Tak Berkategori  

Kualitas Lingkungan Sekolah SMPN 24 Samarinda Terkiat Keberadaan TPA Bukit Pinang – Analisis

[ad_1]

Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakuknya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain (PP RI No.22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan PPLH). Kualitas lingkungan sekolah yang baik akan mendukung Proses Belajar Mengajar (PBM) serta meningkatkan konsentrasi belajar siswa. Kawasan lingkungan sekolah yang kondusif dari suara bising lalu lintas jalan raya dan atau suara industri, serta penataan bangunan dan ruang pada gedung sekolah diharapkan mampu membuat murid merasa nyaman untuk belajar di sekolah, oleh sebab itu kondisi kawasan lingkungan hidup sekitar sekolah (termasuk kondisi sosial masyarakat) merupakan salah satu faktor utama untuk mendukung Proses Belajar Mengajar (PBM).

Lingkungan hidup terdiri dari lingkungan hidup alami, lingkungan hidup binaan dan lingkungan hidup sosial yang saling berkaitan dan saling menentukan corak atau kualitas lingkungan hidup secara keseluruhan. Keterkaitan atau hubungan timbal balik antara lingkungan disebut sebagai ekosistem, komponen ekosistem terdiri dari komponen abiotik, komponen biotik dan komponen culture (sosial budaya/ corak), komponen ekosistem akan membentuk suatu kesatuan yang teratur dan harmonis untuk mendukung keberlanjutan lingkungan hidup. Pemanfaatan sumberdaya alam termasuk ruang dan kawasan pada suatu wilayah untuk kepentingan/aktivitas manusia, harus menyesuaikan dengan kondisi abiotik dan biotik kawasan tersebut, sehingga membentuk keseimbangan yang harmonis antara lingkungan hidup alami dan lingkungan hidup buatan/ binaan yang didalamnya termasuk lingkungan hidup sosial (budaya).

Ekologi manusia merupakan hubungan manusia sebagai komponen lingkungan hidup sosial (culture/ budaya) dengan lingkungan hidup tempat tinggal (abiotik dan biotik), hubungan manusia dengan alam dalam ekologi manusia sama dengan model hubungan makluk hidup dengan alam, tetapi ada pertimbangan benar atau salah tergantung apakah dampak yang ditimbulkan mengakibatkan keuntungan atau kerugian bagi diri sendiri atau bagi manusia serta mahluk hidup lain. Pada awalnya perilaku manusia atau budaya manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alamnya, melalui proses budaya dan pendekatan teknologi manusia mampu mengubah lingkungan alamiah menjadi lingkungan binaan/ buatan melalui pendekatan adaptif dinamik, dimana manusia memilih sumberdaya alam termasuk ruang dan kawasan berdasarkan pertimbangan analisis dinamik pada sumberdaya dan materi/energi.

Pendekatan adaptif dinamik dilakukan terhadap kondisi lingkungan hidup SMPN 24 Samarinda Ulu terhadap keberadaan TPA Bukit Pinang, lokasi sekolah berdekatan dengan TPA Bukit Pinang dalam radius 750 meter. Keberadaan TPA tersebut kerap menjadi keluhan dari masyarakat sekitar, termasuk dari warga sekolah SMPN 24 yaitu guru dan murid/wali murid, terutama bau yang kurang sedap dan air lindi dari TPA yang mengalir ke lingkungan sekolah yang menyebabkan bau yang menyengat, dan saat kondisi cuaca hujan lingkungan sekolah sering dilanda banjir, sehingga kondisi lingkungan sekolah kurang layak untuk  mendukung Proses Belajar Mengajar (PBM).

Berdasarkan hasil pengukuran kualitas lingkungan pada beberapa lokasi, kualitas lingkungan untuk kondisi udara ambien, termasuk TSP (debu) dan kebauan (amoniak/NH3) dan hidrogen sulfide/H2S hasil pengukuran pada lokasi SMPN 24 dan kawasan pemukiman masih  baik/ sesuai bakumutu, sedangkan pada lokasi depan TPA kualitas udara ambien tinggi dibanding dua lokasi pengukuran yang lain, kondisi tersebut disebabkan oleh kendaraan bermotor yang melintasi jalan poros depan TPA Bukit Pinang dan kendaraan pengangkut sampah yang keluar masuk lokasi TPA.

Kondisi lingkungan berdasarkan kualitas air permukaan yang berasal dari drainase SMPN 24 menginformasikan lingkungan sekolah tidak dalam kondisi baik, hasil analisis kualitas air pada parameter COD dan BOD yang sangat tinggi dibandingkan kualitas air drainase sekitar, mengambarkan bahwa kualitas air tersebut bukan merupakan kualitas air drainase pada umumnya atau lebih mendekati pada kualitas air limbah (kemungkinan air limbah dari lokasi TPA). Kondisi kualitas air tersebut akan sangat mempengaruhi kualitas lingkungan sekolah terutama nilai estetika sekolah, perencanaan saluran drainase menjadi pertimbangan kritis dalam perbaikan bangunan sekolah.

Berdasarkan hasil kuisioner kepada warga sekolah yaitu guru dan murid/wali murid terhadap kualitas lingkungan sekolah terhadap keberadaan TPA untuk mendukung kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM). Secara komulatif penilaian responden adalah 59% meminta gedung SMPN 24 diperbaiki/renovasi, dan selebihnya mengharapkan sekolah pindah ke lokasi lain. Menurut pertimbangan responden, lokasi SMPN 24  yang berdekatan dengan TPA Bukit Pinang menjadi faktor penyebab kondisi lingkungan SMPN 24 mendapat nilai buruk dan atau cukup dari responden, seperti kualitas air permukaan yaitu drainase yang berwarna hitam pekat (kemungkinan berasal dari IPAL TPA Bukit Pinang) dan kadang menimbulkan bau yang kurang nyaman, asap dari TPA Bukit Pinang, dan bencana banjir yang sering melanda sekolah.

Tim PKM; M. Busyairi, Budi Nining W, Fahrizal Adnan, Sariyadi dan KSM 2021



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »