Indonesia Butuh Pemimpin yang Beretika dan Bermoral, Bukan Hasil Pencitraan Survei – RagamNews.com

Biskuit Made in Indonesia Tembus Pasar Ritel Besar Meksiko, Terbuka Juga Peluang bagi UMKM – RagamNews.com

[ad_1]

JAKARTA, RagamNews.com – Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengingatkan pentingnya membumikan kembali semboyan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. 

“Saat memberi kata pengantar untuk penerbitan buku 1 Abad Tamansiswa, saya sampaikan pentingnya membumikan kembali semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang digagas Ki Hajar Dewantoro,” kata LaNyalla, dikutip dari lanyallacenter.id, Jumat (17/6/2022). 

Semboyan itu bermakna, Ing Ngarso Sung Tulodo diartikan seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan. Ing Madyo Mbangun Karso, artinya seseorang di tengah kesibukannya harus mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani, seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Hal tersebut disampaikan LaNyalla dalam Silaturahmi Elemen Masyarakat Presidium Nasional Majelis Permusyawaratan Bumiputra Indonesia di Gedung B DPD, Senayan, Jakarta, Kamis (16/6/2022). 

Dijelaskan LaNyalla, semboyan itu mengingatkan tentang pentingnya etika, moral, budi pekerti atau akhlak. Inilah yang seharusnya menjadi esensi dari tujuan pendidikan nasional bangsa.

“Sehingga, kita akan menghasilkan kaum terdidik atau intelektual yang beretika, intelektual yang bermoral. Dan intelektual yang berbudi pekerti luhur seperti para pendiri bangsa kita,” terangnya.

LaNyalla menyebut, kaum terdidik atau intelektual yang beretika dan bermoral itulah yang harus menjadi para pemimpin bangsa. 

“Mereka inilah para hikmat yang memiliki kebijaksanaan. Mereka inilah yang harus ditimbang pendapatnya dalam musyawarah untuk menentukan arah perjalanan bangsa,” ucap dia. 

Lebih lanjut, LaNyalla menilai bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin intelektual yang beretika dan bermoral, bukan hasil dari pencitraan dan survei untuk membentuk persepsi masyarakat. 

“Bukan mereka yang lahir dari pencitraan dan survei-survei yang dibuat untuk mempengaruhi persepsi publik. Karena popularitas sama sekali tidak ada hubungannya dengan etika, moral dan akhlak. Karena Iblis pun sangat populer,” sindirnya. 

LaNyalla juga tidak sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa untuk membenahi Indonesia yang karut marut dan salah arah ini, harus diawali dengan membenahi hukum, membenahi ekonomi, membenahi birokrasi dan lainnya yang bersifat sektoral dan parsial. 

“Bagi saya, untuk memperbaiki Indonesia, harus dimulai dengan memurnikan kembali demokrasinya. Artinya, mengembalikan demokrasi, yang selama ini digenggam kalangan oligarkis yang rakus, kepada kaum intelektual yang beretika, bermoral dan berbudi pekerti luhur,” katanya. 

LaNyalla mengatakan, Indonesia merdeka oleh kaum intelektual, kaum yang beretika, bermoral dan berbudi pekerti luhur, yaitu para pendiri bangsa ini.

Sayangnya, ungkap LaNyalla, kondisi saat ini sangat terbalik. Sebab, Indonesia telah meninggalkan mazhab ekonomi pemerataan dengan mengejar Pertumbuhan Domestik Bruto yang berbanding lurus dengan Tax Rasio. 

Selain itu, kata LaNyalla, Indonesia telah meninggalkan perekomian yang disusun atas azas kekeluargaan, dan membiarkan ekonomi tersusun dengan sendirinya oleh mekanisme pasar. 

“Inilah yang saya sebut dengan kita sebagai bangsa telah durhaka kepada para pendiri bangsa. Kepada para pahlawan yang merelakan nyawanya, dengan dua pilihan kata saat itu, yaitu Merdeka atau Mati!” ujar Alumnus Universitas Brawijaya Malang itu. 

Menurutnya, semboyan tersebut kini terasa absurd. Padahal itu semuanya dilakukan para pejuang terdahulu demi kemerdekaan, demi perwujudan kecintaan kepada tanah air, dan demi satu harapan mulia yaitu agar tumbuh generasi yang lebih sempurna. 

“Tetapi yang tumbuh hari ini adalah oligarki ekonomi yang menyatu dengan oligarki politik untuk menyandera kekuasaan agar negara tunduk dalam kendali mereka,” ungkapnya. 



[ad_2]

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »