Menanti Kearifan Pemimpin Bagai Menunggu Godot – Analisa

[ad_1]

Sebagian pemimpin tidak menyukai poster-poster protes maupun mural-mural pengungkap perasaan hati kaum marjinal. Sebagian pemimpin barangkali bertelinga tipis sehingga mudah panas tatkala mendengar kritik dari masyarakat. Sebagian lainnya menutup mata dan telinga dari hal-hal yang disuarakan rakyat, sebab bila hal-hal itu diperhatikan malah bikin susah tidur.

Mengapa ada pemimpin—atau yang dianggap pemimpin, atau yang menganggap diri pemimpin—yang bersikap acuh tak acuh terhadap kesukaran hidup dan keluhan orang-orang yang ia pimpin? Ada banyak alasan. Pertama, mereka bersikap seolah-olah yang dipimpin sedang baik-baik saja, sehingga mereka lebih senang berasyik masyuk mengerjakan apa saja keinginan mereka walaupun itu tak terkait dengan urusan terpenting orang-orang yang dipimpin. Para pemimpin ini menganggap protes, kritik, dan sumbang saran itu sebagai interupsi yang mengganggu kesibukan, keasyikan, dan kenyamanan.

Kedua, sebagian pemimpin bersikap tidak mau tahu dan mengaku sudah terlampau banyak persoalan yang harus ia tangani; atau ia berkata bahwa persoalan itu bukan urusannya—cara menghindar yang terlihat gamblang. Banyak bawahan yang kemudian bersikap sebagai pelindung atasan dengan mengatakan bahwa itu bukan urusan blio, itu sudah ada yang menangani, jangan semua urusan dibawa kepada blio, dst. Bawahan yang cerdik mengambil hati memang cenderung menjadi pelindung yang sigap bagi atasannya.

Ketiga, sebagian pemimpin mungkin saja membiarkan persoalan tertentu tetap berjalan seperti yang sudah terjadi. Ia tidak melakukan intervensi walaupun masyarakat luas mengritik penanganan persoalan itu. Mengapa ia membiarkan itu terjadi? Tak lain karena ia melihat ada keuntungan yang bisa dia peroleh dari cara bawahannya atau orang lain menangani persoalan itu. Jika sudah menguntungkan dirinya, untuk apa intervensi? Ia tidak mempedulikan kritik masyarakat.

Keempat, sebagian pemimpin lebih suka diam saja, berpura-pura tidak tahu-menahu, atau bahkan menutup mata dan telinga terhadap suara publik, sebab ia tahu kritik itu akan reda sendiri. Biarkan saja, lama-lama kritik itu akan reda. Pemimpin ini tahu bahwa rakyat tidak akan mampu bertindak lebih jauh; yang bisa dilakukan rakyat hanya protes dan protes tanpa kekuatan. Pemimpin ini juga tahu bahwa keinginannya akan tetap terwujud tanpa ia perlu mengerahkan tenaga dan pikiran untuk intervensi atau meredam protes dan kritik.

Dengan membiarkan suatu peristiwa terjadi atau masalah tetap bertahan, para pemimpin ini menuai keuntungan tanpa kerumitan. Situasi masyarakat yang bebas memprotes dan mengkritik tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menarik perhatian para pemimpin, apalagi menekan para pemimpin untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Selama pemimpin melihat ada manfaat dari tindakan tertentu yang diambil oleh bawahannya, meskipun protes publik, mereka akan memilih untuk tetap diam dan membuang tubuh. “Masak semuanya serahkan padaku,” menjadi ungkapan favorit pemimpin ini dengan sikap acuh tak acuh yang sangat diharapkan rakyat atas kebijaksanaannya sebagai pemimpin.

Banyak pemimpin baru membuka mata dan telinga mereka sementara mereka ingin melihat apa yang ingin mereka lihat dan ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Pemimpin ini tidak siap untuk kejutan kecuali yang menyenangkan. Ia juga tidak menyukai penolakan. Tidak heran orang-orang di sekitarnya mencoba menyenangkan para pemimpin ini dengan hanya memberi mereka informasi yang menggairahkan mereka dan menjadwalkan kegiatan yang menggairahkan mereka. Pemimpin seperti ini dapat ditemukan di mana saja di muka bumi ini.

Rakyat yang sedang menanti tanggapan kearifan pemimpin akhirnya harus menanti lama, lamaaaaaa sekali, bahkan hingga akhirnya rakyat tahu bahwa mereka tengah menunggu Godot. >>



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »