Ibarat Kerumunan, Media Digital Bisa Apa?

Di masa pandemi ini penting sekali memiliki digital skills karena sebagian besar kegiatan dilakukan secara online.

Arief Yudi Rahman, Maestro Seni Media Baru Kemendikbud 2018, mengibaratkan media digital ini sebagai kerumunan.

Selaku pengguna, kita harus mampu memilah, menyeleksi, serta menegaskan apa yang kita butuhkan dan kita cari. Sementara itu, kesulitannya adalah mengarahkan bagaimana kita di kerumunan tersebut.

“Setelah pandemi ini kita semakin merasakan bagaimana media digital ini menjadi sangat akrab. Ada grup Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Youtube,” tutur Arief, selaku pembicara dalam Webinar Literasi Digital di wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (28/7/2021).

Kemudian, kita bisa melihat dari karakter kerumunan masing-masing ini. Bagaimana kemudian di kerumunan ini kita bisa membuat orang membaca konten kita. Kerumunan ini seringkali digunakan untuk hal negatif yang cepat meledak.

Arief mencontohkan, dalam grup Relawan Jabar Baik di platform Whatsapp yang aktif di masa pandemi.

Grup menjadi aktif karena menjadi relawan untuk membantu di wilayah Majalengka, menyediakan peralatan medis dan sebagainya. Kemudian, ini juga disebar secara terus-menerus.

Grup Whatsapp ini merupakan contoh sederhana dari respon di masa pandemi. Artinya, kesadaran teknis dan skill berjalan sesuai dengan semestinya.

Ia juga memaparkan program dari Jabar Baik, yaitu Hit&Run Free Food di mana pada program ini bekerja sama dengan rumah tuli untuk memasak makanan dan dibagikan kepada pasien covid yang sedang melakukan isolasi.

Pergerakan ini pun dibawa hingga ke sebuah museum kontemporer di Korea Selatan untuk dipamerkan secara virtual.

Baca juga: SUDAHKAH KITA MEMANDANG KE ATAS?

“Jadi dari kerumunan grup yang sederhana ini, kemudian menjadi sebuah gerakan yang lama-lama bergulir dan membangun kesadaran-kesadaran baru. Saya kira ini bisa dilakukan oleh lebih banyak orang. Lalu, bagaimana kita memiliki kemampuan yang cakap di arena yang baru,” jelasnya.

Adanya pandemi juga mempermudah kegiatan negosiasi virtual. Secara anggaran juga, kegiatan ini lebih memakan sedikit budget.

Selain itu juga, mudahnya diplomasi digital untuk mencari kesepakatan secara budaya politik dan ekonomi.

Arief juga menyatakan, pandemi ini melatih kita untuk menuju kehidupan virtual di masa depan dan menjadi kebiasaan yang tidak bisa kita hindari.

Akan tetapi, pandemi ini juga memperlambat roda pembangunan yang sifatnya aksi reaksi. Infrastruktrur yang sudah dibangun secara masif tidak bisa digunakan secara cepat karena adanya pembatasan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (28/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Ace Herdiana (Penggiat Komunitas), Shandy Susanto (Dosen Podomoro University), Fitria Angeliqa (Anggota Japelidi dan Dosen Universitas Pancasila), dan Lady Kjaernett.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Ibarat kerumunan, Media Digital Bisa Apa?

Baca juga: Socrates — The Secret Of Success

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »