Ketika Anil Menyaksikan Pondoknya Terbakar – Peristiwa

[ad_1]

Kala itu, Kamis (26/8), waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Di saat yang sama, Anil, santri Pondok Pesantren Hidayatullah, Kenten Laut, Palembang, Sumatera Selatan, bersama teman-temannya tengah bersiap menuju masjid untuk melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah.

Seperti biasa, sepanjang perjalanan menuju masjid, Anil dan santri lainnya saling melempar candaan. Hingga langkah mereka pun sampai di masjid. Selepas mengambil air wudhu, Anil dan teman-temannya melaksanakan sholat sunnah.

Namun ada hal yang tak terduga. Setelah salam, Anil mendengar suara bergemuruh datang dari arah asramanya. “Kebakaran, kebakaran!,” terdengar teriakan yang bersahutan.

Anil pun yang mendengar teriakan tersebut sontak keluar dari masjid untuk memastikan keadaan di sekitar. Dalam benaknya berharap bahwa teriakan yang ia dengar tadi tak benar.

Namun, betapa kagetnya Anil setelah melihat apa yang terjadi di depan matanya. Ya, asrama pondok pesantrennya terbakar. Ia menyaksikan orang-orang sudah ramai hendak menyelamatkan barang-barangnya. Tak terkecuali teman-temannya. Namun, aksi itu dihentikan oleh para asatidz.

“Orang sudah ramai sekali dan teman-teman asrama saya berlarian ingin menyelamatkan barang di kamar masing-masing, tetapi ditahan oleh ustadz dan ustadzah demi keselamatan kami,” ungkap Anil mengingat kejadian itu.

Dalam benaknya sama sekali tak terpikirkan barang-barang. Hanya satu hal yang ia khawatirkan yakni adiknya. Ya, ia yakin adiknya tengah tertidur di asrama sewaktu dirinya bersiap menuju masjid. “Bagaimana kondisinya, Yaa Allah?” begitu ucap hati Anil dengan cemas.

Dari sisi yang berbeda terdengar teriakan lain. “Adzan.. Adzan.. Semua itu setan, ayo adzan agar api padam,” teriakan terdengar jelas di telinga Anil.

Dengan perasaan yang bercampur aduk, Anil pun langsung mengumandangkan adzan. “Tak pikir panjang, saya langsung adzan sekuat-kuatnya, dan menguatkan teman-teman saya yang sedang menangis histeris,” tuturnya.

“Jika kita hanya menangis, tidak ada dampak apa-apa!” begitu kira-kira pesan Anil kepada teman-temannya.

Butuh waktu 30 menit untuk memadamkan kobaran api. 30 menit yang begitu lama bagi Anil dan teman-temannya. Selama itu pula semua doa sudah mereka ucapkan.

Api telah padam, namun tak begitu dengan kesedihan Anil yang justru semakin menjadi. Setelah si jago merah padam, ia tak mendapati satu pun barang-barangnya yang terselamatkan. Semua habis terbakar.

“Dibantu dengan tetangga dan pemadam kebarakan, tak ada barang kami yang tersisa hanya baju di badan, dan yang paling menyedihkan adalah buku-buku Islami kami yang habis terbakar,” ujar Anil bersedih.

Hari demi hari pun dilalui Anil. Sejak kejadian itu, banyak orang datang ke Pondok Pesantren Hidayatullah, termasuk PPPA Daarul Qur’an Palembang. Kedatangan PPPA Daarul Qur’an Palembang adalah untuk menyampaikan amanah dari para donatur berupa bantuan untuk para santri.

Dalam kunjungan yang dilakukan pada Senin (30/8) itu, PPPA Daarul Qur’an Palembang menyalurkan bantuan berupa uang tunai, sembako dan baju untuk para santri.

Harapan Anil dan teman-temannya sangat sederhana, yakni dapat belajar, mengaji dan menghafal Al-Qur’an seperti biasa. Itu sudah cukup untuk mengganti semua yang hilang terbakar.

“Saya sering ketemu kakak-kakak PPPA Daarul Qur’an Palembang di Rumah Tahfidz dulu tempat saya mengaji… Semoga kakak-kakak sehat selalu dan kami di sini bisa belajar kembali,” kata Anil. []



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »