[ad_1] “Seharusnya waktu itu kau sudah terlahir. Kata dokter sepertinya tak ada kehidupan di perut ibu. Hanya saja entah mengapa mata ibu selalu melihat al Quran. Ada rasa ingin selalu mebacanya, walau ibu kurang fasih membacanya. Ibu terus membacanya dan di saat ibu membacanya perut ibu juga ikut bergerak bertanda kau itu hidup. Masih ada kehidupan di perut ibu. Ketika ibu berhenti membacanya maka gerakan itu terhenti juga,” “Apakah karena itukah namaku ibu?” “iya, karena itulah namamu Qurani. Dan tepat hari kelahiranmu ini, 12 September, juga kuazamkan tuk berpuasa. Semoga kelak kau sukses dunia akhirat.” ***Ibu terimakasih, jazaakumullahu khoiron.Terimakasih telah mengajariku kehidupan dan bagaimann hidup dalam kehidupan. Ketika SD, waktu itu engkau selalu ada di balik jendela kelas hanya tuk mengatakan, “Nun maju. Nulisnya harus cepat, jangan mau dikalah dan menjadi terbelakang!”. Dan dari situlah ku belajar tuk selalu berani dan gesit. Waktu itu, hanya saya sendiri yg mendapat nilai nol…
Kuberimu
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
