[ad_1] Kita sering banget ngikutin “perang” di media sosial seperti Twitter. Biasanya dua kubu yang sedang berargumen saling melemparkan opini atau pendapat dan penafsiran (interpretasi) terhadap suatu masalah. Sering juga kita mengiyakan atau membenarkan, bahkan kagum, dengan opini yang dibangun oleh salah satu pihak yang sedang berperang tersebut. Sayangnya, banyak opini buruk yang disebabkan oleh tidak relevannya opini tersebut dengan topik yang sedang dibahas. Kalau orang bilang, “Jaka Sembung bawa parang, tolong jangan nyambung.” Banyak pendapat yang gak nyambung dengan masalah yang sedang dibahas. Masalahnya, kita sering enggak sadar kalau opini yang diajukan itu gak nyambung. Agar kita tidak terbawa oleh pendapat tersebut gak nyambung tadi, kita bisa mengujinya dengan melihat apakah opini atau argumen itu masuk dalam kesalahan herring merah. Apa itu kesalahan herring merah? Apa itu kesalahan herring merah? Nama teori ini diambil dari kegemaran para bangsawan Inggris berburu. Dalam berburu, mereka biasanya menggunakan anjing untuk mengendus dan melacak…
Urban
Cara Bijak Bermedia Sosial di Tengah Pandemi – Urban
[ad_1] Pandemi membuat manusia lebih banyak berinteraksi lewat daring. Dan, media sosial menjadi salah satu teknologi yang memfasilitasi aktivitas itu. Dilansir dari laman Databoks, data yang diperoleh dari App Annie menunjukkan bahwa durasi mengakses media sosial di tahun 2020 semakin meningkat. WhatsApp menduduki peringkat pertama dengan rata-rata 30.8 jam akses sebulan, disusul Facebook dan Instagram dengan durasi akses 17 jam. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah durasi bermain media sosial, maka semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Entah itu informasi penting, ataupun tidak. Semakin menumpuknya informasi di media sosial, membuat sebagian informasi dikategorikan sebagai sampah, atau disebut sampah informasi. Ditambah lagi dengan interaksi para penggunanya yang membuat media sosial menjadi kian ramai dan sesak. Terlebih saat pandemi. Selain informasi yang beragam, para penghuni media sosial atau netizen, juga sangat beragam. Mereka bebas mengekspresikan diri, beropini, mengajukan kritik dan berbagai kegiatan lainnya. Aktivitas netizen di media sosial ini memunculkan budaya baru dalam berkomentar….
Puisi | Alif Laam Miim… – Urban
[ad_1] ALIF LAAM MIIM…(Nyeri) Oleh: MNK Al Amin Alam kini telah membuka ayat-ayatnyaTuk mengingatkan bagi para manusiaTuk sekedar mampu dan mau menyebut Asma-Nya.Melalui tanah (bumi) dengan goncangannya yang mengerikan.Melalui panasnya terik matahari.Melalui hujan yang mengantarkan pada banjir.Air yang memberikan sapaan tsunami.Angin yang mampu menumbangkan pohon. Semua adalah sapaan alamBagi para manusia, agar tercerahkan.Ketika air, angin, api, dan tanah hanya diam.Manusia dengan keangkuhan dan keangkuhannya.Melakukan kerusakan-kerusakan pada sesama.Eksploitasi, korupsi dan ingkar janji. Ketika bingung karena dahsyatnya “sapaan” alam.Manusia baru mau menyadari.Bahwa itu adalah proses pencerahan dari Ilahi Rabbi.Tuk mau menyebut dan mengingat-Nya.Sehingga, harus dengan datangnya bencana.Manusia baru bisa menyebut Asma-Nya.Dari relung hati yang paling inti…. Teriakan-teriakan istighfar, tasbih, takbir, bahkan tahmid.Sayup-sayup mulai terdengar.Dari pencari keamanan dan tokoh simpatik.Tuk langsung berpikir sendiri.Semoga semua mampu untuk mendapat pencerahan dari Sang Ilahi. #AlamTelahMenyapa#HidupManusiaDiDunia#TakAkanAbadi#LaluApaYangKanKauCari#WahaiParaManusia#YangLupaDiri [ad_2] Sumber Berita
Obat Rindu pada Baginda Nabi – Urban
[ad_1] Hari itu adalah ketiga kalinya saya menghadiri pengajian ma’rifah an-nafs (mengenal diri sendiri) melalui kitab Al-Hikam Al-‘Atha’iyyah. Kajian ini cukup spesial karena diisi dengan pembacaan shalawat yang merdu dari Habib Razy. Pada pertemuan itu, Habib Razy membawa sehelai rambut Rasulullah yang ia simpan. Saya membayangkan bahwa rambut itu pernah menemani Nabi berdakwah dan basah oleh air wudhu, dan merasa takjub sejenak. Sebelum menutup pembelajaran, guru kami bercerita tentang Sayyidah Aisyah ra. Sejak kepergian Rasulullah SAW, tidak sekali dua kali Aisyah merindukannya. Setiap rindu menghampiri, Aisyah jatuh sakit. Kuatnya kerinduan Aisyah kepada Rasulullah tak mampu dipikul oleh raganya. Untuk mengobati rasa rindunya, Aisyah mengambil sehelai rambut Rasulullah saw, lalu memasukkannya ke dalam segelas air. Aisyah akhirnya merasa sedikit lega dengan kehadiran Rasulullah SAW, meski hanya rambutnya. Kisah itu membuat air mata saya mengalir begitu saja, saya lalu menyadari sedang merindukan orang yang bahkan belum pernah saya temui seumur hidup saya, Rasulullah….
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
