Seserius Apa Humor Gus Dur? – Gaya Hidup

[ad_1]

Judul : Laughing Seriyes Ala Gus Dur

Pengarang: M. Arif Rahman Hakim

Tahun Publikasi: 2021

Penerbit: Gading

Tebal: xviii + 110

ISBN: 978-623-96739-4-9

Tak akan ada yang menolak jika kita bilang bahwa Gus Dur adalah rajanya humor. Sebab dalam segala kesempatan beliau selalu melontarkan humor yang membuat mereka yang mendengar atau membaca akan tertawa, tersenyum  atau malah tersindir. Beberapa orang telah mengumpulkan guyonan ala Gus Dur dan menjadikannya buku. Namun sepertinya belum ada yang membahas humor-humor Gus Dur dari sisi ilmiah; mengkaji gojegan ala Gur Dur dengan pisau ilmu pengetahuan.

Buku karya M. Arif Rahman Hakim ini adalah buku yang menganalisis humor Gus Dur dari Ilmu Bahasa. Arif menggunakan pendekatan analisis pragmatik untuk membedah humor-humor Gus Dur dalam buku ini. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang melibatkan situasi dan konteks dari kalimat yang sedang dianalisis (hal. 19). Pendekatan pragmatik semakin berkembang dan disukai sejak 20 tahun terakhir ini. Sebab analisis ini lebih sahih daripada analisis tradisionalisme, strukturalisme dan transformasi yang hanya berkutat pada bahasa itu sendiri dan mengabaikan konteks dimana kalimat tersebut digunakan. Itulah sebabnya saat membedah humor-humor Gus Dur, Arif senantiasa menyampaikan konteks, kepada siapa humor tersebut dilontarkan dan tujuan tuturan tersebut.

Arif juga melakukan pengkategorian humor-humor Gus Dur dari sisi tindak tutur. Dalam buku ini Arif menggambarkan bahwa dalam pendekatan pragmatik, tindak tutur bisa dikategorikan menjadi 3 jenis. Jenis pertama adalah lokusi, dimana tuturan dilontarkan tanpa ada tendensi tertentu ( hal. 26). Jenis kedua adalah ilokusi, yaitu tuturan yang selain menginformasikan sesuatu juga untuk melakukan sesuatu (hal. 27). Jenis yang ketiga adalah perlokusi, yaitu tuturan yang memberi efek bagi pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat tersebut (hal. 29). Di bab 3, Arif membeberkan humor-humor Gus Dur berdasarkan kita kategori di atas. Sedangkan di bab 4, Arif menganalisis strategi Gus Dur dalam menciptakan humor.

Contoh humor Gus Dur yang masuk kategori lokusi adalah percakapan antara wisatawan bule dengan tukang becak di Jogja. Lelucon tersebut adalah tentang seorang turis asal Amerika yang akan ke Gembira Loka menawar becak: “Berapa banyak? Senang Loka?” Si penarik becak menjawab “Lima ribu kombak-kambek, Mister!” Lelucon ini jelas tidak berpretensi apapun kecuali hanya untuk melucu.

Humor-humor Gus Dur memang bukan sekadar untuk melucu. Sering kali Gur Dur melontarkan humor adalah untuk menyampaikan pesan, sekaligus melakukan sesuatu. Jika di kategori lokusi Arif hanya memberi dua contoh, di jenis ilokusi ini Arif memasukkan 15 lelucon yang pernah dilontarkan oleh Gus Dur. Humor-humor jenis ini seringkali membuat mereka yang disentil oleh Gus Dur menjadi mati kutu. Contohnya adalah saat Gus Dur menanggapi ucapan Syarwan Hamid yang saat itu menjabat sebagai Kasospol ABRI. Syarwan Hamid menuduh Gus Dur dan Megawati yang runtang-runtung sebagai Kardinal James Sin dan Corazon Aquino. Syarwan Hamid menuduh bahwa Gus Dur dan Megawati sedang menyiapkan sebuah aksi people power seperti yang terjadi di Filipina. Alih-alih memperkarakan Syarwan Hamid ke ranah hukum, Gus Dur malah menanggapinya dengan humor. “Saya tidak akan nuntut, karena Syarwan Hamid nggak punya uang. Kedua, saya tidak butuh uang itu. Saya hanya menuntut satu jawaban jantan dari Syarwan Hamid. Coba jawab yang benar kalau saya memang Kardinal Sin-nya, Megawati Soekarnoputri itu Cory Aquino-nya Indonesia, maka siapa Marcos-nya? (hal. 69).

Melalui humor, Gus Dur juga ingin pendengarnya mendapatkan efek seperti yang diharapkannya. Salah satu contoh humor yang dipakai oleh Arif untuk menunjukkan jenis humorperlokusi ini adalah tentang seberapa dekat umat dengan Tuhannya. Gus Dur menggunakan percakapan tiga pemuka agama yang saling klaim bahwa agama merekalah yang paling dekat dengan Tuhan.  Orang Hindu memanggil tuhannya dengan Om, orang Kristen memanggil tuhannya dengan Bapa dan orang Islam memanggil tuhannya dengan suara keras dari atas menara (hal. 48). Di sini jelas Gus Dur ingin pendengarnya menghargai toleransi dan tidak merasa benar sendiri.

Di bab 4, Arif membahas strategi humor Gus Dur. Gus Dur menggunakan kepatuhan kepada maksim kuantitas sebagai alat untuk melucu. Contoh bule wisatawan dengan tukang becak di Jogja adalah contohnya. Strategi kedua yang dipakai Gus Dur untuk melucu adalah dengan mematuhi atau melanggar prinsip maksim kualitas. Contohnya humor Gus Dur tentang kosupsi yang semakin menjadi. Gus Dur menyampaikan bahwa di jaman Sukarno korupsi terjadi di bawah meja, di era Orde Baru korupsi terjadi di atas meja dan sekarang ini (saat Gus Dur menjadi Presiden?) mejanya yang dikorupsi (hal. 90). Arif juga menemukan strategi maksim relevansi yang digunakan oleh Gus Dur dalam menciptakan humor. Contoh strategi ini adalah humor Gus Dur tentang Winston Churchill dan Clement Atlee yang bertemu di toilet yang dilontarkan saat bertemu Presiden Amerika (hal. 92). Sedangkan strategi Gus Dur terakhir dalam menciptakan humor yang disampaikan oleh Arif adalah jenis maksim pelaksanaan (hal. 95).

Tampilan Arif dalam buku ini sangat menarik. Karena humor tidak hanya lucu. Namun di tangan Gus Dur, humor bisa menjadi alat yang sangat ampuh untuk menyerang orang yang bermusuhan dengannya dan juga bisa digunakan untuk mengarahkan orang lain melakukan apa yang diinginkannya.

Kalau ada hal yang kurang, buku ini masih terdapat beberapa kesalahan ketik. Selain kesalahan ketik, ada salah data yang muncul di bagian pengantar. Di pengantar halaman vi, disebutkan bahwa Corazon Aquino adalah putri dari Benigno Aquino. Padahal Cory adalah istri dari Benigno. Semoga kekeliruan ini tidak dimaksudkan sebagai bagian dari humor.

Kesulitan saya saat membaca dan membuat resensi buku ini adalah mengelola ketegangan saya antara menikmati kelucuan humor-humor Gus Dur dan konsentrasi kepada pisau analisis yang dipakai oleh Arif.  Serius untuk menganalisis humor itu memang sangat susah. Konsentrasi saya kadang buyar saat memahami analisis Arif karena humor Gus Dur tiba-tiba mengambil alih control terhadap otak saya. Namun dengan susah payah sambal terus tersenyum, akhirnya saya bisa rampungkan membaca buku ini dan membuat ulasannya. 616



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »