[ad_1] Kemampuan untuk mendeteksi dan bereaksi terhadap bau ancaman potensial adalah prasyarat kelangsungan hidup mamalia kita dan lainnya. Menggunakan teknik baru, para peneliti di Institut Karolinska di Swedia telah mampu mempelajari apa yang terjadi di otak ketika sistem saraf pusat menilai bau sebagai bahaya. Studi yang dipublikasikan di PNAS, menunjukkan bahwa bau negatif yang terkait dengan ketidaknyamanan atau kegelisahan diproses lebih awal daripada bau positif dan memicu respon penghindaran fisik. “Respons penghindaran manusia terhadap bau yang tidak menyenangkan yang terkait dengan bahaya telah lama dilihat sebagai proses kognitif sadar, tetapi penelitian kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa itu tidak sadar dan sangat cepat,” kata peneliti pertama studi tersebut Behzad Irvani, peneliti di Departemen Ilmu Saraf Klinis, Institut Karolinska. Organ penciuman mengambil sekitar lima persen dari otak manusia dan memungkinkan kita untuk membedakan antara jutaan bau yang berbeda. Sebagian besar bau ini dikaitkan dengan ancaman bagi kesehatan dan kelangsungan hidup kita, seperti…
Pada Mulanya adalah Ide: Dari HAM Hingga Keadilan Restoratif (oleh Kemala Atmojo) – Pilihan Editor
[ad_1] Ide itu bagaikan air yang terus mengalir. Ia meluncur lurus, berkelok, membesar, melewati bebatuan, mengecil, membesar lagi, mengalir lagi, dan seterusnya. Dalam setiap perkembangannya, ide yang berkembang menjadi gagasan, pemikiran atau konsep itu bisa berpengaruh besar pada beberapa sektor kehidupan. Begitulah ketika John Locke (1632-1704) berbicara soal pembagian kekuasaan (legislatif, eksekutif, dan federatif), kemudian dikembangkan oleh Montesquieu (1689-1755) menjadi legislatif; eksekutif; yudikatif. Hasilnya adalah pembagian kekuasaan yang dianggap paling tepat untuk sebuah negara modern, dan diterapkan di banyak negara tak terkecuali Indonesia hingga sekarang. Demikian pula Magna Charta Libertatum yang mulanya digagas para bangsawan Inggis agar raja tidak melakukan penahanan, penghukuman, dan perampasan benda secara sewenang-wenang terus berkembang, kemudian muncul dokumen Habeas Corpus pada 1679 yang antara lain menetapkan bahwa orang yang ditahan harus dihadapkan dalam waktu tiga hari kepada hakim dan diberi tahu atas tuduhan apa ia ditahan. Pernyataan dalam Habeas Corpus itu menjadi dasar bahwa orang hanya boleh…
