[ad_1] Hari ini, banyak orang ikut seminar literasi. Aktivitas literasi atau terjun ke gerakan literasi. Agar tercipta budaya literasi. Sehingga terwujud masyarakat yang literat. Terbentuknya orang-orang yang literat. Lalu, siapa sih orang yang disebut literat? Ketahuilah, seseorang dapat disebut literat. apabila memiliki kompetensi dan kecakapan dalam hidup. Orang-orang yang kuat dan mama memberdayakan keadaan atas dasar kesadaran belajar, kemampuan memahami realitas, dan mampu mentransformasikan pikiran ke dalam perilaku sehari-hari. Karena itu, orang yang disebut literat pasti memiliki 3 (tiga) ciri yang menonjol, yaitu: 1) hidupnya selalu adaptif, 2) kontibusinya selalu positif, dan 3) manfaatnya pasti solutif. Tanpa ciri-ciri itu, maka belum bisa disebut literat. Bangsa yang literat pasti dibentuk dari masyarakat yang literat. Sedangkan masyarakat yang literat, tentu dibangun dari individu-individu yang literat. Di era digital dan revolusi industri seperti sekarang, individu yang literat pastinya memiliki focus pada 3 (tiga) diskursus literasi yang penting, yaitu: 1) kemampuan literasi dasar, 2) memiliki…
Apa
Ergonomi Ini, Ergonomi Itu, Maksudnya Apa, Ya ? – Urban
[ad_1] Apakah kalian pernah dengar istilah atau kata-kata ergonomis ? Mungkin terkadang ketika kita sedang membuka website / aplikasi di handphone maupun laptop seringkali muncul kata ergonomi. Kebanyakan kata tersebut muncul pada iklan produk yang muncul atau juga pada artikel dan tips-tips. Nah, dari sekian seringnya kalian membaca dan mendengar kata ergonomi itu, apakah kalian mengerti apa maksudnya ? Kalau belum tau, yuk sekarang kita bahas ! Apa itu Ergonomi ? Kata Ergonomi itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ergos dan Nomos. Ergos sendiri memiliki arti yaitu kerja, dan Nomos artinya aturan. Jadi secara singkat Ergonomi dari namanya sendiri artinya adalah “Aturan Kerja”. Jadi, ergonomi itu merupakan studi yang mempelajari tentang posisi tubuh manusia yang baik dan benar dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Ergonomi sendiri memiliki banyak konteks dan ruang lingkup, seperti Teknik, Fisik, Pengalaman Psikis, Anatomi, Anthropometri, Sosiologi, Fisiologi, Desain, dan masih banyak lagi. Ergonomi biasanya banyak di aplikasikan pada posisi…
Gejala Apatisme Intelektual, Apa Kabar Para Cendekiawan? (Bagian 2) – Analisis
[ad_1] I.2 Tujuan Penulisan Ada 2 tujuan penulis memposting artikel bersambung ini (direncanakan lebih dari 30 judul artikel), yakni: a. Meluruskan peran kaum intelektual bangsa dalam menunaikan tugas keintelektualitasannya agar kembali pada kodrat sejatinya dalam mewujudkan cita-cita proklamasi. Kehendak ini sesuai dengan titah sejarah peradaban. Yakni, bertanggung jawab menangani segala isu keintelektualitasan peradaban/bangsa, baik berkenaan dengan isu fundamental maupun isu teknikal. Menurut penulis, kesan segregasi tanggung jawab kedua isu intelektualitas itu semakin nyata dan tajam belakangan ini, seolah-olah kaum intelektual hanya boleh bicara soal isu teknikal saja. Sedangkan isu fundamental merupakan kewenangan pemerintah atau politisi. Kesan itu terlihat pada rangkaian program perayaan 100 tahun Perguruan Tinggi Teknik Indonesia oleh ITB, subjek artikel LIPI maupun kerangka berpikir penyusunan Visi Indonesia 2045 oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Ketiga lembaga itu di-back-up oleh unsur-unsur profesional/intelektual dengan kualifikasi dan atribut akademis tertinggi di tanah air. Apakah memang logika berpikir seperti inikah yang ingin dibangun pihak-pihak…
Bila Kamu Aktif Kegiatan Sosial di Taman Bacaan, Apa Manfaatnya? – Peristiwa
[ad_1] Bahwa waktu itu berharga, sulit dibantah dan pasti semua orang setuju. Saking berharganya waktu, banyak orang berpesan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya. Waktu masih muda, waktu saat bekerja, bahkan waktu di dunia. Untuk apa waktu digunakan? Intinya, jangan menyia-nyiakan waktu. Waktu yang disis-siakan atau terbuang percuma itu lebih berbahaya dari kematian. Ada benarnya memang. Untuk apa seseorang hidup bila menyia-nyiakan waktu, Waktu yang tidka bermanfaat untuk dirinya sendiri apalagi orang lain. Waktu yang digunakan hanya untuk bersenda gurau, bermain-main atau bahkan hanya megejar dunia semata. Orang barat bilang “time is money”. Ada pula yang bilang “waktu adalah napas yang tidak akan pernah kembali”. Semua itu nasihat akan pentingnya memanfaatkan waktu untuk kebaikan. Waktu yang dipakai untuk amalan yang bermanfaat. Waktu di dunia untuk akhirat. Tapi sayang, saat ini tidak sedikit orang yang gemar menyia-nyiakan waktu. Siang malam hanya dipakai untuk bermain gawai atau menonton TV. Bahkan era gawai dan media sosial…
Seserius Apa Humor Gus Dur? – Gaya Hidup
[ad_1] Judul : Laughing Seriyes Ala Gus Dur Pengarang: M. Arif Rahman Hakim Tahun Publikasi: 2021 Penerbit: Gading Tebal: xviii + 110 ISBN: 978-623-96739-4-9 Tak akan ada yang menolak jika kita bilang bahwa Gus Dur adalah rajanya humor. Sebab dalam segala kesempatan beliau selalu melontarkan humor yang membuat mereka yang mendengar atau membaca akan tertawa, tersenyum atau malah tersindir. Beberapa orang telah mengumpulkan guyonan ala Gus Dur dan menjadikannya buku. Namun sepertinya belum ada yang membahas humor-humor Gus Dur dari sisi ilmiah; mengkaji gojegan ala Gur Dur dengan pisau ilmu pengetahuan. Buku karya M. Arif Rahman Hakim ini adalah buku yang menganalisis humor Gus Dur dari Ilmu Bahasa. Arif menggunakan pendekatan analisis pragmatik untuk membedah humor-humor Gus Dur dalam buku ini. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang melibatkan situasi dan konteks dari kalimat yang sedang dianalisis (hal. 19). Pendekatan pragmatik semakin berkembang dan disukai sejak 20 tahun terakhir ini. Sebab analisis ini…
Apa Kabar Kaum Buta Huruf Jelang Hari Aksara Internasional? – Peristiwa
[ad_1] Penulis Indonesiana Bergabung Sejak: 29 April 2019 1 jam lalu Peristiwa Berita Utama Zaman boleh canggih tapi tidak bermakna saat masih ada kaum buta huruf. Bagaimana kaum buta huruf jelang Hari Aksara Internasional? Inilah kisahnya Dibaca : 17 kali Katanya era digital, eranya teknologi hebat. Ternyata tidak semua orang bisa menikmatinya. Apalagi kaum buta aksara. Tapi begitulah adanya. Zaman boleh canggih. Tapi bila masih ada yang buta aksara di dekat kita, apalah arti itu semua? Itulah yang dilakukan GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Sebuah perjuangan melek huruf, melek baca tulis untuk mereka yang membutuhkan uluran tangan orang-orang yang bisa. Seminggu 2 kali mereka belajar. Dari mengeja suku kata, kata hingga menulis nama dan tanda tangan. Para ibu warga belajar buta aksara GEBERBURA TBM Lentera Pustaka tergolong kaum tidak beruntung. Setelah di data, mereka memiliki tingkat pendidikan 33% SD dan 67% SD tapi…
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
