Mata Gelap – Kritik Marco Kartodikromo Atas Modernitas dan Moralitas Hindia Belanda Awal Abad 20 – Analisa

[ad_1]

Penulis Indonesiana

Bergabung Sejak:
26 April 2019


2 jam lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mata Gelap adalah novel pertama Mas Marco Kartodikromo yang menggambarkan dampak modernitas Barat terhadap kehidupan pemuda-pemuda bumiputera. Modernitas menyebabkan pemuda-pemuda bumiputera hanya mengejar kesenangan dan kebebasan seks saja. Novel ini lebih terasa sebagai roman yang menghibur daripada sebuah karya yang dipakai untuk menyuarakan maksud tertentu. Namun demikian, kemunculan Mata Gelap tetap saja memicu diskusi panas tentang isu-isu kebangsaan.

    Dibaca : 42 kali

    Judul: Mata Gelap

    Penulis: Marco Kartodikromo

    Tahun Publikasi: 2021

    Penerbit: Beruang Cipta Lestari

    Ketebalan: xxxvi + 168

    ISBN: 978-623-95588-6-4

    Ini adalah buku karya Marco Kartodikromo kedua yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Mahasiswa Hidjo. Saat membaca Mahasiswa Hidjo saya membekali diri dengan referensi tentang Marco dan karya-karyanya. Marco dikenal sebagai seorang wartawan dan penulis handal di jamannya. Perjuangannya adalah menyejajarkan bangsa “pribumi” dengan orang Belanda. Ia mempromosikan supaya orang pribumi tidak minder terhadap orang Belanda. Ia juga sangat getol mengkritik para priyayi yang mem-belanda-kan diri. Sikap priyayi yang kebarat-baratan dianggap sebagai tindakan yang tidak percaya diri terhadap budaya sendiri. Padahal menurut Marco, budaya barat adalah budaya yang abai terhadap moral.

    Tak beda dengan Mahasiswa Hidjo yang pernah saya baca, dalam novel Mata Gelap ini pun Marco juga mengusung pendapatnya tentang kesetaraan antara pribumi dengan Belanda, ketakbermoralan budaya Barat dan sikap minder orang pribumi. Mata Gelap juga memotret bagaimana dampak dari modernisasi Barat terhadap pemuda-pemuda pribumi. Di mata Marco, modernisasi membuat pemuda-pemuda pribumi menjadi orang-orang yang menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang. Dalam novel ini Marco menuliskan kontras antara anak-anak muda (Amce, Sucina, Subigra) yang suka bercengkerama di alun-alun dengan Sujahtra (tokoh yang lebih tua) yang bekerja keras.

    Dalam pengantarnya Widyanuari Eko Putra menjelaskan bahwa Mata Gelap pertama terbit tahun 1914. Ini adalah novel pertama Marco (hal. xvii). Marco merencanakan novel ini terbit dalam empat jilid. Namun sayang sekali bahwa sampai saat ini hanya tiga jilid yang bisa ditemukan. Jilid keempat tidak pernah ditemukan. Apakah Marco sudah menulisnya? Atau ia tidak pernah menyelesaikannya? Kita semua tidak pernah tahu akan hal ini. Jadi, buku yang diterbitkan ulang oleh Penerbit Beruang Cipta Lestari ini hanya kumpulan  dari jilid 1, jilid 2 dan jilid 3. Karena jilid keemat dari novel ini tidak ditemukan, kita tidak tahu bagaimana akhir cerita konflik percintaan segitiga antara Subriga dengan Retna Permata dan Retna Purnama. Kita juga tidak tahu bagaimana nasip cinta Amce kepada Retna Permata dan kepada Emmace.

    Widyanuari Eko Putra juga memberikan penjelasan konteks jaman dimana novel ini pertama kali terbit. Mata Gelap muncul dalam masa “masa bergerak” dimana akibat dari politik etis Belanda yang menerapkan peluang bagi pemuda bumiputera untuk menjadi kritis terhadap kebijakan kolonial dan terhadap bangsanya sendiri.

    Ada beberapa tokoh yang ditampilkan oleh Marco dalam novel ini. Tokoh yang mula-mula muncul adalah Amce (Ambtenaar kecil?). Amce adalah seorang priyayi Jawa kecil yang bangga terhadap ke-Jawa-annya (hal. 4). Namun Amce kemudian menjadi minder karena tidak bisa berbahasa Belanda (hal. 26).  Amce digambarkan sebagai seorang pemuda yang mudah jatuh cinta. Mula-mula ia jatuh cinta kepada Emmace, istri Sujahtra. Berikutnya Amce jatuh cinta kepada Retna Permata. Karena merasa gagal mengimbangi “intelektual” Retna Permata, Amce menggunakan guna-guna untuk memelet Retna Permata. Marco seakan-akan mau ledek orang Jawa melalui upaya Amce yang melibatkan dukun dalam upayanya menggaet Retna Permata.

    Tokoh lainnya adalah Retna Permata, Subriga dan Retna Purnama. Retna Permata adalah seorang perempuan cantik dan kaya raya. Ia adalah seorang mantan nyai. Retna Permata hidup dengan standar moralitas Barat. Ia mempunyai pacar bernama Subriga. Subriga digambarkan sebagai seorang pekerja rendahan yang pandai berbahasa Belanda. Dalam novel ini Marco menggambarkan betapa bebasnya kehidupan Retna Permata dengan Subriga. Mereka hidup dalam seks bebas tanpa pernikahan.

    Kehidupan seks bebas ini digambarkan dengan lebih parah dalam kisah kunjungan Retna Permata yang berkunjung ke desa asalnya bersama Subriga. Di rumah tersebut Subriga berselingkuh dengan Retna Purnama, adik dari Retna Permata. Bahkan Subriga bercinta dengan Retna Purnama saat Retna Permata sedang tidur.

    Begitulah orang-orang pribumi yang sudah tercemari dengan budaya Barat yang begitu bebas.

    Satu hal lagi yang menarik perhatian saya adalah penggambaran orang cina di novel ini. Widyanuari Eko Putra menyinggung tentang protes yang dilakukan oleh Koran Tjoen Tjhioe kepada Marco atas penggambaran orang cina yang ada di novel ini (hal. xxi). Marco dianggap menghina orang cina. Penulis di Koran Tjoen Tjhioe menganggap bahwa karya Marco ini adalah sampah. Tulisan di Koran Tjoen Thjioe ini sampai-sampai memicu polemik masalah kebangsaan.

    Sebenarnya apa yang dituliskan tentang orang cina di novel ini? Marco tidak menggunakan satu pun tokoh beretnis cina di novel ini. Kemunculan cina di novel ini hanyalah untuk memperlancar cerita saja. Marco menggunakan situasi Semarang saat itu, dimana orang cina memang banyak berniaga. Marco menggunakan pekerjaan orang cina yang membuka restoran (hal. 3) dan menjadi  pedagang kecil yang membeli barang bekas (hal. 21) untuk memperlancar kisahnya. Panggilah babah kepada orang cina adalah hal yang wajar di masa itu. Namun panggilan babah inilah yang dianggap merendahkan orang cina. Saya yakin bahwa saat Marco menulis novelnya, ia sama sekali tidak berniat untuk menyinggung orang cina.

    Dibanding dengan Mahasiswa Hidjo, novel ini kurang kuat dalam menggambarkan perjuangan Marco dalam hal kesetaraan danprotes terhadap ketidakadilan. Mata Gelap terasa lebih seperti romansa yang menghibur daripada novel yang digunakan untuk mengartikulasikan makna tertentu. Namun demikian, kemunculan Mata Gelap tetap saja memicu diskusi panas tentang isu-isu kebangsaan.

    Kita harus berterima kasih kepadaWidyanuari Eko Putra dan Santi Al Mufaroh yang sudah mengumpulkan dan mengetik ulang karya Marco ini. Upaya keduanya membuat kita bisa menikmati karya yang telah berumur lebih dari 100 tahun tanpa harus bsersusah payah memburunya jilid demi jilid. 621



    [ad_2]

    Sumber Berita

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Translate »