaimana juga janji-janji tidak selalu ditepati. Namanya juga janji. >>



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »