Water Birth: Persiapan, Risiko, dan Manfaatnya – HEALTHNEWS MAGAZINE

[ad_1]

Melahirkan di air atau water birth adalah salah satu metode persalinan seperti gentle birth, hypno birth, dan lotus birth. Mungkin Parents pernah mendengar istilah ini di televisi karena beberapa artis di Indonesia pernah melakukan persalinan dengan menggunakan metode water birth.

Lalu, sebenarnya apa, sih, water birth itu? Bagaimana cara melakukan persalinan dengan metode melahirkan di air? Adakah risiko yang perlu dihadapi? Mari kita bahas satu per satu, Bun.

Artikel Terkait: Water Birth Bisa Menjadi Pilihan Cara Melahirkan

Definisi Water Birth

Sesuai namanya, ibu hamil yang akan melakukan persalinan dengan metode water birth akan berendam di dalam sebuah bak air berisi air hangat. Tujuan metode persalinan melahirkan di air adalah meredakan rasa sakit luar biasa yang muncul saat melahirkan. 

Teknik persalinan secara water birth biasanya dilakukan di rumah. Teknik ini juga umumnya merupakan proses persalinan yang dilakukan secara alami, tanpa obat-obatan, anastesi, atau operasi caesar. 

Belakangan ini, metode melahirkan di air memang semakin dikenal banyak orang. Bahkan The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mengakui manfaat tertentu dari persalinan dengan metode ini. 

Menurut ACOG, perendaman dalam air pada tahap pertama persalinan dapat membantu mempersingkat durasi persalinan dan mengurangi kebutuhan akan epidural atau pereda nyeri tulang belakang lainnya. Tahap pertama adalah dari saat kontraksi dimulai sampai serviks sepenuhnya melebar.

Akan tetapi, mereka tidak merekomendasikan ibu hamil untuk melahirkan di air melampaui tahap pertama persalinan dan ketika serviks sepenuhnya melebar. Sebuah studi menunjukkan bahwa melahirkan di air selama tahap satu tidak meningkatkan hasil medis ibu hamil atau bayi.

Manfaat Melahirkan di Air atau Water Birth

Walaupun banyak menjadi kontroversi tentang aman dan tidaknya metode water birth, ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh, yakni: 

  • Mempersingkat waktu persalinan
  • Menurunkan tekanan darah sehingga meringankan level kecemasan ibu yang melahirkan
  • Mengurangi risiko vagina robek
  • Menekan produksi hormon stres sehingga ibu bisa merasa lebih nyaman.

Siapa yang Bisa Melakukan Water Birth?

Umumnya, dokter dan bidan setuju bahwa teknik melahirkan di air ini hanya cocok untuk ibu hamil:

  • yang memiliki kehamilan risiko rendah dan sehat
  • yang sudah mencapai 37 minggu
  • yang hanya memiliki satu bayi dengan posisi kepala janin sempurna (masuk panggul).

Apakah Water Birth Aman?

Tidak ada bukti bahwa ibu atau bayi memiliki risiko ekstra dari perendaman air (melahirkan dalam air hangat untuk menghilangkan rasa sakit) atau kelahiran air, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan tentang kelahiran air.

Meski demikian, sebelum melakukan persalinan di air, harus dipastikan bahwa para tenaga kesehatan yang menangani telah mendapat lisensi dan pernah menolong ibu hamil lainnya dengan persalinan water birth. Bunda, dokter, dan bidan juga harus mengetahui tahapan persalinan agar dapat mengatur waktu kapan harus berendam dan kapan harus keluar dari air. Alih-alih menyelamatkan jiwa, telat mengeluarkan Bunda dari dalam air dapat berisiko fatal bagi janin.

Risiko Melahirkan dengan Water Birth

melahirkan di air

ACOG merekomendasikan metode melahirkan di air dilakukan pada usia kehamilan antara 37 hingga 41 minggu, dengan beberapa persyaratan lainnya, seperti:

  • Termasuk kehamilan berisiko rendah, tidak menderita tekanan darah tinggi atau diabetes gestasional
  • Cairan ketuban jernih
  • Posisi kepala bayi menunduk.

Teknik melahirkan di air tidak direkomendasikan untuk persalinan prematur atau ibu yang pernah menjalani dua atau lebih persalinan caesar sebelumnya. Selain itu, melahirkan di air mungkin tidak disarankan jika Bunda mengalami salah satu dari komplikasi, seperti:

  • Perempuan dengan umur di bawah 17 tahun atau lebih dari 35 tahun
  • Memiliki beberapa komplikasi kehamilan, diabetes gestasional
  • Hamil bayi kembar 
  • Ukuran bayi terlalu besar
  • Bayi sungsang
  • Memiliki penyakit infeksi
  • Suhu tubuh ibu lebih dari 39 derajat Celcius.
  • Perdarahan yang berlebihan
  • Kesulitan melacak detak jantung bayi
  • Memiliki riwayat distosia bahu.

Metode water birth memiliki beberapa risiko pada bayi yang baru saja dilahirkan, seperti:

  • Komplikasi serius pada pernapasan bayi, seperti aspirasi mekonium
  • Tali pusat bayi rusak saat diangkat ke permukaan air
  • Kejang
  • Bayi susah bernapas
  • Suhu tubuh bayi menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah
  • Meskipun jarang terjadi, bayi yang lahir di dalam air berisiko mengalami infeksi maupun penyakit tertentu.

Selain itu, metode melahirkan di air ini tidak disarankan untuk dilakukan pada tahap kedua persalinan dan seterusnya. Hal-hal berubah selama tahap kedua persalinan. Saat itulah serviks benar-benar melebar dan terbuka dan Bunda mulai mendorong sampai bayi lahir.

Banyak dokter mengatakan tidak ada informasi yang cukup untuk memutuskan seberapa aman atau berguna water birth selama tahap ini.

 Juru bicara ACOG, Aaron Caughey, MD mengatakan, keluar dari air pada tahap kedua dari persalinan membuat ibu melahirkan lebih mudah untuk bergerak cepat jika terjadi kesalahan. 

“Jika Anda harus melakukan operasi caesar darurat, akan sangat fatal untuk mengambil risiko tambahan 4 atau 5 menit untuk mengeluarkan Anda dari air,” kata Caughey, ketua departemen kebidanan dan ginekologi di Oregon Health and Science University.

Artikel Terkait: Ingin melahirkan water birth? Ini risiko penyakit yang dapat menyerang bayi

Persiapan untuk Melahirkan di Air

melahirkan di air

Saat Bunda memutuskan untuk melakukan persalinan water birth, mulailah mencari informasi seputar rumah sakit yang menerima layanan seperti ini. Sebab, tidak semuanya menyediakan layanan melahirkan di air di rumah sakit.

Jika ada, kadangkala rumah sakit hanya merekomendasikan untuk melewati tahap pertama di air lalu kemudian melanjutkan sisanya di ranjang persalinan. Sebagian lainnya, ada yang bisa melayani melahirkan di air sampai selesai dengan beberapa persyaratan tertentu.

Jika Bunda memilih untuk melakukan persalinan di air di rumah, pastikan untuk mencari tenaga medis yang bersedia menemani proses ini sampai selesai. 

Artikel Terkait: Bolehkah Ibu Hamil Melahirkan di Rumah? Simak Syarat dan Risikonya!

Persiapan Persalinan dengan Metode Water Birth di Rumah

Mengenal Proses Melahirkan di Air (Water Birth): Persiapan, Risiko, dan Manfaatnya

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk persalinan water birth di rumah.

1. Bak Air

Gunakan bak air yang cukup besar sehingga Bunda bisa duduk dengan nyaman di dalamnya. Pastikan batas tinggi air mampu mencapai ketiak Bunda ketika sedang duduk di dalamnya.

2. Ruangan Persalinan

Kebanyakan orang akan memilih ruangan di lantai pertama untuk melahirkan di air. Sesuaikan suhu serta luas ruangan agar persalinan bisa dilakukan secara optimal. 

3. Sumber Air

Air yang dipakai untuk persalinan dengan metode ini harus memenuhi syarat, seperti:

  • Bersih dari kuman penyakit
  • Hangat dengan suhu berkisar 35-38 derajat Celcius
  • Air hangat ini bisa langsung diperoleh keran rumah yang disambungkan ke bak melalui selang
  • Air hangat juga bisa diperoleh dengan cara direbus
  • Campur dengan secangkir garam untuk mencegah kulit menjadi keriput saat berlama-lama di dalam air.

Proses Melakukan Water Birth

water birth

Sebelum Bunda memutuskan untuk mengambil jalan melahirkan di air, perlu diketahui beberapa hal penting yang terjadi saat melakukan persalinan di air. Di antaranya sebagai berikut:

1. Melakukan Persiapan Persalinan Water Birth

Saat kehamilan Bunda sudah dekat dengan hpl sebaiknya persiapan alat dan bahan yang sudah disebutkan di atas. Jika serangan kontraksi sudah mulai terasa, segera hubungi pihak medis untuk menemani Bunda melahirkan. Siapkan air untuk mencegah dehidrasi saat proses melahirkan berlangsung. 

2. Temukan Posisi Nyaman saat Melahirkan di Dalam Air

Temukan posisi yang nyaman selama berada di dalam air. Minta dukungan moral dari pasangan atau ibu selama menjalani proses kelahiran. 

Dengar dan ikutilah instruksi dari pihak medis terkait waktu yang tepat untuk mulai mengejan. Saat bayi sudah keluar, dokter atau perawat akan mengeluarkan bayi perlahan-lahan dari dalam air agar tali pusarnya tidak rusak. 

Saat pertama kali bayi menyentuh udara bebas adalah waktu pertama kali ia mulai bernapas. 

3. Pasca Persalinan 

Setelah bayi berhasil dilahirkan, tugas ibu yang terakhir adalah mengeluarkan plasenta. Ini bisa dilakukan di dalam atau di luar air. 

Mengapa Harus Water Birth?

Berbagai pilihan metode persalinan, termasuk melahirkan di air ini semuanya tergantung oleh Bunda. Akan tetapi, harus didasarkan dengan alasan yang kuat dari dokter atau bidan yang menangani selama kehamilan hingga persalinan. Mereka akan memutuskan di mana dan bagaimana Bunda ingin melahirkan jika semuanya berjalan sesuai rencana. Selain itu, penyedia layanan kesehatan juga akan melihat kondisi janin sehingga yakin dapat melakukan persalinan yang aman dan sehat.

Namun, beberapa ibu hamil yang melahirkan di air melaporkan bahwa mereka merasa lebih terkendali, dengan kontraksi yang tidak terlalu menyakitkan. Mereka cenderung tidak membutuhkan suntikan epidural untuk manajemen nyeri atau obat-obatan untuk mempercepat persalinan. Tampaknya juga tahap pertama persalinan mungkin berjalan lebih cepat.

Artikel Terkait: Menakjubkan! Ibu ini melahirkan di Laut Merah melalui metode water birth

Bisakah Dilakukan di RS?

water birth

Di Indonesia, beberapa rumah sakit di kota-kota besar telah memiliki ruangan khusus untuk ibu yang ingin melahirkan di air. Sementara sebagian besar rumah sakit dan pusat bersalin menawarkan perendaman air, mereka tidak semua menyediakan fasilitas kelahiran air. Saat merencanakan di mana Bunda ingin melahirkan, pastikan untuk memeriksa apakah mereka menawarkan kelahiran air jika itu yang diinginkan.

Rumah sakit yang menawarkan water birth dilengkapi untuk menangani masalah yang mungkin timbul selama persalinan. Jika ada masalah, dokter atau bidan mungkin harus mengeluarkan Anda dari bak mandi atau kolam dengan aman dan cepat.

Jika Bunda berpikir untuk melahirkan di air, bicarakan dengan profesional perawatan kesehatan di awal kehamilan untuk mengetahui apakah itu adalah layanan yang disediakan rumah sakit. Jika demikian, ajukan beberapa pertanyaan dan catat hal penting seputar metode persalinan tersebut:

  • Siapa yang akan mengelola persalinan dan persalinan? Bidan dapat membantu, tetapi mereka akan membutuhkan bantuan dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan.
  • Anda memiliki profesional perawatan kesehatan berlisensi yang berpengalaman dengan cadangan dokter untuk membantu Anda melalui proses persalinan dan melahirkan.
  • Standar tinggi dijaga untuk memastikan bak mandi bersih dan terawat dengan baik.
  • Langkah-langkah pengendalian infeksi yang tepat tersedia.
  • Anda dan bayi dipantau dengan benar saat berada di bak mandi sesuai kebutuhan.
  • Ada rencana untuk mengeluarkan Anda dari bak mandi segera setelah dokter, perawat, atau bidan mengatakan sudah waktunya.
  • Suhu air diatur dengan baik, biasanya antara 36 hingga 37 derajat Celcius.
  • Anda minum air selama kelahiran untuk menghindari dehidrasi.
  • Mandi air hangat terlalu dini dapat memperlambat persalinan.

Ketika Bunda memilih untuk melahirkan di air, pastikan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui kondisi dan kesehatan selama kehamilan. Dengan mengetahui seluk-beluk seputar water birth dan konsultasi dengan pihak medis, Parents bisa melakukan hal yang terbaik untuk menjemput buah hati ke dunia.

***

Artikel telah diupdate oleh: Nikita Ferdiaz 

Artikel ditinjau oleh:

dr. Ingrid Felicia Ocsilia Wengkang, Sp. OG

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

RSIA Bina Medika

 

Baca juga:

8 Kunci sukses melahirkan Gentle Birth dari Bidan Yesie Aprilia

Video Water Birth yang Sangat Menyentuh Hati ini Viral di Media Sosial

Video melahirkan dalam air atau water birth untuk Bunda yang ingin melakukannya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »