Kisah Nyata Melacak Si Clearky (1-5) Oleh Wina Armada Sukardi

Kisah Nyata Melacak Si Clearky (1),  Hilangnya Si Anak Manja

Dari tahun 2014, ketika masih berumur tiga bulan, dia sudah saya latih secara khusus. Layaknya “anak-anak“ seusianya, saya latih dia secara bertahap. Latihan pertama cara untuk duduk dan diam yang benar.

Setelah berbulan-bulan mampu melaksanakan instruksi itu, lalu saya tingkatkan dengan kemampuan-kemampuan lainnya.

Dia, antara lain, saya ajarkan untuk mengambil barang.

Setelah barang diam, saya lanjutkan denga. barang yang sengaja kami lempar. Rupanya, dia termasuk cerdas.

Dengan cepat dapat menerima pelajaran itu dan memperakteknya dengan baik.

Tingkat kesulitan sayang tambah lagi, dia saya minta mengambil barang yang dilempar, nanun kali ini saya ikuti dengan bersembunyi diri. Dia harus mencari dimana saya bersembunyi.

Mula-mula dia agak susah dan kebingungan, tapi tak butuh waktu lama dia tahu harus bagaimana mencari kami yang bersembunyi.

Hebatnya lagi, dia dapat mengetahui dimana kami saja bersembunyi, wakaupun tempat persembunyian pindah-pindah.

Dia menelusuri tempat-tempat kemungkinan dimana saya atau anggota keluarga bersembunyi.

Dimana pun kami bersembunyi, seperti di balik gorden, di belakang lemari dan bahkan ke dalam kamar, hampir pasti dapat ditemukannya.

Berikutnya dia kami ajarkan melonjat dengan halang rintang yang rendah.

Dasarnya sudah memikiki bakat terampil, dia dapat cepat menguasai pelajaran itu.

Dia dapat melonpati benda-benda yang menghadangnya, meski kadang-kadang sengaja ada isengnya, dia melanggar rintangannya.

Panggilan Wajib

Di rumah dia boleh main dimana saja. Hanya saja terkadang kalau namanya dipanggil dia sering “membandel” tidak mau datang.

Akhirnya saya ajarkan, kapan pun, dalam keadaan bagaimana pun, kalau saya sudah memanggil dengan suitan keras, seketika itu juga dia harus datang. Wajib.

Dan luar biasanya, dia faham dan patuh pula.

Begitulah kalau namanya dipanggil-panggil tak ada juga, atau tak mau datang, langsung saya bersuit keras. Pastilah dia muncul dengan wajah sumringah.

Kalau kami foto keluarga, dia lebih banyak duduk depan. Anggota keluarga kami membiarkannya saja sambil senyam-senyum. Kami semua sudah faham dia memang manja, jadi kami membiarkanya saja.

Agar penampilannya selalu rapi, menarik dan wangi, dia dalam priode tertentu kami bawa ke salon khusus.

Pulang dari salon penampilannya memang menjadi jauh lebih menarik.

Dia sendiri setiap pulang dari salon, sampai di rumah selalu banyak minum. Boleh jadi capai dan haus. Dasar Si Manja.

Takut Petir

Manakala dia kecil, anggota keluarga kami sehari-hari sebagian besar melakukan kegiatan rutin di luar rumah.

Ada yang kuliah, kerja, termasuk saya. Adapun yang biasanya kebanyakan tinggal di rumah cuma isteri saya. Mau tak mau sehari-hari di rumah dia lebih banyak dengan isteri saya.

Persoalannya, isteri saya takut dengan petir.

Rupanya, rasa takut petir isteri saya itu menular kepadanya.

Kalau mendengar peting, badannya sampai bergetar dan menggigil. Jika hujan besar dan banyak petir, isteri saya memeluknya dan mereka sama-sama saling menenangkan diri.

Urusan makan, waktu kecil, karena hubungan batinya dekat dengan isteri saya, dia maunya bahan-bahan makanannya “diramu” langsung dari tangan isteri saya.

Setelah besar, barulah di menyenangi daging, apalagi jika bahanya hati.

Nah, itulah dia Si Clearky, anjing jenis Shih-Tzu. Jenis ini adalah salah satu ras anjing tertua yang berasal dari Tiongkok.

Anjing ras ini memiliki bulu yang panjang dengan berbagai warna dan pola pada bulunya.

Bulunya yang panjang dapat menutupi telinga, badannya yang kokoh, moncong pendek, dan kaki pendek.

Clearky berwarna dasar putih dengan variasi coklat dan ada sedikit abu-abu. Jadi tiga warna. Bulunya juga panjang, sehingga perlu rutin disisir dan dibawa ke salon.

Kamis, 1 Desember 2022, waktu kami pulang ke rumah malam hari, Clearky tidak ada. Dia hilang tanpa jejak…

Kisah Nyata Melacak Si Clearky (2), Misteri Lenyapnya Anjing Kami

BUKAN alang kepalang terkejutnya kami, ketika kami sampai rumah, Kamis, 1 Desember 2022 itu, si Clearky tidak ada di rumah.

Dicari-cari kemana-mana, tak ditemukan.

Semua sudut-sudut rumah malam itu kami telusuri berulang-ulang, tetap dan ditemukan.

Kolong-kolong tempat, tak luput kami periksa juga. Hasilnya nihil.
Jurus andalan saya pun saya pakai.

Saya bersuit keras. Kali ini gagal total. Si Clearky tak muncul-muncul. Kemana dia gerangan?

Bebas Kemana Saja

Rumah saya terdiri dari tiga bagian. Pertama, bagian depan: perkarangan, tempat parkir mobil dan tempat anak-anak bermain.

Untuk memisahkan dengan jalan umum, kami buat pagar lumayan tinggi dari besi.

Celah-celahnya pagar kamui tutup dengan karbonet berwarna hitam.

Dengan begitu, baik dari dalam maupun dari luar , tidak dapat saling melihat.

Kini beberapa bagian dari karbonet itu sudah ada yang pecah atau bolong, sehingga dari sudut yang bagian sobek atau bolong ini masih dapat melihat dari dalam ke luar pagar, dan sebaliknya.

Untuk keluar ada dua pintu. Satu pintu gerbang besar yang dibuka tutupnya dengan cara digeser.

Ini terletak di sebelah kanan, jika dipandang dari sudut dalam rumah. Pintu ini untuk keluar masuk mobil.

Pintu kedua, terletak di ujung sebelah kiri. Pintunya kecil. Biasa untuk keluar masuk orang. Semua pintu selalu terkunci.

Bagian kedua, bangunan rumah utama yang terdiri dari dua lantai.

Dari bagian pertama ke bagian dua dibatasi pintu gebyok.

Di bagian bawah bahian dua, di buat hampir tanpa sekat, kecuali untuk kamar, kamar mandi tamu dan dapur kosong. Selebihnya terbuka.

Di sisi kiri bagunan utama ada lagi pintu dengan ukuran menengah.

Mobil bisalah masuk. Gunanya, dulu, agar semua asissten rumah tanggah lewat pintu ini.

Begitu juga kalau ada “tukang” atau kuli atau petugas servis lainnya, lewat pintu juga, sehingga tak perlu masuk bangunan utama.

Begitu pula jika ada hajatan, lewat pintu ini dapat pula dipakai untuk parkir tiga mobil.

Pintu ini sekarang jarang terbuka karena sudah tidak ada kagi assiten rumah tangga yang menginap.

Bagian ketiga, perkarangan belakang, terdiri dari joglo 9 meter, kolam renang seperempat olimpik, dapiu kotor, tempat cuci pakian, dan deretan kamar pembantu.

Antara bagian ini dengan ruang bangunan utama dibatasi oleh dua pintu juga.

Pertama, pintu geser yang panjang. Kalau pintu ini terbuka, ruanga gedung utama dengan bagian taman perkarangan belakang menjadi menyambung.

Biasanya kalau ada kumpul-kumpul atau hajatan pintu ini dibuka.

Dari baguan ini pula ada tangga menuju kamar-kamar tidur di lantai dua.

Lantai dua tempat peivate, kalo bukan anggota keluarga atau tamu dekat, tidak kami bawa ke lantai atas.

Sedangkan pintu kedua, pintu biasa yang menghubungkan dapur bersih dan dapur kotor, serta kamar asissten pembantu rumah tangga.

Baik pintu besarnya maupun pintu kecilnya dikunci dari dalam, sehingga sebelum dibuka dari asssiten pembantu rumah tangga tidak dapat masuk lewat kedua pintu ini.

Nah, Clearky boleh main dimanapun. Dari bagian pertama
sampai

Ketiga, termasuk bebas naik turun ke atas bawah. Tapi kalau kami semua pergi, dia kami tempatkan di gedung utama.

Dan semua pintu keluar kami tutup. Juga kami kunci. Teoritis tidak mungkin di dapat keluar dari gedung bangunan utama ini karena tidak ada celah di pintu atau bangunan yang dia dapat lewati.

Jenis anjing shih tzu memiliki sifat ingin selalu berkawan. Ingin selalu ada orang dekatnya.

Para ahli anjing melabel anjinh shih tzu dengan semboyan “kemanapun kamu pergi, pastilah aku selaku ada disisimu.” Dia ingin selalu dekat oramg.

Sebagaitipe anjing keluarga, jangankan dengan anggota keluarga, atau mungkin tamu, kalau ada malingpun bakalan diajaknya main dan bercanda.

Jenis anjing ini memang suka bergaul. Masalahnya kami sering sekeluarga sering keluar rumah serentak bersama dan meninggalkan rumah kosong.

Untuk menghibur si Clearky yang kami tinggalkan, kami selalu memasang televisi buat dia.

Dengan begitu setidaknya dia merasa ada suara orang di rumah.

Kalau kami tinggalkan kami sudah siapkan minum makanan yang dapat dia makan setiap saat.

Kalau kami pergi, dia mau buang kotoran, selama ini dia masih dapat menahannya sampai kami datang kembali, tapi untuk kencing dia kerap kali sudah tidak tahan, apalagi setelah agak tua, dan akibatnya kerap kecing di dalam.

Kami maklum saja.

Biasanya, kalo itu terjadi, setelah kami pulang, kami siram bekas kencingnya degan karbol berkali-kali, lantas kami pel sampai bersih pool.

Sudah bertahun-tahun sejak dia kecil sudah sering kami tinggalkan sendiri.

Selama ini tidak pernah ada masalah. Begitu kami datang, dia selalu mengibas-ngibaskan buntutnya, seraya berdiri merangkul kami yang baru datang.

Nanun malam itu sangat berbeda. Kala kami pulang, dia tak ada di rumah. Dia hilang. Tentu kami heran, kemana perginya?

Keluar lewat mana? Gak mungkin dapat keluar.

Hari itu kami menggantar isteri saya booster kedua di Gandaria City.

Pulangnya kami gabung dengan cucu kembar dan orang tuanga yang baru saja memeriksa kandungan kehamilannya di dokter.

Kami kemudian mengantar acucu kembar menonton sea world di Neo Soho, Jakarta Barat. Dari sana kami masih kembali ke PIM membawa cucu kembar naik kereta-keretaan buat anak yang ada disana.

Kami hari itu berangkat pukul 10 pagi, dan pulang pukul 10 malam. Sampai rumah sekitar pukul 22.30. Saaat itulah kami baru tahu Clearky lenyap.

Sebenarnya waktu kami pergi masih ada seorang asissten pembabtu rumah tangga.

Dia biasanya datang pagi, dan jam 12an atau kurang, sudah pulang. Untuk praktisnya, dan dia sudah lama bekerja dengan kami, assisten pembantu rumah tangga ini kami izinkan membawa dua jenis kunci.

Satu kunci untuk pintu masuk dari bagian depan ke ruang bangunan utama bawah.

Kedua kunci pintu kecil untuk keluar. Dia katanya hari itu pulang dari rumah kami pukul 11an.

Waktu kami tanya, apakah waktu dia pulang Clearky masih ada, dia menjawab menyakinkan.

“Masih ada kok di dalam. Malah saya bilang, Clearky tunggu ya!” kata asissten pembantu rumah tangga wanita setengah baya itu menjelaskan

Asissten pembatu rumahtagga ini juga menjelaskan, pintu ke arah perkarangan belaka dari ruang gedung utama juga tertutup.

”Tapi saya gak tahu persis, dikunci tidak atau udah ketutup rapet belum,” tegasnya.

Malam itu juga kami periksa CCTV kami. Sialnya , salah satu kamera yang mengarah ke pintu gerbang besar sedang rusak.

Jadi kami tidak dapat mengetahui apa yang terjadi disana.

Sedangkan melalui rekaman CCTV, jam 11 an ketika assisten pembantu rumah tangga kami pulang kewat pintu kecil sebelah kiri, memang terkihat tidak ada Clearky mengikutinya keluar.

Apalagi sampai Clearky digedong, karena asissten pembatu rumah tangga ini tidak begitu menyukai anjing, meski bersedia dan sehari-hari mau ada anjing di dekatnya.

Siang, sore sampai jelang magrib memang hari itu Jakarta digusur hujan lebat. Tentu pastinya ada banyak petir besar bersuara menggelegar. Di jalan unum macet dimana-mana.

Makanya di rumah, walau pun kami pasang televisi, pastilah Clearky ketakutan.

Biasanya kalo sudah begitu, dia masuk ke kamar saya di atas , atau masuk ke satu kabar di bawah.

Dia akan “berlindung” di bawah kursi atau tempat tidur disana. Makanya kalo dalam keadaan demikian, kami datang bukan main suka citanya anjing ini.

Berbagai Teori Kemungkinan

Tapi malam itu beda. Si Clearky tak ada. Jejaknya pun tidak kami temukan. Kemana pergi atau minggatnya?

Berbagai teori dari kami muncul.

Teori pertama, kemungkinan pintu dari ruang gedung utama ke belakang tidak tertutup rapat, dan Clearky keluar lewat sana.

Lalu karena dia ketakutan, dia lari kesana kesini, da kejebur kolam renang kami.

Kebetulan pompa kolam renang sedang rusak, sehingg airnya butek. Jadi kalau pun kecebur kesini, belum terlihat jelas bangkainya.

”Biasanya kalau bangkai yang kecebur baru tiga hari kemudian bangkainya mengambangnya,” salah satu anak saya berteori.”

“Teori kedua, pintu depan rumah tidak terkunci dengan benar oleh assisten pembantu rumah tangga kami waktu dia pulang.”

“Ini memang sering saya alami.”

“Sudah saya kunci, tapi pintu masih dapat terbuka. Rupanya waktu dikunci tidak terkunci dengan benar, sehingga tidak rapat dan pintu dapat teebuka kembali.”

Menurut teori ini, sewaktu keluar ke arah pintu ini, Clearky melihat kucing dan mengejarnya.

Si kucing keluar lewat saluran got pendek yang menghubungkan ke luar perjarangan.

Jika kucing lihai bermanuver, Si Cleaky bakal pelangak pelongok. Setelah itu dia bisa diambil orang atau pun tertubruk mobil.

Tapi teori ini pun menjadi tidak kuat, karen a menurut menantu saya, waktu dia datang pintu ini masih terkunci rapat.

Waktu besoknya pembantu saya masuk dan diberitahu Clearky hilang, dia malah punya teori lagi: mungkin dimakan ular!!! Tapi teori ini juga lemah.

Sebab selama saya tinggal di rumah belum pernah ditemukan satu ular pun, apalagi ular besar.

Lagi pula, kalau dimakan ular, pasti ada bekas-bekas atau jejaknya. Ini sama sekali tidak ada.

Semua teori menjadi lemah. Bagaimana si Claerky lenyap masih misterius…

Kisah Nyata Melacak Si Clearky (3) Pelipur Lara Putus Cinta

Kehadiran Clearky di keluarga kami memiliki sejarah panjang dan unik.

Sebelum memiliki Si Clearky, keluarga kami pernah lebih dahulu mempunyai anjing juga. Jenisnya Saint Bernard. Ini jenis anjing sangat besar tapi penyayang.

Anjing Saint Bernard tipe anjing yang awalnya ditujukan untuk anjing pekerja dan untuk pertolongan, termasuk di alam yang dingin seperti salju.

Makanya di rumah kami dia tidur di ruangan yang berAC. Kalau tidak, dia akan kepanasan.

Berat Saint Bernad sekitar 60 -100 kg. Si Boeboe, nama anjing kami itu, wakaupun betina, beratnya 70 kiloan.

Saint Bernard dikenal karena kesetiaannya, ketajamannya dan toleran terhadap anak-anak dan hewan lainnya, sehingga anjing St. Bernard sering dijadikan sebagai anjing keluarga.

Ketika berusia masih empat tahun si Boeboe sakit. Belum sempat dibawa ke dokter, dia sudah wafat.

Anak perempuan saya yang waktu itu masih SMA menangis terus menerus meratapi matinya di Boeboe. Memang Si Boeboe saya berikan kepadanya sebagai hadiah ulang tahunnya

“Lebih baik kehilangan pacar, daripada kehilangan anjing kesayangan,” katanya waktu itu.

Hadiah Putus Cinta

Kisah Clearky beda lagi. Anak sulung saya kala itu telah memiliki pacar, bahkan sudah lima tahun. Keluarga pacarnya dan keluarga kami bahkan sudah saling mengenal.

Namun Tuhan berkehendak lain. Mereka putus alias berpisah. Tidak jelas alasannya apa. Si Sulung pun kelihatan ada rasa tertekan dan sedikit frustasi. Setidaknya kuliahnya jelas terganggu.

Bagaimana cara mengatasinya?

Sebelumnya dia pernah bilang senang anjing kecil, khusus jenis shih tzu. Tapi dia mau yang warnanya putih coklat, bukan hitam.

Nah, untuk mengiburnya saya pun mulai melacak jenis dan warna anjing yang dia sukai. Baik kontak dengan teman-teman maupun melalui penelusuran digital.

Untung tak dapat ditampik, malang tak dapat ditolak. Ada anjing jenis itu dijual. Hanya saja, waktu saya kontek dan mau beli, ternyata anjing itu sudah lebih dahulu dibeli orang lain. Namun disitulah letak mujurnya kami.

Dari penelusuran digital, ada seorang mahasiwi mau menjual anjing ahih tzu yang baru beberapa hari dibelinya. Alasannya, orang tuanya tak setuju, dan yang utama, dia sendiri ingin melanjutkan kuliah ke Singapura.

Kami lacak keberadaannya. Dapat. Dia tinggal di Bintaro, sektor 9.

“Masuk aja dari jalan yang di depannya ada toko listerik,” katanya. Kala itu geole map belum jamak. Maka kami ubek- ubek sebagian besar Bintaro yang “jalan depannya ada toko listrik.”

Tidak ketemu. Oh, belakangan baru kami mahfum, rupanya maksud dia “toko listerik”
adalah “Electronik City.” Dari situ kami dapat menemukan rumahnya.

Pemiliknya tidak ada di rumah. Sebelumnya lewat telepon kami sudah sepakat: harga Rp 2.250.000. berikut kandang, rantai, shambo. Semuanya baru dia beli.

Setelah kami lihat ternyata itulah anjing yang kami lihat di online dan mau kami beli. Tapi sudah keburu dibeli mahasiswi.

Jadi, rupanya anjing ini sudah “berjodoh “”dengan si sulung kami. Sejak itu Clearky menjadi seperti anggota keluarga kami.

Hiburan Keluarga

Sewaktu kami belum memiliki cucu, dialah hiburan keluarga kami. Semua anggota keluarga menyayanginya.

Saya dan isteri bahkan terkadang memanggilnya dengan sebutan “Nak.” Anak perempuan saya memamngil dengan sebutan kesayangan “kunyil.”

Kalau kami pergi, tak lupa kami selalu bawa oleh-oleh buat dia. Bisa makanan sehat, bahkan baju. Tak hanya itu, sangat sering Si Cekarky jika kami pergi naik mobil untuk belanja, dibawa serta.

Jika membeli galon di sebuah warung besar dekat rumah, anjing ini pun hampir selalu diajak anak saya. Satpam di warung itu sampai hafal terhadap Clearky.

Maka jika Clearky tidak ikut waktu beli gakon, si satpam bakal bertanya,”Anjingnya mana? Kok gak dibawa?”

Si sulung lantaran pengemar kesebelasan Menchester United (MU), pernah membelikan baju anjing itu dengan lambang MU.

Anjing Terlatih

Dari mulai dibeli berunur dua bulan, sampai kiwari (saat ini), Clearky tidak pernah ditaruh di kandang.

Dia boleh tidur dimana saja yang dia suka. Clearky hanya dikurung kalau di rumah ada hajatan karena dia bisa terus menggong, dan yang terpenting belum tentu semua tamu yang datang juga menyukai anjing.

Jadi, kita harus menghormati tamu itu, Clearky kami kurung. Usai acara hajatan dia kami lepas lagi.

Sejak kecil dia sudah kami latih berbagai aturan dan kepatuhan. Dia tidak boleh makan makanan yang ada di meja, walaupun meja itu rendah dan dalam jangkauannya.

Sampai sekarang kalau ada makanan di meja, dia tidak pernah menyentuhnya.

Oleh sebab itu kami tidak pernah khawatir sama sekali jika meletakan makan di atas meja manapun. Si Clearky tidak akan menyentuhnya, apalagi memakannya.

Dia juga secara khusus saya ajari berbagai keterampilan. Misal untuk menahan diri, walaupun di depannya diletakan makannya.

Baru setelah ada komando “oke,” dia boleh memakannya.

Begitu juga jika ada saya dan pintu pagar depan dibuka, kalao perintah “sit, down and stay,” dia akan duduk dengan tenang serta tidak akan lari ke depan. Begitu seterusnya dengan pelatihan-pelatihan lain.

Dia menjadi anjing terlatig, terampil dan patuh.

Semua saya sendiri yang mengajarkannya. “Ilmu” itu saya peroleh dari berbagai buku. Oleh sebab itu saya sering “sombong” ke orang dengan mengatakan,”Saya pelatih anjing lho!” Padahal cuma pelayih anjing amaterin. Hehehe

Makanya, walaupun manakala dimrumah banyak orang, kalau dia mau kencing keluar, yang digonggong sebagai pemberitahuan, selalu diri saya.

Setelah saya tunjuk anggota keluarga untuk menggringnya keluar, barulah dia mengikutinya.

Tak Sudi Sebarang Cewek

Kami faham , sebagai anjing jantan, secara naluriah dia memmerlukan menyaluran biologis juga.

Sudah sejak lama kami mencari “lawannya,” namun tak pernah dapat, kalau pun ada tidak cocok karena “bukan seleranya.”

Pernah ada seorang kawan, punya anjing shih tzu betina. Kami sepakat mengawininya pada musim kawin anjing.

Si aniing betina pun dititip di rumah kami sampai seminggu. Maksudnya supaya dapat kawin dengan si Clearky. Anaknya bagi dua.

Hasilnya? Ternyata si aniing betina itu, dikirik Clearky pun tidak. Sampai diambil lagi pemiliknya, tak ada tanda-tanda Clearky menyukainya…

Kisah Nyata Melacak si Clearky (4) Setitik Cahaya di Injure Time

HILANGNYA Si Clearky jelas merupakan pukulan batin buat kami sekeluarga. Anjing itu selama delapan tahun bersama kami sudah seperti anggota keluarga sendiri. Semuanya sayang padanya.

Dia anjing yang lucu. Dapat mengambil hati majikannya. Menghibur. Patuh pula. Selama delapan tahun dia hadir dalam keluarga kami.

Dan kini dia hilang lenyap tanpa jejak sama sekali bagaikan ditelan bumi.

Kalau mati, setidaknya kami masih melihat jenasahnya. Belum lagi hilangnya pun masih misterius kenapa dan bagaimana.

Bagaikan ditiup angin, entah kemana. Bikin pilu kami sekeluarga.

Pada malam hari kami pulang dan Clearky hilang kami masih berharap ada kejelasan ikhwal nasibnya. Begitu juga esok harinya, dalam bayang-bayang baur, kami masih mengharapkan dapat kabar berita ap yang terjadi pada anjing mugil itu.

Kami kelurga yang yakin dan percaya, doa yang tulus ikhlas sering menjadi sesuatu yang ajaib. Juga doa untuk binatang sekalipun.

Itulah sebabnya pada hari pertama dan kedua, ketika sujud pada rakyaat terakhir, saya selaku berdoa, meminta petunjuk kepada Sang Pencipta dan Sang Yang Maha Mengetahui.

”Ya Allah, izinkanlah saya mohon kepadaMU, tunjukanlah dimana keberaan si Clearky. Apapun yang terjadi.”

Ternyata isteri saya, tanpa kami janjian, pada waktu sholat juga berdoa yang sama, mesti dengan kata-kata yang berbeda.

Kendati begitu, terus terang saja, lantaran tak ada petunjuk sama sekali, pada malam hari kedua kami sebenarnya sudah mulai speakless alias tidak dapat bicara lagi soal ini.

Harapan memastikan apa yang terjadi pada anjing itu mulai memudar meninggalkan perih di hati.

Hari ketiga kehilangannya semakin terasa, tetapi harapan mengenai akhir cerita sebenarnya mulai kabur dari asa kami.

Apalagi kami bisa menemukan dirinya dimana, hidup atawa mata.

Pada pagi hari keempat kami sudah mulai merelakan kehilngan Si Clearky. Meskin masih misterius apa yang terjadi, kami sudah tak berharap dia dapat ditemukan lagi.

Kalau pun ada yang kami tetap sesalkanya: kenapa kami tidak sampai mengetahui bagaimana caranya lenyap.

Dalam keadan sudah hamba harapan itulah, hari minggu atawa hari keempat sejak hilangnya si CLearky, kami melaksanakan niatan membersih atau tepatnya menguras air kolam kami.

Untuk itu kami dibantu Pak Sugeng, tetangga belakang rumah kami. Di mantan teknisi di sebuh group jaringan hotel.

Jadi dia faham seluk beluk teknis ponma air dan mengurasnya. Rupanya mesinnya memang tak nyala. Mungkin rusak atau ada yang salah atur.

Setelah mesin pompanya diperiksa, ternyata ada beberapa bagian pompa yang rusak dan perlu dibongkar dulu agar berjalan lagi.

Baru setengah hari, Pak Sugeng minta izin berhenti dulu dan bakal dilanjutkan pada hari lain.

Di hari itu kakaknya mau datang ke rumahnya , sehingga dia perlu menemani kedatangan keluarga kayaknya. Dia memang sebelumnya sudah memberitahu kami hari itu tidak dapat mengerjakan full time. Kami mahfum.

Dorongan Bercerita di Injuri Time

Setelah dia mau pulang, tiba-tiba saya bercerita kepada Pak Sugeng, kami sedang bersedih.

“Anjing kami yang biasa itu, hilang Pak Sugeng. Sejak hari kamis,” kata saya kepadanya, sesaat sebelum dia pulang.

Biasanya, walaupun saya bergaul dengan para tetangga secara baik, soal-soal peristiwa internal rumah kami, termasuk yang sangat jarang membicarakan atau sekedar memberikan informasi.

Saya bukablah orang yang bertipe suka menceritakan kejadian-kejadiaan si keluarga, suaah atawa senang.

Prinsip saya, biarlah semua kami saja sekeluarga yang “menikmatinya.” Bukan konsumsi umum, meski boleh jadi sekedar yang ringan-ringan sekalipun.

Dengan para tetangga saya lebih banyak bicara yang terkait urusan bersama, atau informasi umum saja. Selebihnya sekali-kali melucu atau humor.

Sebaliknya hari itu berbeda. Tumben-tumben hari itu saya mau bercerita kepada Pak Sugeng, seperti ada yang mendorong saya di “injuri time” kepulangnya, saya memberitahu soal lenyapnya Clearky.

“Ah? Bener ya? Kapan itu ?” tannya, setengah terkejut.

“Kenapa?” saya balik bertanya. “Betul kok, anjingnya hilang.”

“Hari itu ada pengumuman diari mesjid, ada anjing berkeliaran di luar depan mesjid. Terus dipengumuman itu, ditanya-tanya, anjing siapa? Karena saya gak begitu kepentingan, selebihnya saya tidak begitu dengar jelas lagi,” tuturnya.

Pak Sugeng menjelaskan , yang mengumumkan langsung Pak Uzatad, ketua pengurus mesjid dekat rumah kami. “Oh gitu ya?” ujar saya.

“Nanti coba saya tanya gimana cerita selanjutnya,” kata Pak Sugeng.

Setitik Harapan

Tak salah lagi, bagi saya itu pasti si Clearky. Di sekitar tetangga kami hampir tak ada yang memelihara anjing.

Bukan tradisi di lingkungan saya tinggal orang memelihara anjing. Sedangkan anjing dari jauh, kecil kemungkinan sampai datang ke daerah seputar kami.

Saya tak ragu sama sekali, anjing itu pasti Clearky.

Bagi kami, meskipun belum jelas apa yang terjadi, setidaknya mulai ada perunjuk.

Saya merasa ini kok seperti setitik cahaya di kegelapan pada saat-saat akhir atau injuri time.

Kalau saya tak bercerita kepada Pak Sugeng, mungkin tak akan ada cerita lanjutan.

Saya langsung minta anak-anak saya untuk mengecek langsung detailnya dari Pak Sugeng.

Segera setelah itu, saya minta pula, anak-anak dan mantu saya, saat itu juga, langsung datang ke rumah Pak Uztad menanyakan soal ini.

Siapa tahu ada titik terang lanjutan. Siapa tahu inilah cara Allah menjawab permohonan doa kami mengenai Clearky. Kami sendiri yakin memang begitu: doa kami dikabulkan.

Berikut ini cerita dari anak mantu saya yang pergi ke rumah Pak Uztad:

Si Clearky tiba-tiba saja sudah nyelonong masuk ke rumah Pak Uztad.Clearky ditemukan di belakang bagian rumah Pak Ustad.

Tidak tahu caranya bagaimana. Pak Uztad sendiri tak faham bagaimana Clearky dapat masuk sampai ke sana..

Clearky ditemukan dalam basah kujub kehujanan. Badanya mengigil.

Lantaran sama sekali tidak terbiasa dengan anjing, Pak Uztad mengumumkan lewat pengeras suara mesjid, ditemukan anjing dan pemikiknya diminta mengambil anjing itu.

Tapi sudah berkali-kali diumumkan tidak ada juga yang datang.

Tentu kami sekeluarga tidak mendengar pengumuman itu, karena sedang tidak di rumah. Kami sendang pergi dari pagi sampai malam.

Walhasil tak pernah mengetahui apapun adanya “pengumuman” lewatbsuara pengeras suara mesjid.

Setelah pengumuman tak ada juga yang datang mengambil anjing itu, lantas oleh Pak Uztad anjing diserahkan kepada anak-anak muda yang suka mangkal dan mengatur-ngatur parkir di masjid dan lalu lintas pertigaan dekat mesjid. Salah seorang di antarany bernama Arif.

Cuma Tahan Dua Hari

Menurut penuturan Arif, sebelum dianter kepadanya, anjing itu sempat mau tertabrak mobil, tapi untung supirnya sempet ngerem. Selamatlah anjing itu.

Tak hanya itu. Ada seorang pengemudi mobil perempuan, begitu melihat anjing ini, sempat turun mobil.

Rupanya anjing itu mau diambilnya. “Saya larang. Saya bilang itu anjing ada yang punya,” kata Arif menerangkan.

Maka dipeliharalah anjing itu oleh Arif. Waktu dipelihara Arif, banyak temannya mengusulkan agar anjing itu dijual aja.

”Kan anjing bagus, pasti deh laku,” kata salah satu temanya. Sebaliknya , entah kenapa, Arif bersikukuh dia tak mau menjualnya. Dia ingin memeliharanya, padahal dia bukan pengemar anjing.

Cuma hasrat hati arief dan kenyataan berbeda. Arif cuma mampu bertahan memelihara anjing itu dua hari saja.

“Gak kuat kasih makannya,” katanya. Apalagi keluarganya juga tak setuju dia pelihara anjing.

Atas inisiatif Arief, dia menelpon selter anjing Pejaten dan bercerita ada anjing tidak bertuan di rumahnya sudah dua hari.

Dia minta agar Selter Pejaten mengambilnya. Tak berapa petugasnya memang datang mengambil anjing itu. Katanya dibawa ke sekter anjing Pejaten.

Ketika anak mantu ketemu Arief, beruntungnya Arif mencatat nama petugas yang menjemput anjingnya lengkap dengan nomor telepon.

Anak mantu saya minta nomer telepon itu, dan langsung menelpon sunpetugas. Nama dan telepon benar. Orang disana meminta langsung aja datang ke selter Pejaten….

Kisah Nyata Melacak si Clearky (5)

Pertemuan Mengharukan

Selter anjing Pejaten. Kadang anjing berderet di kiri kanan. Suara gonggong anjing terus terdengar dimana-mana. Hampir semua jenis anjing ada disini.

“Mungkin ada sekitar seribuan anjing disini,” kata mantu saya melaporkan lewat telepon.

Di selter itu anak mantu kami disambut seorang dokter hewan sekaligus pemilik selter itu.

Dia seorang wanita setengah baya. Ada raut-raut keturunan bule. Dirinya ditemani dua staf lelaki yang mengurus anjing disitu.

Ketika anak mantu saya datang, wajahnya tidak bersahabat. “Jutek banget wajahnya waktu itu,” kata mantu saya lagi.

Apa soal rupanya? Si ibu rupanya tak suka kalau ada pemilik anjing sampai anjingnya lepas.”Kenapa sampai dua hari baru dicari?” katanya ketus kepada mantu saya.

Walaupun sudah diperlihat foto-foto Clearki di HP oleh anak kami, pencarian apakah anjing itu Clearky atau bukan, apakah benar Clearky ada disana atau tidak, berjalan lambat.

Dua petugas masuk ke bagian dalam deretan kandang, dan setelah agak lama, Clearky tak juga ketemu. Memang mencari anjing tertentu di sekian banyak anjing bukan perkara mudah. Jadi kami harus maklum.

Sementara mantu saya terus mengajak Ibu tersebut berbicara. “Lupa saya siapa namanya,” tutur mantu.

Dengan sabar mantu saya menerangkan kepada perempuan itu, apa yang sebenarnya terjadi, termasuk kenapa baru beberapa hari si Clearky dicari. Barulah perlahan-lahan, hati perempuan itu terbuka dan luluh juga. Wajahnya cepat menjadi ramah.

Moment Mengharukan

Sedangkan anak Sulung saya sudah ikut masuk ke deretan kandang. Di bagian depan, dia mendengar gonggong anjing yang sangat akrab dengan dirinya: Clearky.

Rupanya Si Clearky ada di kandang bagian depan. Kok anak saya biaa mengetahui gonggong si Clearky?

“Dia gonggongnya khas. Beda dengan yang lain. Lagipula karena setiap hari mendengar, saya hafal,” jawabnya.

Setelah bertanya dan minta izin, apalah Si Clearky boleh di keluarkan dari kadang, dijawab boleh.

Maka dipanggilah nama Clearky. Betul saja itu Clearky. Buntutnya bergoyang-goyang.

Waktu kandangnya dibuka, Si Clearky langsung berlari menju si Sulung.

Wajah anjing itu terkihat berbinar. Anak saya pun menyambut tidak kalah antusias. Maka terjadilah pertemuan yang mengharukan antara anak Sulung saya dengan Clearky.

Anjing itu langsung mempercept langkahny berlari menghampiri anak Salung kami.

Setelah berjumpa, anak sulung kami mengangkat Clearky dan memeluknya erat-erat.

Ada embun air mata di kelopak matanya tanda haru dan bahagia dapat berjumpa kembali dengan anjing kesayangannya.

Sebenarnya, untuk mengambil lagi Clearky harus melalui proses adopsi kembali. Selter harus survei ke rumah lagi untuk memastikan yang mau mengadopsi mempunyai kelayakan ekonomi dan rumah tinggal yang pantas atau tidak buat memelihara anjing.

Itu sudah standar opersional selter.

Tapi khusus buat si Clearky karena kami punya buku nomer kuping dan stambow atau asal usul keturunan, serta kebetulan petugas surveynya , sedang tidak ada, memperoleh pengecualian boleh dibawa pulang langsung.

Si ibu pemilik selter sendiri melihat hal ini sudah berubah total. Sudah sangat ramah dan berempati.

Dia bahkan menceritakan di rumahnya yang tak jauh dari situ, ada juga anak anjing shih tzu.

Anjing itu baru kemarin datang. Pemiliknya datang naik mobil, lantas meninggalkan sang aniing itu begitu saja disitu. Tanpa pesan. Tanpa keterangan sama sekali.

“Boleh dilihat di rumah saya,” kata dokter hewan itu.

Untuk menghormatiya yang sudah menampung Clearky, anak mantu saya pergi melihatnya di rumah itu. Memang ada dua shih tzu diaitu.

Satu yang sudah lama yang mengalami masalah pengelihatan. Bola matanya seperti agak keluar. Dan satu lagi shih tzu betina umur sekitar satu atau dua tahun.

Anjing terakhir inilah yang ditinggalkan begitu saja tanpa pesan apapun oleh pemiliknya.

Sampai di rumah kami, si Clearky tercium sangat bau. Bulunya juga kotor. Besok nya dimadikan anak kami, saya di rumah memakai shampo khusus.

Rupanya masih bau juga. Dua hari kemudian dibawa ke salon khususnya.

Barulah dia kembali wangi dan hidup normal kembali bersama keluarga kami….
Si “anak hilang” sudah kembali. Dia senang kami pun bahagia***

S E L E S A I

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »